Tema Liburan: Acak

Apa persamaan dari: jembatan penyebrangan, mochi es krim, karir, pertemanan, dan Pokemon Go?

Kelimanya adalah ‘tema utama’ dari liburan singkatku di Indonesia, setelah selesai magang (dan jalan-jalan) di Singapura. Meskipun singkat, aku bisa bertemu dengan teman-teman dekatku dan bertukar cerita dengan mereka, bertemu dengan teman-teman jauh, dan bertemu dengan keluarga besar.

Jembatan Penyebrangan

Bagi kalian yang familiar dengan Kota Bandung, kalian tentu familiar juga dengan Bandung Indah Plaza (BIP), bukan? Mall ini boleh jadi salah satu yang terlawas di kota ini, tetapi pengunjungnya tak pernah surut. Kalau kalian perhatikan baik-baik, untuk pergi ke BIP dari Gramedia, atau sebaliknya, kita harus menyebrang jalan. Dulu sih bisa seenak udel menyebrang di manapun, dan jalanan pun dibuat macet karenanya. Sekarang? Marka jalan sudah dipagari, sehingga orang-orang tak bisa menyebrang sembarangan, dan mereka harus naik jembatan penyebrangan.

Bagiku, ini adalah sebuah perubahan positif di Bandung. Mungkin pejalan kaki harus berjalan sedikit lebih jauh serta harus naik tangga, tetapi semoga saja orang-orang sadar bahwa ketertiban itu salah satu aspek kota yang paling penting.

Sedikit tambahan, mungkin bisa dibuat ramp juga, untuk aksesibilitas bagi teman-teman kita penyandang disabilitas.

Mochi Es Krim

Mochi es krim sempat booming sekali di Bandung beberapa tahun terakhir. Enaknya, di depan rumahku ada tokonya, sehingga gampang sekali kalau aku ngidam makanan satu ini, aku tinggal jalan sedikit.

Saat aku pulang, aku terkaget-kaget sendiri. Toko mochi es krim favoritku sudah tidak ada di sana lagi, hilang entah ke mana. Tidak kuduga, mochi es krim rasa teh hijau tahun lalu adalah yang terakhir. Sedih, tetapi apa boleh buat.

Selain itu, restoran bakmi jawa di sebelah toko mochi es krim ini pun berganti kepemilikan. Rasa bakmi gorengnya tak sama lagi. Tahun ini, satu-satunya bakmi enak yang sempat kucoba ada di Yogyakarta.

Aku kadang terpana sendiri dengan selera kuliner masyarakat Indonesia yang berubah dengan cepat, terutama orang-orang Bandung dan sekitarnya. Beberapa makanan bertahan, yang lain menghilang. Yang jelas, makanan tetap penyatu penting keluarga dan teman.

Karir

Banyak temanku yang lulus tahun lalu. Tahun ini, genap setahun sudah mereka bekerja. Kalau saat kuliah dulu mereka hobi membicarakan soal kelas, organisasi, lomba, dan hal lainnya, tahun lalu mereka hobi membicarakan gaji, perusahaan, lowongan kerja, dan skripsi (bagi mereka yang belum lulus). Tahun ini, topik pembicaraan berubah lagi. Beberapa teman masih belum lulus, atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga topiknya masih sebagian kecil sama, ditambah beasiswa, dan mendaftar S2. Yang lain?

Ada yang berbicara soal kapan saat yang tepat untuk mengundurkan diri di perusahaan lama dan mencari peruntungan di perusahaan baru, atau politik di tempat kerja. Beberapa di antara mereka juga mulai bisnis sendiri, dan mencoba bewiraswasta. Masing-masing tentu ada tantangannya sendiri-sendiri. Mereka yang bewirausaha bingung mendapat modal dari mana, karena bunga bank sangat tinggi. Belum lagi soal teken kontrak konsinyasi dengan perusahaan besar. Sedangkan yang bekerja, bingung dengan politik kantor yang kadang banyak dramanya, atau gaji yang tidak mencukupi.

