Aku & Buku: Bobol Celengan

Aku baru sadar belakangan ini, bukuku banyak sekali, sebagian besar komik Jepang. Aku mengumpulkannya sejak kelas 3 SD. Tak hanya itu, banyak juga novel dan buku non-fiksi dengan berbagai macam topik. Ibuku, sejak tahun 2000, rutin membeli majalah Intisari (Reader’s Digest-nya Indonesia), dan sejak tahun 2010-an juga rutin membeli majalah Kartini. Ayahku, entah sejak kapan berlangganan koran Kompas (mungkin sejak jauh sebelum aku lahir), meskipun harga kertas naik terus.

Yang tersisa dari koleksi Intisari tahun 2000. Ibuku senang membeli Intisari, tapi entah mengapa enggan untuk berlangganan langsung.
Bagiku sendiri, koleksi buku-bukuku ini adalah saksi bisu aku tumbuh, sekaligus salah satu faktor yang membentuk diriku saat ini.

Semuanya bermula dari suatu siang yang terik, saat kelas 3 SD.

Ada sebuah perpustakaan baru di pertigaan jalan padat di kota tempat tinggalku. Sejak dulu, aku orangnya tergolong pemalu dan menghindar untuk berinteraksi secara langsung. Terkadang telepon rumah tidak aku angkat, karena aku tidak ingin bicara pada orang di seberang. Kadang pula, saat harus membeli bakso di pedagang kaki lima, aku meminta kakakku untuk memesan makanan yang kuinginkan.

Tetapi hari itu berbeda. Karena aku benar-benar penasaran dengan perpustakaan itu, aku memutuskan untuk bertanya langsung. Ternyata, di dalamnya mirip dengan taman bacaan, dengan koleksi komik (terutama komik Jepang yang tumpah ruah), juga novel, dan buku-buku lainnya. Aku terkesima. Saat itu pula aku memutuskan untuk mendaftar.

Bertahun-tahun berikutnya, aku hampir tiap minggu pergi ke perpustakaan tersebut. Karena aku benar-benar tertarik dengan kisah cinta di serial cantik komik Jepang, maka aku mulai membeli beberapa buku dengan genre tersebut. Bahkan, perpustakaan ini juga membantuku mendapatkan komik tertentu yang aku inginkan, dan menjualnya padaku dengan harga jauh lebih murah daripada yang ditawarkan di jaringan toko buku besar.

Jika kamu teman SD-ku, tentu saja kamu ingat denganku yang kurus dan dekil saat itu. Karena untuk jajan makanan pun aku benar-benar irit, kadang kala memilih pulang jalan kaki daripada naik angkot, demi membeli komik-komik tersebut (juga karena aku tak suka makan ayam dan daging waktu kecil, karena keduanya terasa ‘alot’ -keras, bagiku, hingga aku mengetahui betapa berharganya daging dan ayam yang halal saat di luar negeri). Celengan pun aku bobol, dan kadang, ‘pesangon’ (angpau) lebaran dari nenek kakekku pun aku belikan komik.

Tahu Nakayoshi, Cherry, dan Shonen Magz? Ketiganya adalah majalah komik yang sempat aku koleksi untuk beberapa waktu. Nakayoshi, terutama, karena aku sampai punya hampir 70 jilid pertama majalah komik satu ini. Beberapa komik serial cantik pun aku koleksi dengan lengkap: Alice 19th, Baby Love, Marmalade Boy, Toe Shoes, dan lain-lain. Aku pun masih ingat bagaimana aku benar-benar terharu saat membaca jilid terakhir dari komik Imadoki! dengan Yamazaki Tanpopo sebagai tokoh utamanya.

Koleksi Nakayoshi, dan Cherry. Rasanya sedih karena ada beberapa jilid Nakayoshi yang hilang 😦

Saat SMP, selain membaca komik Jepang, hobiku bertambah satu: membaca novel, terutama teenlit. Dealova adalah teenlit pertama yang kubaca, dan karena itu, aku benar-benar terlarut dalam ceritanya. Selain itu, aku sempat mencoba membaca Supernova-nya Dewi Lestari, namun saat itu ‘belum kesampaian’ kemampuan otaknya, haha.

Ketika masuk SMA di Bandung, aku jarang lewat pertigaan ini lagi saat pulang ke rumah, karena itu aku pun semakin jarang meminjam buku di perpustakaan satu ini. Ketika akhirnya aku meneruskan ke UWC di Amerika Serikat, aku tidak sempat mengucapkan proper selamat tinggal pada perpustakaan favoritku ini, bahkan aku tidak ingat persis siapa nama pemiliknya, kecuali ‘Om’, dan untuk petugas desk-nya, ‘Mas’. Jika Anda membaca ini, aku ingin mengucapkan terima kasih pada Anda berdua, karena bersedia menjadi perantara antara aku dan buku-buku.

Lebih beragam, termasuk bahasa pengantar yang berbeda (ada beberapa buku berbahasa Inggris juga). Rak paling atas: novel berseri favoritku yang sebagian besar tak lengkap. Ada yang mau menghadiahiku buku dan melengkapi seri-seri tersebut? 🙂

Tahun ini, setelah aku memperbarui niatku untuk membaca buku di luar buku kuliah, celenganku pun mulai kebobolan lagi. Tetapi, kali ini aku tidak sudi untuk memotong uang makanku, sehingga tabunganku menipis. Tetapi, memang tak ada kepuasan yang menggantikan saat menyentuh buku baru, dan saat menutup buku yang telah selesai dibaca.

Advertisements

5 thoughts on “Aku & Buku: Bobol Celengan

  1. Wah banyak Nakayoshi nya…dari no 1 sampai 69…no 68 nya gak ada..hehehe

    ada Heike story juga…. Secara keseluruhan Heike lebih mudah dinikmati dibanding Musashi, tapi kurang seru jika dibanding Taiko. Inti ceritanya bukan tentang perseteruan antara Klan Genji dan Heike, tapi lebih kepada kisah hidup Heike Kiyomori, pemimpin yang membawa klan Heike ke puncak kekuasaan.

    Like

  2. Sejak jadi pengangguran, aku sekarang mengurangi beli buku. Nanti kalau sudah kerja lagi, baru deh rajin beli buku lagi. Soalnya cita-citaku dari dulu punya perpustakaan pribadi. Tapi ya, sudah bertahun-tahun beli buku sendiri koleksi bukuku sekarang pun masih sedikit banget… 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s