Pengepul Kacang

Namanya Bandiyah. Aku memanggil beliau Bulik Bandiyah, karena masih saudara. Saudara di sini, maksudnya, orang tua beliau dan kakek saya masih satu darah. Kami dipersatukan satu trah, begitu orang Jawa menyebutnya.

Suatu pagi, Mbah Putri meminta aku, kakak, dan adikku untuk pergi ke Bulik Bandiyah. “Kemarin sudah setor hasil panen kacang, mungkin hari ini sudah ada hasilnya. Bisa tolong kalian pergi menemui Bulik?”

Sebagian karena rasa hormat dan sebagian lagi karena rasa penasaran, akhirnya kami mengiyakan. Kakakku, yang pernah bertemu Bulik sebelumnya, bahkan mendorong kami agar datang menemaninya. “Dijamin seru,” begitu katanya. Aku dan adikku hanya mengangkat kedua tangan dan berkata, ‘Kenapa tidak?’

Dengan sepeda motor sewaan dari Yogya, akhirnya kami pergi ke desa sebelah untuk bertemu Bulik Bandiyah. Dari puluhan meter sebelum rumahnya, sudah terdengar suara mesin pemisah kacang. Beberapa ibu-ibu sibuk membuka karung-karung besar berisi kacang, lalu menumpahkannya ke atas plastik di atas lantai teras rumah Bulik. Kemudian, mereka duduk di atas dingklik (kursi kecil), dan mulai menyortir kacang-kacang tersebut. Beberapa bapak-bapak menumpahkan karung-karung besar lainnya ke dalam ember hitam besar. Kemudian mereka menyeretnya ke luar, ke dekat sumber air, dan mencuci kacang-kacang yang masih kotor tersebut.

Ada banyak proses yang terjadi secara bersamaan. Bahkan, beberapa saat kemudian, ada truk sedang yang datang membawa karung-karung besar berisi kacang tambahan. Aku sedikit terpesona melihat semua proses itu terjadi di sebuah rumah di desa kecil di Bantul.

Bulik Bandiyah, segera menghampiri kami yang baru datang dan mencopot helm. Muka beliau riang. “Wah, wong mBandung neng kene seko kapan (orang Bandung di sini sejak kapan)?” Kami tersenyum dan menjawabnya. Seperti biasa, adikku dan aku mendapat pertanyaan lebih: kapan kembali dari luar, dan kapan berangkat lagi ke luar.

Setelah duduk di dalam, salah satu ibu-ibu yang menyortir kacang membawa empat gelas teh manis yang masih panas mengepul. Cerita dimulai dari situ.

“Saya sudah lama sekali mengerjakan ini. Sepanjang tahun. Kadang, kalau di sini sedang tidak musim panen kacang, di tempat lain sedang panen. Truk-truk datang dari Klaten, Brebes, dan tempat lain membawa kacang untuk disortir di sini.”

Mataku menerawang keluar, melihat jumlah karung di sekitar rumah Bulik. Memang banyak.

“Di sini tho ya Dek, orang-orang gengsinya lebih tinggi dengan menjadi pegawai negeri. Coba lihat Pak A itu. Anaknya empat orang, semuanya sarjana. Tiga anak yang pertama, ada yang jadi pengacara, ada yang jadi pegawai kabupaten. Petantang-petenteng (bangga -makna negatif) waktu pulang Lebaran, bawa mobil baru. Tapi lihat anaknya yang terakhir, yang tetap tinggal di sini. Sudah 10 tahun terakhir, dia merintis usaha sendiri, menyalurkan pupuk ke petani-petani di sini. Nggak malu, gitu, padahal gelarnya sarjana.”

Dalam hati, aku merenung. Pernyataan Bulik yang terakhir menarik sekali. Di desa, status itu penting. Lebih baik merantau dan dikenal sebagai orang sukses sewaktu mudik Lebaran, dibandingkan tinggal di kampung dari lahir hingga wafat. Meskipun begitu, banyak yang tetap tinggal di kampung karena tingkat pendidikan yang rendah. Tetapi, seorang sarjana yang memutuskan untuk tinggal di kampung? Berbeda dari kebanyakan!

“Tekun sekali dia itu. Sekarang truknya sudah banyak. Usahanya sudah besar. Tak ada hentinya.”

