Cerita: Telepon

Masih ingat seri cerita J yang kutulis beberapa bulan lalu? Karena aku ingin kembali menulis sesuatu yang menyenangkan (dan semoga saja cukup ringan/ tidak terlalu abstrak), musim panas kali ini aku ingin meluncurkan seri cerita baru: Cerita. Cerita-cerita yang diunggah akan berpusat pada satu tema, dan aku akan menulis segala hal dengan satu benang merah tersebut.

Semoga saja hal ini cukup menarik untuk rekan-rekan pembaca sekalian. Inilah tema pertama: Telepon.

Mungkin generasi yang sepantaran denganku mengerti betul revolusi signifikan dari telepon; saat kami lahir, pager dan telepon rumah mungkin masih jadi andalan. Tetapi sekarang ini, handphone atau telepon genggam telah menjadi raja; bahkan mereka dilabeli ‘pintar’, seperti ponsel pintar.

Telepon memiliki cerita sendiri untukku.


Aku bersekolah di sebuah SD yang jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer dari rumahku. Cukup dekat, namun kaki-kaki kecilku membutuhkan waktu lebih lama untuk menempuhnya, sekitar 30-40 menit. Betul sekali, aku sempat iseng jalan kaki dari sekolah ke rumah demi menabung seribu dua ribu demi membeli komik serial cantik.

Dulu aku sering diantar jemput. Sebelum berangkat ke sekolah, ayahku akan mampir ke toko kelontong dan membelikanku wafer Tango isi enam (masih adakah sekarang?). Kemudian beliau akan menurunkanku di depan pintu gerbang sekolah. Kucium tangannya, dan aku pun siap memulai hariku sebagai siswa putih merah. Saat pulang sekolah, beliau tahu jadwalku, dan biasanya akan menungguku pulang di luar gerbang. Namun, kadang aku memiliki jadwal tersendiri setelah pulang sekolah, sehingga aku harus menelpon beliau untuk menjemputku.

Ada satu telepon koin dekat kantor gugus depan tempat aku biasanya menelpon. Dengan koin 200 rupiah, aku bisa menelpon rumah. Antreannya kadang panjang mengular saat jam pulang, atau kadang, tak ada antrean sama sekali karena teleponnya tak berfungsi. Karena itu, kadang aku harus berjalan keluar sekolah menuju satu wartel (warung telepon) untuk menelepon rumah.

Cara mengoperasikannya cukup gampang: aku cukup mengangkat gagang telepon, memasukkan koin, kemudian menunggu hingga teleponnya diangkat. Jika sudah diangkat, dari telepon terdengar bunyi ‘klik’, tanda koin berpindah dan waktu dimulai. Rasanya aku sedikit rindu dengan bunyi ‘klik’ tersebut; paduan antara ‘oh-koinku-tak-akan-kembali’ dengan ‘oh-ada-orang-di-rumah!’.

Karena kebiasaan menelpon rumah itulah, aku pun menghafal beberapa nomor telepon rumah temanku untuk menanyakan tugas sekolah. Bahkan, untuk beberapa teman dekatku, aku sampai hafal rumah tantenya, rumah kakeknya, rumah neneknya, karena temanku kadang tidak di rumahnya!

Semakin besar, zaman pun semakin berubah. Telepon rumah biasa mulai terpinggirkan, dan tergantikan dengan telepon genggam. Aku masih ingat telepon genggam pertama milik ayahku, merknya Ericsson dan bentuknya kotak, warna hijau toska. Kartu perdana beliau Simpati, dan harganya mahal sekali (sekitar 270 ribu ke atas). SMS pun harganya mahal, apalagi telepon. Sayang seribu sayang, belum berumur lama, dia dicopet orang di atas kereta yang membawa ayah ke Surabaya.

Ponsel di zaman itu, memiliki ciri yang khas: versi yang lebih baru memiliki ringtone polifonik. Bahkan bisa merekam suara sendiri untuk nada deringnya. Masih ingat nada dering yang mirip suara orang mengaji tetapi sebenarnya nyanyian lagu minuman bersoda?


Bagiku sendiri, aku tidak dibelikan ponsel hingga kelas sepuluh SMA, saat diterima di SMA 3 Bandung. Saat SMP, aku sebenarnya butuh ponsel untuk mengontak teman-temanku. Akhirnya, aku membeli nomor sendiri, dan aku gunakan ponsel ibuku untuk mengecek SMS (atau teman daring, yang sempat kutanya nomor ponselnya, haha). Kakakku pun melakukan hal yang sama, dan ponsel ibuku jadi korbannya. Plastik penutup di belakang (yang bersinggungan baterai), sempat rusak karena kami terlalu sering mengganti SIM card ponsel.

Kisah tentang ponselku sendiri tidak panjang-panjang amat. Ponsel pertamaku rusak karena aku lupa mengambilnya dari saku rok SMA-ku, sehingga terendam selama berjam-jam dan tidak berhasil diselamatkan sama sekali. Ponsel keduaku masih berfungsi, hanya saja aku pensiunkan karena spesifikasinya sudah tidak mendukung kegiatanku lagi. Kali ini aku menggunakan ponsel ketigaku, yang spesifikasinya sangat mumpuni, sayang sekali, karena level baterai sering membuatku insecure, aku selalu overcharge ponselku. Hasilnya? Baterainya mulai bocor, dan mungkin tak bisa diselamatkan karena baterainya ditanam.

Mungkin ini saat yang tepat untuk mulai menabung dan mencari-cari. Semoga saja dapat yang pas dengan harga yang cukup murah. Karena kisahku tentang telepon tak berhenti di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s