Seorang Pelancong

Buat dia, cuaca musim panas di Jerman terasa pas: tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Walaupun hujan kadang tak tahu waktu: deras di saat payung tertinggal di rumah, dan tak berawan, apalagi hujan, sedikitpun ketika dia bawa satu set lengkap jas hujan, payung, dan sepatu boot hujan.

Seminggu sekali, dia akan pergi ke stasiun kereta api, melihat pelancong yang lalu lalang, dan merasa diberikan kekuatan. “Pelancong-pelancong ini, tak tahu ke arah mana mereka pergi. Bagi mereka, kota ini sangat asing; sering mereka salah tram atau bus. Melihat mereka, aku merasa lebih beruntung.”
Mereka belum tahu siapa yang harus mereka percaya.
Dia sendiri, adalah seorang pelancong. Pelancong yang umurnya lebih lama sedikit dibandingkan pelancong-pelancong lainnya di stasiun kereta. Kadang dia masih berpikir, apakah yang pelancong-pelancong lain yang lebih tua pikirkan tentang dirinya? Seberapa berbedanyakah hal-hal persepsi mereka tentang tempat ini?
Baginya, waktu adalah variabel tak terukur. Persetan dengan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun. Dia dan semua orang barangkali tahu tentang seberapa fleksibelnya waktu: dia bisa jadi terasa sangat panjang, maupun sebaliknya.
Dan sebagai pelancong, di awal dia merasa waktu terasa sangat panjang. Kini, ketika akhir masa melancongnya semakin dekat, waktu jadi terasa sangat pendek. 
Apakah setiap yang melancong merasa seperti itu? Atau, apakah alam menyambut mereka yang akan melancong lagi dari awal di tempat baru, ataupun kembali pulang?
Walaupun waktu jelas-jelas terasa memendek, satuan-satuan waktu masih digunakan untuk menghitung mundur. Pada jangka waktu itu pun, pikiran seperti memerintahkan, “Ini mungkin kali terakhir kamu berada di tempat ini,” atau, “Apa kamu sudah menyerap semua yang ada dari tempat ini sebelum kamu beranjak pergi?”
Dia, si pelancong, tahu persis, ada tempat lain yang menginginkannya kembali. Dia pun ingin kembali, dan merasa nyaman dengan sekeliling. Tetapi, dia tak ingin melalui transisi yang menguras energi. Bukan, lagi-lagi, soal zona waktu saja, karena dia beranggapan waktu itu tak terukur. Tetapi juga soal jiwa, manusia, langit, dan pepohonan yang berbeda dari tempatnya kali ini.
Dia akan kembali melalui trampoline, merasa dimainkan oleh tangan-tangan tak terlihat, terombang-ambing, karena kombinasi semua perbedaan itu. 
Tapi dia harus melaluinya. Bukan hanya karena itu konsekuensi dari titelnya sebagai pelancong, tetapi juga karena dia ingin kembali ke pangkuan mereka-mereka yang langsung mempercayainya di detik dia menginjakkan kaki di tempatnya kembali.
H-15 kembali ke Indonesia. Bremen, 7/13/2014, 16:25 CEST
Advertisements

One thought on “Seorang Pelancong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s