Kami bertiga hanya bisa berkomentar singkat, “Hebat sekali ya, Bulik.”

“Ya harusnya memang begitu. Bayangkan sekarang, kalau hasil sepetak hanya dua juta, uang yang keluar untuk membayar pekerja, bibit, dan perawatan bisa habis satu juta. Banyak orang yang tidak tertarik lagi bekerja di desa, jadi tenaganya hanya sedikit.”

“Untungnya semakin sedikit karena dipakai membayar pekerja ya, Bulik?”

“Iya. Sekarang jadi banyak sawah yang nggak ada penggarapnya (pekerjanya), tanahnya nganggur (menganggur). Nah, sekarang orang-orang malah menjual tanah nganggur mereka ke orang-orang luar (di sini aku kurang yakin, entah maksud Bulik itu orang luar desa, atau orang luar negeri). Ya, kasihan orang-orang di sini, kan, lama-lama kebutuhan pangannya harus impor dari Thailand, Vietnam. Belum lagi, nanti harganya selangit.”

Lha, wong sekarang satu lubang (sekitar 10 meter persegi), untungnya hanya sepuluh ribu. Orang luar yang mau beli tanahnya berani bayar ratusan ribu sampai satu juta untuk satu lubang. Gimana orang-orang ndak kepingin (bagaimana orang-orang tidak tertarik)?”

Aku mulai membuat kalkulasi di kepalaku sendiri. Jika satu petak ada seratus lubang, berarti satu petak, dihargai seratus juta. Lebih daripada untung yang hanya satu juta sekali panen!

“Ya begitu, Dek. Orang-orang sayangnya ndak mikir jauh, bagaimana kalau nanti pangan mahal, misalnya. Memang sulit jadi petani di sini, musim makin tak tentu. Kadang hujan berhari-hari di musim kemarau, kadang sulit air di musim hujan. Kemarin pun yang nggarap (menanam) melon, semua gagal karena hujan di bulan Juni*.”

*Seperti sajak Sapardi Djoko Damono, bukan?

“Intinya Dek, mau sekolah jauh di Jerman, di Amerika, semua harus mau kembali. Harus ada yang mau mengerjakan hal yang gengsinya rendah. Kalau ndak, nanti kasihan anak cucu kita di generasi selanjutnya.”

Bulik juga sempat menceritakan hal lainnya, seperti pengalamannya umrah, atau menghadiri pernikahan anak pengusaha etnis Tionghoa di Solo. Jenaka sekali saat Bulik bilang, “Iya, ya namanya wong ndeso, takut mencar-mencar (berpencar) di bandara. Akhirnya nggak berani beli makan sendiri di bandara, dan kelaparan. Sampai di Jogja, saya langsung minta Bude di Bakmi Sunami pinggir Jalan Samas di depan itu supaya membuatkan bakmi jawa untuk belasan orang sekaligus,” atau, “Iya, di nikahannya teman saya itu semua orang duduk di meja melingkar-lingkar. Makanan pertama yang datang, hanya ayam saja. Berikutnya, hanya ikan saja. Waktu saya tanya pelayannya, katanya ada 12 makanan yang dihidangkan, ya saya kaget. Setelah makanan keempat, saya undur diri.”

Percakapan sekitar satu setengah jam bersama Bulik Bandiyah terasa sangat singkat. Saat pulang ke rumah Mbah, aku bertanya tentang latar belakang pendidikan Bulik.

“Hanya SMEA, Tan. Tapi pemikirannya hebat, bukan?”

Aku tercenung. Kalau begitu, aku yang sudah sarjana ini harusnya pikirannya lebih hebat lagi, bukan? Mungkin belum, tapi semoga nanti.

Advertisements

4 thoughts on “Pengepul Kacang

  1. Orang luar asumsi saya itu orang luar desa beli tanah buat investasi jadi beralih fungsi dari asalnya.

    “Lha, wong sekarang satu lubang (sekitar 10 meter persegi), untungnya hanya sepuluh ribu. Orang luar yang mau beli tanahnya berani bayar ratusan ribu sampai satu juta untuk satu lubang. Gimana orang-orang ndak kepingin (bagaimana orang-orang tidak tertarik)?” ratusan ribu satu petak masih ada 2016 ? murah bingit..

    canggih juga pemkiran bulik, visioner..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s