Jika dan Jarak

Ada yang terlupa: bahasa pertama. Dengan niat awal membagikan pengalaman lebih pada khalayak yang lebih luas, beberapa bulan terakhir, tulisan dengan tema rupa-rupa selalu kutulis dalam Bahasa Inggris.

Tidakkah kamu lelah? Bukankah banyak kosakata yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan ke bahasa itu? 

Benar, dan tanpa terasa, akhirnya aku terbiasa. Terbiasa tidak mengacuhkan potongan-potongan yang meminta diekspresikan.

Berikut ini karya pendekku dalam bahasa pertama: Jika dan Jarak. Selamat menikmati.

Jika 

Dunia seolah bergurau denganku. Selalu. Tak peduli seberapa rapat cerita ini kusimpan sendiri, dunia masih tahu dan menertawakanku. Aku bisa mendengarnya dengan jelas, terbahak-bahak tanpa tertahan.

Jika saja, hal bodoh itu tak kulakukan, akhirnya tidak akan jadi begini, bukan? Menyesal selalu di akhir, begitu kata ibuku.

Memoriku kembali ke masa balitaku. Kakakku yang masih di tahun-tahun pertama SD, mengajakku menjelajah gang-gang kampung. Dengan beraninya, kakakku memanjat poskamling, merayuku, “Ada pemandangan luar biasa di sini.”

Aku pun turut dengannya. Kupanjat juga poskamling itu. Sayang, cengkeramanku belum kuat menopang tubuhku saat itu. Aku terjatuh, menggelinding, ke kebun tetangga yang penuh dengan bunga sepatu.

Tangan kananku retak. Aku harus rela dibawa ke tukang urut di pelosok Kabupaten Bandung berminggu-minggu setelahnya. Bertiga naik motor, dengan ayah di depan dan ibu di belakang, hujan pun kami terjang. Ingatanku masih jelas: rasa sakit karena letak ‘tulangku’ yang tukang urut coba ‘kembalikan pada tempatnya’ dengan bantuan minyak mujarab.

Jika saja dulu aku tahu batasku, bahwa aku belum mampu memanjat poskamling, mungkin aku tak harus menyimpan dendam kesumat untuk kakakku sekarang. Jika saja aku memilih duduk saja di balai-balai, mungkin tangan kananku tidak sekali dua kali berontak kelelahan hingga saat ini.

Ah, jika

Jarak 

Rumahku dulu di pelosok, kiri kanan berbagi tembok dengan tetangga. Kalau ayahku pulang kerja naik motor, beliau selalu mengalah karena ada juga motor yang datang dari arah berlawanan. Jalurnya hanya cukup untuk satu motor. Kalau ada anak yang main mobil-mobilan di tengah jalan, dia harus rela minggir barang semenit dua menit jika tak ingin ditabrak motor dan orang-orang dewasa yang selalu terburu-buru itu.

Tetapi aku senang karena Taman Kanak-kanakku hanya berjarak 20 menit jalan kaki dengan langkah kecilku saat itu. Dengan jarak yang cukup panjang itu, aku bisa menemukan parasit tali putri di atas pagar hidup di pinggir jalan. Akan kuambil sedikit-sedikit dan kumasukkan ke dalam gelas Aqua bekas yang kubawa-bawa. Untuk main masak-masakan, begitu pikirku.

Kalau beruntung, pohon saga di jalan antara sekolah dan rumah akan menjatuhkan biji-biji merah kecilnya. Masih dengan gelas Aqua bekas, akan kupungut satu-satu biji-biji itu. Kucari yang paling merah dan bersih. Untuk main masak-masakan, begitu pikirku lagi.

Aku cukup beruntung, rumahku punya halaman belakang yang luas, dengan pohon alpukat yang rindang. Aku tak perlu bermain masak-masakan di tengah gang seperti anak tetanggaku, terganggu oleh sepeda motor yang melintas.

Akan kupersiapkan cawan kecil dari batok kelapa, atau (lagi-lagi) gelas Aqua bekas. Sebelumnya, aku akan mencari-cari dua buah batu bata dari rumah sebelah yang sedang dibangun, sebagai kompornya. Ibuku belum mengizinkanku menyentuh korek api, jadi aku gunakan saja ranting-ranting, seolah-olah itu bahan bakarnya.

Kumasukkan mie kuning tali putri, baso kecil biji pohon saga, sedikit tanah sebagai bumbu-bumbu, dan sayuran dari dedaunan yang sudah kusobek kecil-kecil.

Jarak antara sekolah dan rumah-lah yang memberikanku bahan masakan untuk hari itu. Mungkin juga di masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s