Bertemu Asisten Ahok: Menyiapkan Diri untuk Kembali

Salah satu asisten Gubernur Jakarta Pak Ahok, yang bernama Michael Sianipar, beberapa hari lalu mengunjungi komunitas Indonesia di Boston. Setelah hari Rabu (14/9) kemarin mengisi acara berbagi pengalaman dengan Permias Massachusetts, hari Kamis (15/9) kemarin anak-anak AIS-MIT (Association of Indonesian Students at MIT) juga makan malam dengannya dan berbicara lebih lanjut soal masa depan sains dan teknologi di Jakarta khususnya, dan Indonesia secara umumnya.

Ada beberapa poin menarik yang didiskusikan oleh kami. Akan kusampaikan dengan singkat, ya.

Disclaimer: Mungkin teman-teman pembaca akan berpikir bahwa ada unsur politik di postingan kali ini, yang akan saya bantah. Saya bukan warga Jakarta, dan ini bukan kali pertama politisi datang ke MIT. Sebelumnya, Menteri Kelautan, Ibu Susi, dan Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil, bahkan Wakil Menteri Pendidikan pernah ke sini.

Mari kita mulai dengan background Michael yang cukup menarik. Umurnya masih muda, di bawah 30 tahun, dan ikut serta dalam tim Ahok begitu dia lulus S1-nya di Korea (Selatan, sepertinya, tidak mungkin Utara, bukan?). Setelah belajar Ilmu Politik di sana, dia berkesempatan ‘mencoba langsung’ di lapangan, begitu Ahok terpilih menjadi Wakil Gubernur Jakarta beberapa tahun silam.

Yang menarik adalah, bagaimana pasangan Jokowi-Ahok melakukan reformasi birokrasi. Bagiku dan teman-teman lain di Boston (dan MIT), yang ‘terputus’ dengan informasi objektif bagaimana keadaan di Indonesia sekarang, rasanya menarik mendengar informasi yang diutarakan Michael.

Contohnya, bagaimana Jakarta merevolusi penanganan sampah di sungai mereka. Konon, tiap tahunnya, untuk mengurus sampah di bantaran sungai di Jakarta, dibutuhkan biaya hingga 1 triliun! Sepertiganya digunakan untuk mengeruk sampah, sepertiganya diperlukan untuk memindahkan sampah ke tempat pembuangan akhir, dan sepertiganya lagi digunakan untuk mengurus sampah di TPA. Oleh Jokowi-Ahok, anggaran ini dihapus seutuhnya, karena sudah ‘dimafiakan’. Ada orang-orang yang berkepentingan, sehingga mereka bisa tetap mendapat ‘jatah’ dari 1 triliun. Setelah dihapuskan, Jokowi-Ahok menganggarkan pembelian truk sampah, pengeruk, dan sebagainya, agar tidak perlu menyewa dari swasta/ dikontrakkan, untuk meminimalisir kemungkinann ‘dimafiakan’.

Contoh lainnya adalah bagaimana Jokowi-Ahok ingin membuat birokrasi lebih transparan. Michael bercerita bagaimana susahnya membuat orang-orang yang berstatus PNS bekerja secara benar (karena status mereka yang relatif permanen, insentif mereka cenderung rendah). Setelah undang-undang dibuat (aku lupa namanya, maaf, haha), lurah dan camat yang tidak bekerja secara benar bisa dengan mudah diganti dengan orang-orang yang lebih kompeten, meskipun mereka dari swasta. Sayang sekali, undang-undang yang satu ini belum diputuskan peraturan pemerintahnya, jadi lingkupnya benar-benar masih terbatas. Bagaimanapun, aparatur negara agak reluctant meloloskan peraturan yang bisa membuat posisi mereka digeser di masa depan, bukan? Tetapi, jika peraturan ini sudah diterapkan, siapapun yang kompeten bisa mengambil bagian di pemerintahan, dan siapa yang tak bekerja dengan serius bisa tergeser, yang tentu saja bisa membuat pemerintah lebih efektif dan efisien.

