‘Kacamata’ Termahal

Enough with my travelling posts. Shouldn’t I step back and actually think: how have I changed after all these trips?

Sudah sekitar tiga minggu terakhir aku berada di Tanah Air. Tentu saja menyenangkan rasanya untuk kembali, bertemu keluarga, teman-teman, dan makan makanan yang setengah mati kurindukan sebelumnya. Selain itu, walaupun terasa unsettling, fakta bahwa tak ada yang perlu kuhiraukan saat bangun tidur tiap paginya (tentu saja selain aplikasi visa dan self-study kelas Aljabar Linear), benar-benar melegakan. Ini hal yang kubutuhkan setelah setahun bekerja keras, begitu pikirku.

Hanya saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, ada sedikit rasa tak nyaman setiap kali kembali dan berada di lingkungan dan kultur yang berbeda. Perasaan yang diberi nama reverse culture shock. Walaupun sudah empat tahun terakhir aku bolak-balik AS-Indonesia (dan Jerman, untuk tahun ini), aku masih merasa dipermainkan oleh ‘trampolin’ satu ini.

Ada sebuah buku yang menarik dari Thomas Wolfe yang berjudul You Can’t Go Home Again (yang baru aku baca review-nya saja). Mungkin lain kali kalau aku menemukannya di Barnes & Noble atau Amazon, akan kubeli.

The title is reinforced in the denouement of the novel in which Webber realises: “You can’t go back home to your family, back home to your childhood … back home to a young man’s dreams of glory and of fame … back home to places in the country, back home to the old forms and systems of things which once seemed everlasting but which are changing all the time – back home to the escapes of Time and Memory.” (Source: Wikipedia, taken from an excerpt by Madden, David, 2012)

Kamu tidak akan bisa kembali ke rumah lagi. Ada benarnya, bagiku. Terutama saat seminggu pertama aku tiba di Indonesia. Memoriku akan Yogyakarta dan Bandung masih attuned dengan keadaan tahun lalu, bahkan tidak ingat di beberapa tempat karena sudah tergerus oleh budaya dan cara-cara baru yang kuserap satu tahun terakhir.

Aku juga sadar akan sesuatu yang berharga: ada ‘kacamata’ yang sangat mahal yang orang-orang yang baru kembali dari rantau di negeri orang, yang mungkin tanpa sadar mereka kenakan. Terutama saat minggu-minggu awal. ‘Kacamata’ yang tak akan bisa mereka dapatkan dari manapun lagi saat melihat negeri tempat mereka berasal.

Ada beberapa hal yang kurasakan sangat menonjol (dan kadang membuatku terganggu/ irritated) saat kembali. Hal-hal yang kulihat dari ‘kacamata’ milikku.

