‘Wish You All the Best!’

Belakangan ini, aku sadar akan suatu hal saat aku melihat sosial media milikku. Banyak teman-temanku di Indonesia yang mengunggah foto pesta kejutan ulang tahun teman mereka, atau balon, bunga, selempang, dan makanan untuk teman-teman mereka yang lulus sidang skripsi. Tidak lupa, foto-foto itu dibuat kolase berdempetan banyak, atau kadang cukup satu foto saja dengan semua orang yang terlibat dalam perencanaan acara-acara tersebut.

Apakah makna ‘selamat’ telah mengecil menjadi unggahan foto sambil memberikan hadiah dan kue macam-macam?

Tulisan kali ini terinspirasi dari ulang tahun temanku. Selamat ulang tahun, semoga segala sesuatunya lancar, ya!

Tradisi membuat pesta kejutan untuk ulang tahun teman tercinta memang mulai mendarah daging. Orang-orang berpikir, “Tak ada salahnya, bukan, menunjukkan perhatian untuk orang yang sudah membantumu banyak, mendengarkan ceritamu, memberikan saran, menemanimu, hingga menghiburmu?” Benar, tidak ada yang salah. Tetapi hal ini mulai menjadi agak keterlaluan ketika semuanya menjadi terasa sebagai ‘kewajiban’.

Misalkan, ada sebuah kelompok pertemanan beranggotakan delapan orang. Ketika salah satu dari mereka berulangtahun, tujuh yang lainnya tentu saja ingin menyiapkan sesuatu yang spesial sebagai wujud perhatian mereka. Kemudian dibuatlah pesta kejutan pertama. Ketika tanggal ulang tahun anggota berikutnya tiba, dibuatlah pesta kejutan kedua. Hal ini berlanjut, hingga tersisa anggota keenam, ketujuh, dan kedelapan. Mau tidak mau, lima anggota lainnya harus membuat pesta kejutan untuk mereka bertiga. Jika tidak, ketiga orang ini akan merasa ‘tidak dianggap’ menjadi bagian dari kelompok tersebut. Haruskah mereka merasa seperti itu?

Ketika sesuatu sudah bersinggungan dengan materi, tidak semuanya memiliki sumber daya yang sama. Ada banyak orang yang prioritasnya berbeda, dan banyak yang tidak mengerti kalau perhatian dan kasih sayang tak selalu harus ditunjukkan dengan materi.

Karena itu juga, kadang ucapan dan doa tulus dihargai lebih rendah dibandingkan memberi sesuatu yang berwujud. “Tapi, bukannya memberi sesuatu itu adalah wujud nyata dari ucapan dan doa tulus?” Ucapan mungkin iya, tetapi doa tulus itu bukan lagi urusan antar-manusia, karena Tuhan sudah terlibat di dalamnya. Tak ada yang tahu, kesuksesan yang besar di masa depan milikmu adalah berkat doa tulus dari temanmu, bukan? Hadiah yang menurutmu tentu saja lebih besar dari, setangkai bunga, misalnya.

Soal unggah-mengunggah foto, mungkin hal ini penting bagi beberapa orang. Mungkin bukan hanya soal eksistensi atau dokumentasi, tetapi kadang menyerempet pada tinggi hati. Maksud hati berterima kasih pada orang-orang yang sudah repot-repot memberikan sesuatu, tetapi banyak orang yang melihatnya sebagai, “Eh, lihat, teman-temanku baik sekali, ‘kan? Mereka mau repot-repot datang ke rumahku pukul 12 malam untuk memberikanku kue ulang tahun, lho.”

Atau mungkin diriku saja yang terlalu skeptis? Atau mungkin aku selalu mencoba mengambil sisi yang berbeda dari kebanyakan orang?

Sejujurnya, aku kadang iri dengan teman-temanku di Indonesia yang dikelilingi teman-teman dekat mereka. Merencanakan pesta ulang tahun kejutan, merancang skenario sedemikian rupa. Bukan karena aku tidak melakukan hal yang sama di sini, tetapi aku ingin melakukan sesuatu untuk teman-temanku di sana, untuk mereka, khususnya.

Aku juga masih ingat dengan jelas teman-temanku menginap di rumahku di malam kepulanganku tahun 2013 lalu. Meskipun pesawatku tidak delay, kemacetan Jakarta membuatku tiba di Bandung dari Soekarno Hatta subuh, 5-6 jam lebih telat dari yang diperkirakan. Aku masih ingat, mereka tidak menyiapkan banyak selain keripik singkong pedas, dan dekorasi serta confetti. Yes, I was welcomed with keripik setan! Karena jetlag, akhirnya aku bercerita macam-macam dengan semangat, hingga siang hari. Kemudian aku tewas di tempat tidur sore harinya.

Entahlah, mungkin aku harusnya tidak berpikir terlalu keras soal hal ini. Cuaca makin cerah di sini, udara makin hangat, siang makin panjang, musim panas semakin dekat, dan aku makin tidak sabar untuk pulang ke Indonesia.

Advertisements

5 thoughts on “‘Wish You All the Best!’

  1. setuju setuju.. kadang aku juga suka mikir kayak gitu. hahaha walaupun sejujurnya aku lebih seneng jadi orang yang bikin surprise daripada dikasih surprise aja sih. bahagia aja gitu liat orang yang kita kasih surprise seneng. mhehehehe Kata temenku yang baru pertama kali dikasih surprise, perlakuan seperti itu ngebuat dia diterima di lingkungan pertemanan :'D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s