Untuk Perempuan Indonesia

Mungkin saya masih terlalu muda untuk berbicara mengenai topik seluas ‘Perempuan Indonesia’. Tetapi ada beberapa hal yang menggelitik.

“Tan, kamu ambil Teknik Mesin? Ceweknya sedikit dong?”

“Kamu perempuan, hati-hati kalau sekolahnya ketinggian, nanti lelaki kabur semua.”

“Kenapa harus susah-susah belajar, kalau ujung-ujungnya nanti hidupnya hanya berputar di dapur-sumur-kasur?”

Mengapa para perempuan begitu ‘takut’ untuk mengambil jurusan Teknik Mesin? Apa karena ospeknya yang kadang tidak masuk akal? Atau takut merasa terkucilkan karena minoritas? Atau jangan-jangan, hanya karena image ‘keras (gahar)’ karena sering main oli? Adik-adik, ketahuilah, Teknik Mesin itu sama adanya dengan teknik-teknik lainnya. Sulitnya pun sama dengan jurusan teknik lainnya.

Atau jangan-jangan, ada di antara perempuan-perempuan ini yang memilih jurusan Teknik Mesin karena memang menginginkan semua stereotip dari Teknik Mesin terjadi padanya?

(Atau mungkin, seperti aku yang tidak yakin dengan teknik macam apa, lalu memilih mesin karena jurusan ini mencakup dasar yang kuat dan menggabungkan berbagai disiplin dari jurusan teknik lainnya?)

Lalu, masih banyak perempuan-perempuan yang berpikir bahwa sekolah tinggi-tinggi, atau belajar banyak-banyak, bisa ‘menjauhkan’ lelaki. Ada benarnya, yaitu menjauhkan lelaki yang tak ingin berusaha menyejajarkan dirinya dengan perempuan-perempuan ini. Mereka tidak ingin mencari perempuan hebat, karena ingin mengontrol pasangan mereka, bahkan kadang membodohi mereka.

Bersekolahlah tinggi-tinggi, belajarlah banyak-banyak, dan kamu akan terus menemukan orang-orang yang kualitasnya lebih baik darimu. Lalu, kamu akan belajar banyak dari mereka, dan meningkatkan kualitasmu sendiri juga. Mungkin kamu belum tahu, tapi di ‘atas’ sana, mereka juga tidak kekurangan jumlah lelaki, haha.

Lalu, siapa yang tidak familiar dengan lagu, “Wanita dijajah pria sejak dulu kala…” Masih banyak yang menganggap bahwa perempuan memang pekerjaannya hanya dapur-sumur-kasur. Meskipun belakangan ini, hal ini mulai tergantikan oleh kepercayaan bahwa perempuanlah yang membangun keluarga dan peradaban. Karena itu, banyak yang berpikir bahwa perempuan memang sebaiknya menjadi ibu rumah tangga, yang bekerja 24/7 di rumah. Saya setuju.

Sayang, masih banyak yang tidak mengerti, bahwa hal ini tidak selalu berlaku di semua kondisi dan tempat.

Belakangan ini, ada stigma negatif terhadap wanita karir. Anggapan dalam masyarakat adalah, mereka inilah yang tidak becus mengurus keluarganya, dan ‘pelan-pelan’ menjerumuskan keluarganya ke ‘jurang’. Kadang aku ingin bertanya pada mereka, “Jika Anda masih tidak nyaman diperiksa dokter pria, lalu mengapa Anda meremehkan profesi seorang wanita, apapun itu?”

Di luar sana, ada beberapa pekerjaan yang hanya bisa dilakukan seorang perempuan, dan tidak baik men-judge mereka hanya karena waktu mereka di luar rumah porsinya lebih besar dari di dalam rumah. Mereka juga ‘membangun peradaban’ dengan jalan yang sedikit berbeda, dan dengan usaha yang sama tidak habis-habisnya.

Hal yang menarik, yang aku baca di suatu tempat beberapa bulan/ tahun yang lalu adalah, “Apakah lelaki yang mengerdilkan perempuan? Bukan. Perempuan lah yang mengerdilkan kaum mereka sendiri.”

Benar-benar sulit rasanya untuk tidak mengobrol tentang perempuan A yang bajunya terlalu terbuka, atau perempuan B yang sering ganti pacar, bukan? Kadang kita semua bersikap menjatuhkan pada teman kita sendiri, sementara keadaan sebenarnya mungkin berbeda dari apa yang kita kira.

Atau mungkin, menyindir teman perempuan yang umur X masih belum menikah, misalnya. Atau menyapa teman lama dengan, “Kamu gendutan/ kurusan, ya.” Kita sudah terlalu terbiasa melakukan hal ini, hingga ‘terbutakan’ bahwa ada yang salah dari pernyataan-pernyataan tersebut.

Saya bukan aktivis, apalagi feminis. Sekali lagi, saya hanya mengutarkan hal-hal yang membuat saya tergelitik.

Kita-kita ini, boleh jadi Raden Ajeng Kartini sudah memperjuangkannya hingga kita sejajar dengan lelaki. Tetapi, tidakkah kita lupa, sejarah dominasi lelaki yang panjang sudah membuat mereka ‘tumbuh tinggi’ duluan. Jika kita ibaratkan bahwa perempuan adalah anak yang terpendek, boleh jadi kita berada di fase equality sekarang, seperti gambar di bawah ini…

Sumber gambar dari sini.

Sementara kita ingin melihat dunia sejelas lelaki dan berada di fase equity. Bagaimana caranya? Satu boks ekstra yang terlihat pada gambar di atas datang dari kita sendiri.

Mungkin sudah saatnya kita bukan mencaci maki kaum kita dari belakang, atau melihat sebelah mata dan men-judge perempuan lainnya. Ada baiknya juga jika kita bisa memikirkan perasaan perempuan lain seperti kita memikirkan perasaan kita sendiri. Juga berhenti ‘merendahkan diri kita sendiri secara sukarela’. ‘Saling mendukung’ memang memiliki banyak arti, tetapi saya yakin kita cerdas dan rasional dalam memutuskan hal apa yang ingin kita lakukan di masa depan, atau dalam berkata terhadap sesama.

Selamat malam dari GMT 00.

Advertisements

6 thoughts on “Untuk Perempuan Indonesia

  1. Jadi ingat kata-kata di salah satu newsletter Needle 'n Bitch, semacam zine feminis Jogja sih. Bunyinya, “You're beautiful. It's society that's fucked!” :)))

    Saya setuju sih, meskipun kalau ditilik dalam pandangan agama dan (khususnya) budaya, kita tetap harus mengerti kodrat sebagai wanita. Meski begitu, jadi Ibu yang pintar juga wajib, karena dalam rumah tangga pastilah kita yang akan mengajari anak-anak kita nanti. Hehehe.

    btw, aku juga anak Teknik. :))) Lalu, dulu waktu interview kerja, sempat tertempeli stigma-stigma perempuan yang kuat, misalnya, “Lho, kamu kan cewek, nanti kalau kerja shift gimana?”

    Padahal, si bosnya aja yang nggak tahu kalau saya demen begadang. :v

    Thanks for sharing, Titan. 🙂

    Like

  2. Hahaha, that's a really nice way to put it 🙂

    Setuju kalau kodrat tetaplah kodrat. Lalu, aku belum mengalami ditempeli stigma-stigma itu saat interview kerja, tetapi semoga saja tidak akan.

    Thanks for dropping your thought! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s