  • Kantong plastik: Saat minggu-minggu pertama tiba, aku merasa terganggu dengan banyaknya kantong plastik yang orang Indonesia gunakan sehari-harinya. Beli buku satu buah saja, diberikan kantong plastik, bayangkan! Di Jerman sendiri, orang-orang yang berbelanja biasanya membawa kantong mereka sendiri, karena untuk menggunakan kantong plastik sebagai wadah belanjaan, mereka harus membelinya dari supermarket dengan kisaran harga 10-25 sen.
  • Eskalator: Mungkin karena kebiasaan orang-orang Indonesia yang tidak pergi sendiri ke tempat belanja, dan selalu ingin mengobrol dengan teman/ keluarga, makan di eskalator pun orang-orang selalu berdiri bersebelahan dan tidak memberi ruang bagi mereka yang terburu-buru. Selain itu, eskalator di Indonesisa tidak konsisten, kadang di kiri, kadang di kanan, kadang dua-duanya bisa (satu ke atas, satu ke bawah), atau hanya salah satu bisa (satu ke atas, satu lagi dari atas; aku pernah hampir salah ambil jalur). Kadang pula, rusak satu untuk yang ke atas, yang sebelahnya dijadikan ke atas, supaya orang-orang tidak susah payah naik ke atas.
  • Orang Indonesia bertubuh rendah: Saat tiba di Soekarno-Hatta, aku merasa dilempar ke dunia ‘liliput’, well, sebenarnya tidak seekstrim itu, tapi kamu mengerti maksudku, bukan? Aku yang sebelulmnya bertubuh sedang-sedang saja, saat kembali lagi ke Indonesia, merasa tiba-tiba tinggi sekali. Karena rata-rata orang Indonesia bertubuh rendah dibandingkan orang-orang barat, maka fasilitasnya pun berbeda. Saat pertama kali tiba, tinggi pintu, tinggi rak-rak di supermarket, dan hal-hal lainnya terasa terlalu rendah buatku.
  • Densitas yang tak masuk akal: Indonesia, terutama Pulau Jawa, benar-benar padat oleh manusia. Boston saja tidak sepadat ini, apalagi Jerman. Karena itu, aku sempat merasa terheran-heran dengan jumlah manusia yang bisa kutemui hanya dengan berjalan 100 meter. Karena densitas yang tinggi pun, aku merasa sedikit insecure saat berada di ruang publik. Apalagi kalau bukan karena ‘jarak aman’ di tempat umum di negara yang berbeda itu berbeda, tergantung densitasnya. 
  • Mobilitas manusia: Sampai saat ini aku masih terheran-heran bagaimana orang-orang di sini bisa sangat sabar dalam urusan jalanan dan mobilitas. Jalanan yang sempit, berlubang, dan macet dianggap sudah biasa. Angkutan umum yang berhenti sembarangan, orang-orang sudah mafhum. Pejalan kaki yang menyebrang sembarangan dianggap lumrah. Mobil dan motor yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas dianggap angin lalu.
  • Urusan pribadi = urusan keluarga/ teman: Mungkin karena aku tiba di Indonesia di ‘hari keluarga paling intim/ akrab selama setahun’, alias Hari Raya Idul Fitri, hal-hal yang dianggap pribadi olehku yang persepsinya sudah berubah, jadi santapan keluarga besar dan teman-teman. Apalagi karena aku mulai terbiasa dengan ketertutupan orang Jerman, jadi aku sempat terkaget-kaget sendiri dengan seberapa ingin tahunya orang Indonesia terhadap kehidupan dan masalah orang lain, dan bisa membicarakannya dengan kasual di hadapan orang yang bersangkutan.
  • Tip di restoran: Otakku sudah terlatih untuk menghitung 15% dari harga makanan yang kubeli di restoran di Boston sebagai tip untuk pramusaji. Hal ini tidak lumrah di Indonesia, dan rasanya menyenangkan.
  • Jam biologis manusia: Aku sadar, tiap masyarakat di negara tertentu punya jam biologis yang berbeda. Di Indonesia, misalkan, kebanyakan orang bangun sekitar subuh untuk bersiap memulai hari, dan tidur sekitar pukul sembilan-sepuluh malam. Selain itu, selalu ada istirahat untuk tiap sholat di setiap kegiatan/ pekerjaan/ acara. Tidak halnya dengan Jerman, misalnya. Orang-orang mulai bekerja pukul sembilan pagi, jadi tergantung seberapa jauhnya jarak tempat mereka bekerja dari kantor, mereka akan bangun. Biasanya antara pukul enam-tujuh. Lalu sepulang kerja, mereka kadang tidak langsung pulang. Makan malam atau minum-minum dengan teman sekitar pukul sepuluh-sebelas pun masih tergolong normal. Berbeda lagi dengan Amerika Serikat, yang seakan menekankan awal jam kerja sebagai penanda kelas sosial di masyarakat. Semakin pagi seseorang berangkat kerja/ semakin larut seseorang pulang kerja/ semakin tidak stabil jam kerja seseorang tiap harinya, semakin tidak stabil keadaan finansialnya. Aku pernah merasakan betapa berbeda orang-orang yang naik subway pada pukul enam, tujuh, dan delapan pagi.
  • Sampah: Setiap aku pulang, aku merasa terganggu dengan sampah-sampah yang menumpuk begitu saja di pinggir jalan (terutama jika itu sampah plastik). Bahkan beberapa hari awal, aku sempat merasa bersalah karena mencampur sampah recycles dengan sampah organik.
  • Akumulasi inflasi dan pajak: Karena memori yang tersisa tentang negeri tempat tinggalku terakhir kali adalah setahun yang lalu, aku sempat merasa terkejut dengan tata letak yang berpindah, baliho yang berganti, atau sekadar iklan televisi yang berbeda. Hal lain yang terasa sangat berbeda adalah harga-harga berbagai makanan/ barang. Gorengan pinggir jalan yang tahun lalu masih Rp. 500,-, sekarang sudah Rp. 633,- atau Rp. 700,-, lalu susu favoritku di minimarket sudah menyentuh batas Rp. 5.000,- sedangkan tahun lalu masih Rp. 4.300,-. Luar biasa.

Masih ada beberapa hal lainnya, tetapi satu hal yang kusadari, tergantung dari mana negara yang kamu tinggali sebelumnya, ‘kacamata’ yang kamu miliki pun berbeda. ‘Kacamata’ yang aku miliki tahun ini berbeda dari ‘kacamata’ milikku tahun lalu, karena tahun ini aku sempat berada di Eropa untuk waktu yang cukup panjang.

Mungkin ini juga salah satu alasan mengapa orang-orang menyarankan orang lain untuk pergi dan melihat belahan dunia lain, tidak hanya untuk melihat dunia yang berbeda, tetapi juga untuk melihat tempat tinggal kita secara berbeda sekembalinya nanti. Karena itulah Wolfe berkata, you can’t go home again, karena rumah yang kamu tinggal tak akan pernah terasa sama lagi dengan pengaruh ‘kacamata’ baru milikmu. ‘Kacamata’ yang mahal, karena tidak dalam keadaan normal seseorang bisa membandingkan dengan objektif negeri yang dia tinggali dengan tempat lain.

Advertisements

5 thoughts on “‘Kacamata’ Termahal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s