Kalau melihat diriku sendiri, rasanya aku belum menghadapi ‘hidup yang sebenarnya’, dibandingkan dengan mereka. Masih ada setidaknya dua tahun di bangku sekolah sebelum aku memutuskan langkahku selanjutnya. Mungkin pengalaman mereka will come in handy, ketika waktuku di persimpangan, seperti mereka setahun yang lalu/ tahun ini, tiba.

Pertemanan

Serupa dengan karir yang sedang dibangun, pertemanan pun ternyata membutuhkan maintenance yang tidak sedikit. Karena lokasi satu sama lain semakin berjauhan, dan ‘jadwal main’ tidak semudah disinkronisasikan seperti saat sekolah dulu, alhasil, pertemuan dengan teman-teman terpaksa dilakukan di jam-jam tidak biasa (apalagi kalau temanmu kerjanya shift malam, haha). Dibutuhkan rasa pengertian dan kesabaran.

Bagiku sendiri, seringkali aku harus menghadapi teman-teman yang telat karena harus membereskan urusannya masing-masing. Aku baru sadar, betapa tidak sabarannya aku dalam menunggu orang, haha. Rasanya ingin mencabik-cabik orang yang telat terhadap janji mereka. Untung saja, aku tahu kalau keterlambatan mereka tidak pernah disengaja (well, sedikit, karena mereka sering ‘patunggu-tunggu’, jadi kalau hanya baru ada satu orang di tempat janjian, mereka berpikir, ‘Oh, masih bisa datang sejam lagi, aku bisa mandi dulu.’).

Meskipun begitu, orang-orang yang sudah berteman denganku lebih dari satu dekade inilah yang paling jujur dan apa adanya. Mereka selalu blak-blakan dalam memberi saran, dan aku pun tidak keberatan dikritik pedas oleh mereka. Mereka sudah tahu diriku luar-dalam, jadi tak perlu lagi jaim, atau menyembunyikan sesuatu di hadapan mereka. Mereka pasti akan mengerti.

Ah, rasanya seperti cerita di sinetron saja.

Pokemon Go

Aku baru mulai ketagihan Pokemon Go. Betul sekali, terlepas dari isu ‘Aku Yahudi’ dan hal kontroversial yang meliputi permainan satu ini. Semua dimulai ketika temanku, Yahya namanya, pamer kalau dia berhasil mengoleksi semua Pokemon di Pokedex miliknya. Aku pun penasaran, dan akhirnya mengunduh permainan satu ini 😀

Cukup telat, sebenarnya, jika dibandingkan orang lain yang sudah main sejak berbulan-bulan lalu. Aku bahkan tidak berani bertarung di Gym karena semua penguasanya berlevel 23 ke atas. Jadi, sejak kemarin, seperti orang aneh, aku wara-wiri ke sana kemari mencari Pokemon. Bahkan, demi menetaskan telur, aku dan adikku pergi ke tempat yang berbeda naik motor, secara pelan-pelan (supaya dikira oleh aplikasinya aku jogging, haha). Karena Pokemon juga, akhirnya aku pergi ke masjid berbeda-beda di sekitar komplek rumahku, karena masjid-masjid tersebut adalah Pokestop di dunia Pokemon Go.

Saat ini aku masih nongkrong di level 7. Aku belum punya cukup candy agar Pidgeotto, Kakuna, dan Metapod milikku bisa berevolusi sekali lagi. Selain itu, di sekitar rumahku banyak Eevee, Zubat, Pidgey, Weedle, dan Bellsprout. Aku tidak sabar melihat mereka berevolusi. Tetapi rasanya melelahkan juga menunggu salah satu dari mereka muncul setiap 5-20 menit sekali.

Ah, baterai ponselku sudah penuh. Saatnya main Pokemon Go lagi! Dengan ini, aku mengucapkan terima kasih teman-teman dan keluarga yang membuat liburan kali ini penuh warna. Saatnya aku kembali mengejar mimpiku lagi di Amerika. Wassalam!

*mic drop*

Advertisements

2 thoughts on “Tema Liburan: Acak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s