Cerita: Mudik Lebaran

Masih ingat seri cerita J yang kutulis beberapa bulan lalu? Karena aku ingin kembali menulis sesuatu yang menyenangkan (dan semoga saja cukup ringan/ tidak terlalu abstrak), musim panas kali ini aku ingin meluncurkan seri cerita baru: Cerita. Cerita-cerita yang diunggah akan berpusat pada satu tema, dan aku akan menulis segala hal dengan satu benang merah tersebut.Semoga saja hal ini cukup menarik untuk rekan-rekan pembaca sekalian. Inilah tema pertama: Mudik Lebaran. Tema pertama, Telepon bisa dibaca di sini.

Memori paling awal bagiku soal mudik kembali ke masa-masaku berumur lima-enam tahun. Kala itu, mendapat tiket kereta rasanya seperti mukjizat, karena benar-benar susah didapat. Apalagi untuk keberangkatan H-3 Lebaran. Kereta api memang menjadi andalan bagi siapapun, karena dia raja di jalanan (bahkan lebih berkuasa dari truk, bus, atau mobil, karena saat kereta lewat, semua harus memberikan jalan).

Sejak kecil, aku sudah familiar dengan satu nama kereta: Lodaya. Semua berawal dari dia.


Lodaya adalah nama kereta untuk jurusan Bandung-Solo Balapan. Karena kedua orangtuaku berasal dari D. I. Yogyakarta, maka kami turun di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami sekeluarga lebih memilih naik Lodaya Pagi, karena dengan begitu, kami tak perlu susah-susah memikirkan makan siang bagaimana (karena makanan di kereta rasanya mahal sekali, meskipun hanya nasi goreng). Lagipula, dengan naik Lodaya Pagi, kami tiba di Tugu sore hari, dan masih ada banyak becak dan bus. Sementara itu, kalau naik Lodaya Malam, selain susah mencari makanan sahur, susah tidur, yang berakibat lelah seharian, jadwalnya pun kurang menguntungkan. Tiba di Tugu Yogyakarta sekitar jam tiga pagi, kami harus naik taksi ke rumah Mbah. Mahal! Belum lagi, kami harus benar-benar awas kalau tidak mau stasiun Tugu terlewat.

Jika keberuntungan sedang tidak bersama kami, apa boleh buat, kami harus naik bus pulang ke Yogya. Andalan keluargaku (lebih tepatnya, andalan ayahku) adalah bus Kramat Jati. Bus satu ini tak kalah populernya dengan kereta api, karena itu, kadang kami pun tak dapat tiket dari bus ini. Mudik dengan moda bus adalah nightmare untuk aku dan kakakku yang sering mabuk darat. Dua barang jadi teman baik kami: pil Antimo, dan kresek plastik hitam, in case someone dropped the bomb.

Suatu Lebaran, tak hanya kehabisan tiket Lodaya, kami pun kehabisan tiket Kramat Jati. Demi pulang dan bersilaturahmi dengan keluarga besar, akhirnya kami membeli tiket bus-yang-aku-lupa-namanya. Yang jelas, bus ini jumlah armadanya kecil dan terbatas.

Sore itu, aku, ibu, kakak, dan adik, sudah siap di terminal bus di Cimahi. Ayah, biasanya mudik terpisah pada hari H Lebaran naik kereta Lodaya Pagi. Biasanya, bus-bus berangkat ke arah Jawa sekitar pukul lima hingga setelah maghrib. Hari itu, karena tak sabar ingin pulang kampung, kami berempat sudah tiba di terminal dari pukul setengah empat. ‘Kepagian’.

Jam berdetak, waktu berlalu. Maghrib sudah lewat, dan bus kami belum masuk terminal juga. Ayah bahkan menemani kami di terminal, dan bertanya dengan PO-nya. Kabarnya, bus yang kembali dari Jawa tersebut terjebak macet di Limbangan-Nagrek, rute termacet di jalur selatan. Aku, kakak, dan adikku sampai tertidur di atas kursi kayu panjang. Ingin merengek pada ibu pun kasihan, karena beliau sudah lelah.

Bus akhirnya tiba sekitar pukul satu malam. Kami pun segera naik dan berangkat ke Yogyakarta. Aku ingat, hari berikutnya aku tetap berpuasa meskipun di bus aku hanya makan roti untuk mengganjal perut. Saat berbuka, aku sombong di depan sepupuku karena berhasil bertahan seharian dengan satu potongan roti saja.

Sekitar tahun 2000-an, akhirnya tabungan ayahku cukup untuk membeli mobil kijang bekas sederhana. Mulai tahun itu, kami resmi ‘naik tingkat’, dan mudik dengan mobil sekeluarga. Bukan tanpa rintangan, beberapa tahun kami harus mudik saat puncak arus mudik dan arus balik. Praktis, 24 jam terbuang di jalan. Bahkan, suatu tahun, kami sempat berhenti dan tak bergerak di Nagrek selama 4 jam!

