Jas dan Jenaka

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu?

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jas dan Jenaka. Karya sebelumnya, Jika dan Jarak, Jumpa dan Jemari, Jenazah dan Jelaga, serta Jumat dan Jembatan, juga bisa dibaca.

Tema kali ini adalah tentang alter ego. Jika kamu bisa bertukar tempat dan mencoba menjalani kehidupan orang lain selama sehari, orang seperti apa yang akan kamu pilih?

Selamat menikmati.

Jas

Wajahnya bersih, sebelumnya pasti dia sempat mencukur janggut tipis dan kumisnya terlebih dahulu. Jasnya pun rapi, sudah disetrika, hitam legam. Kamu bisa melihat jelas rambutnya yang diberi minyak tipis-tipis. Kalau tidak, rambut bergelombangnya akan sulit diatur.
Dia membenarkan sedikit dasi kupu-kupunya di hadapan cermin, “Bagaimana? Seperti ini cukup, bukan?”
Kamu ingin berkata, “Lebih dari cukup,” hanya saja suaramu tersekat di tenggorokan. Membuatmu mendadak haus. Mencari-cari botol air minum di ruangan itu. Matamu berlari dari satu pojok ke pojok lainnya, tetapi hasilnya nihil.
Lalu kamu mengangkat gaun panjangmu, hendak beranjak mencari air minum di ruangan lain.
Dia melihatmu beranjak dari pantulan cermin. “Jangan lama-lama. Aku tidak percaya diri berjalan ke luar tanpa berada di sisimu.”
Kamu menatapnya dari pantulan cermin, lalu mengangguk sedikit, dan keluar ruangan. Seorang pria berambut putih berjas sudah menyambutmu di luar, “Putri, ada yang bisa saya bantu?”
Kamu meliriknya sekilas, lalu berkata, “Calon Pangeran Mahkota sepertinya sudah siap. Apa para awak media sudah siap di luar?”
“Sudah, Yang Mulia.”
“Baiklah. Kami akan segera keluar, mungkin sekitar 10 menit lagi. Oh ya, tolong bawakan dua botol air minum ke dalam ruangan.”
“Baik, Yang Mulia.”
Setelah pria berambut putih yang telah melayanimu selama bertahun-tahun itu undur diri, kamu menatap lorong istana yang kosong. 
“Waktunya sudah tiba,” pikirmu.

Jenaka

Kamu masuk ke dalam kelas. Langkahmu cepat, menuju tempat duduk favoritmu di sebelah kanan ruang kuliah tersebut. Segera kau buka berlapis-lapis jaket yang kamu kenakan karena udara musim dingin masih tersisa di luar sana.
Beberapa bangku di depanmu, duduklah seseorang yang selalu datang lebih dulu. Dia lagi, begitu pikirmu.
Tiba-tiba kamu ingat, bukankah saat makan siang di kantin tadi, dia juga mengantre di depanmu? Lalu kemarin, ternyata kalian berada di grup tutorial yang sama? Atau beberapa hari yang lalu, saat kalian berpapasan di tempat parkir sepeda? 
Padahal, term lalu kalian tidak berpapasan sesering ini. Kebetulan yang menarik, bukan? Apa semesta sedang berusaha menjadi lebih jenaka padamu?
Seingatmu, namanya C. Lalu kamu mulai mengumpulkan keberanian untuk menyapanya duluan. Karena kamu berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk mendapatkan teman baru setelah satu term yang lalu kamu hanya berteman dengan diri sendiri, mencoba memaklumi dirimu sendiri dengan alasan anak baru.
Sebelum kamu menyapanya, dia menoleh ke belakang, lalu menyapamu duluan, “Halo, kamu yang di grup tutorial kemarin bukan?”
Kamu terkejut. Bertanya-tanya. Kebetulan macam apa lagi ini?
Karena takdir memang benar-benar jenaka terhadapmu. Dia sudah melihatmu jauh sebelum kamu mulai memperhatikannya. Dia bisa mengenali gerak-gerikmu dan tahu apa yang kamu lakukan.
Siapa yang tahu dia juga jenaka dalam mempermainkan kemampuannya untuk membaca orang lain?
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s