Michael sengaja mengagendakan waktunya untuk bertemu anak-anak MIT untuk mendengar apa yang haru disiapkan pemerintah sekarang, supaya di masa depan, Indonesia bisa lebih siap menerima talenta-talentanya yang lebih diapresiasi di luar negeri untuk kembali.

“Jujur nih. Menurut gua, iklim bisnis di Indonesia makin baik. Startup-startup baru banyak yang bermunculan. Orang-orang ahli bisnis, ahli hukum, yang dulu mikir dua kali untuk pulang, sekarang malah mau pulang sendiri. They choose to come back. Sayangnya, hal yang sama masih susah untuk bidang-bidang tertentu seperti sains, teknologi. Gua ada teman lagi Ph.D. di immunology, dan dia tanya gimana caranya dia bisa pulang. Gua bilang ke dia, kalau untuk sekarang lebih baik dia di sini dulu. Mungkin 10 tahun lagi, setelah segala sesuatunya kita siapkan di Indonesia, dia bisa share expertise-nya di Indonesia.”

“Makanya, gua minta saran, kira-kira apa saja hal yang harus pemerintah siapkan, supaya iklim sains, teknologi kita lebih kondusif.”

Dengan semangat, teman-temanku di MIT memberikan berbagai saran, mulai dari bagaimana meningkat curiosity orang-orang di ruang yang terbuka seperti taman, patung, mall, yang mana tak harus di museum, hingga saran tentang sistem pendidikan di Indonesia, dan suntikan dana dari pemerintah dan perusahaan luar yang memiliki basis di Indonesia untuk menarik talenta-talenta Indonesia yang lama berkecimpung di luar negeri.

Selain itu, kami sendiri di sini sadar, bahwa usaha meningkatkan bidang sains dan teknologi di Indonesia tidak bisa hanya dilakukan satu arah, dari pemerintah di Indonesia. Kami juga harus mulai melakukan sesuatu, mungkin dimulai dengan membuat database mahasiswa-mahasiswa di sini dan apa bidang keahlian mereka. Kadang, orang-orang di Indonesia sendiri tidak tahu kalau beberapa orang Indonesia di luar ahli bidang-bidang tersebut, dan tak ada yang bisa menghubungkan.

Selama dua pertemuan kemarin itu, aku tidak banyak bicara. Hanya berkali-kali mengangguk. Kalau ditanya, “Apa yang ada di pikiranmu?” mungkin aku akan menjawab: banyak sekali. Ada banyak ide-ide yang belum terealisasi, tetapi sejujurnya, aku sendiri masih skeptis dengan pemerintah. Tapi, seperti yang Michael katakan, harapan itu masih ada. Ada banyak politisi-politisi di luar sana yang mulai memikirkan kepentingan masyarakat luas, bukannya memikirkan bagaimana balik modal dari pemilihan umum, atau makin memperkaya diri sendiri.

Bagiku sendiri, mungkin aku harus mulai mengikis rasa skeptis tersebut. Tiap kali ditanya orang-orang, aku selalu berkata, “Tentu saja aku ingin pulang, in long term.” Jika memang begitu, aku harus menyiapkan diri, dan tidak ‘memutuskan’ diriku dengan perkembangan-perkembangan di Indonesia. Karena ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kejadian hari ini, yang akan menjadi sejarah di masa depan, bukan? Manusia yang pintar itu, yang belajar dari sejarahnya, dan tidak jatuh ke lubang yang sama di masa depan.

Semoga juga, aku bisa bermanfaat untuk Indonesia di masa depan, terutama saat aku sudah pulang. Tidak menjadi beban negara, tidak menjadi parasit.

P.S. Pemerintah Jakarta membuka program magang 4 bulan di balaikota. Mungkin ada baiknya, bagi orang-orang seperti aku (dan mungkin beberapa dari kalian) yang sering tidak puas dengan keputusan pemerintah, untuk terjun langsung ke lapangan dengan ikut program ini. Informasi spesifiknya, aku kurang tahu, sayangnya. Mungkin coba Google?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s