Yang jelas, mudik naik mobil sendiri, meskipun terkadang harus bermacet-macet ria, menawarkan kebebasan tersendiri. Haus? Tinggal berhenti di Indomaret atau Alfamart. Lapar? Dari 50 km sebelum perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, sudah ada petunjuk RM. Piring Sewu, haha. Kebelet? Tinggal mampir ke SPBU. Waktunya sholat? Tinggal mampir ke mushola atau masjid. Bahkan, sering kali kami mampir makan es dawet ayu di pinggiran jalan antara Kebumen-Purworejo. Jika sedang musim nanas, penduduk lokal pun berjualan nanas di pinggiran jalur mudik.

Sering kali aku miris melihat keluarga muda yang ‘memaksakan diri’ untuk mudik: motor satu, anak dua, suami-istri, oleh-oleh banyak. Kadang kasihan melihat adik bayi yang digendong ibunya sepanjang jalan, bapak yang kelelahan setelah mengendarai motor beratus-ratus kilo, dan adik kecil yang merengek kelelahan.

Romantisme mudik terasa sama hingga gempa Bantul tahun 2006 terjadi. Keluarga besarku terpaksa mengungsi. Kami tak lagi mudik ke ‘rumah yang sama’. Setahun setelahnya, kakekku tersayang meninggalkan kami semua, dan beliau bukan lagi orang pertama yang menjemput kami di pintu rumahnya saat kami tiba di Yogya.

Soal kakek, meskipun aku belum cukup dewasa untuk memiliki meaningful conversation dengannya sebelum beliau meninggal, aku dan sepupuku sering bercanda dengannya. Kadang kami menyembunyikan sarung beliau, atau peci beliau. Kemudian beliau akan mencari-cari dan pura-pura tidak tahu. Hingga akhirnya kami tertawa-tawa bersama.

Satu pesan yang kuingat dari beliau sebelum beliau meninggal, “Belajar yang benar ya. Nurut ibu bapak juga.”

Setelah itu, tahun 2010, aku pun ‘pindah’ ke Amerika Serikat untuk meneruskan studiku. Beberapa tahun di sana, aku tidak bisa mudik ke Indonesia untuk Lebaran. Aku pun akhirnya merasakan bagaimana rasanya merayakan Lebaran sebagai minoritas.

Tahun 2012, ketika akhirnya aku lulus UWC, aku benar-benar senang karena akhirnya aku bisa berpuasa di Indonesia. Sayang, pada saat malam takbiran, aku harus terbang ke Boston untuk memulai semester pertamaku sebagai mahasiswa di MIT. Perjalanan itu, meskipun aku malu mengakuinya, penuh dengan tangis. Saat itu aku memang benar-benar ingin berada di Indonesia untuk Lebaran, tapi apa boleh buat, aku harus berangkat ke kampus.

Tahun 2014, aku benar-benar beruntung karena akhir dari internship-ku di Jerman, menyisakan waktu sekitar 9 hari hingga hari Lebaran. Akhirnya, dengan penuh tekad, aku menjelajahi bagian lain Benua Biru hingga akhirnya terbang dari Charles de Gaulle langsung ke Adisucipto Yogyakarta. Lebaran kali itu, aku berbagi cokelat Jerman dan macaroon Perancis dengan keluarga besarku. Rasanya benar-benar manis.

Tahun 2015, lagi-lagi aku beruntung, karena summer project-ku di India berakhir H-3 Lebaran. Pesawatku dari Thiruvananthapuram, transit di Singapura, tiba di Husein Sastranegara Bandung. Esok harinya, bersama kedua orangtuaku, kami mudik ke Yogyakarta naik Lodaya.

Tahun ini, aku benar-benar beruntung. Professor tempatku menjalankan riset saat ini berbaik hati memberikan beberapa hari ekstra untuk libur Lebaran. Minggu depan aku akan langsung pulang ke Adisucipto dari Changi.

Orangtuaku? Sayang seribu sayang, beliau tidak berhasil mendapatkan tiket Lodaya tahun ini. Fisik ayahku sudah tidak memungkinkan bagi beliau untuk mengendarai mobil di jalur selatan Jawa. Naik bus pun waktunya sulit diprediksikan. Tahun ini, orangtuaku memutuskan untuk naik pesawat dari Bandung, demi Lebaran bersama keluarga besar.

Adikku, tahun ini, adalah tahun keduanya di Jerman, dan dia tak bisa pulang. Mungkin perasaannya sama dengan perasaanku dulu waktu di UWC. Kakakku, saat ini sedang kuliah S2 di UGM, dan dia akan menyambutku di Adisucipto minggu depan.

Selama kakek nenekku masih ada, rasanya kami sekeluarga akan tetap menjalankan tradisi mudik ke Yogya. Tak peduli di manapun kami berada. Walaupun bagiku, rasanya makin terasing, dengan keluargaku yang semakin besar. Pareumeun obor.

Ah, rasanya jadi homesick. Meskipun mudik Lebaran memang tak pernah terasa seasyik sebelum tahun 2006, tetapi rasa hangatnya masih tetap sama.

Mungkin, karena dulu sebelum tahun 2006 juga aku masih dapat uang angpau dari keluarga, ya.

***

Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakan. Semoga amal ibadah kita di Bulan Ramadhan diterima oleh Allah, ya, dan semoga bulan-bulan berikutnya ibadah kita segiat bulan ini. Aamiin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s