Musik + Waktu

Musics. Musik. 音乐. 音楽。Música. الموسيقى. מוזיק. 


Satu grup a capella berseragam warna warni bernyanyi di atas stage di Auditorium Kresge. Kursi penonton penuh sesak, mereka menunggu setengah jam lamanya sebelum pintu auditorium dibuka. Konser malam ini, hanya pita suara yang divibrasikan, tak ada alat musik lainnya digetarkan.


Semua orang tercengang dengan tingginya suara yang dihasilkan vokalis utama di lagu A. Semua orang tertawa ketika 5 orang di grup a capella itu menari dengan genit sambil bernyanyi lagu yang sedang populer. Semua orang terhanyut ketika satu grup mengelilingi dan berserenade untuk satu orang mahasiswi. Semua orang berdiri dan bertepuk tangan, sambil berteriak, “Encore! Encore!” ketika konser satu setengah jam lamanya telah usai.

Pernahkah kamu berpikir seberapa kuatnya pengaruh musik terhadap emosimu? Mungkin kamu pernah berpikir mengenai hal yang sama denganku. Lalu?

Sekitar seperempat isi dropbox-ku merupakan lagu-lagu yang sengaja kusimpan karena sering kudengarkan (setengah lainnya merupakan TV shows, haha). Saat aku menyalakan laptopku, tiga aplikasi yang kubuka pertama kali adalah Google Chrome, LINE, dan Spotify. Saat aku berpergian, lima hal yang harus kubawa: dompet, kunci/ID Card, tissue, HP, dan MP4 Player. 

Apa kamu melakukan hal yang sama?

Teknologi dan internet telah mengubah caraku berinteraksi dengan musik. Aku masih ingat dengan jelas, ayahku memiliki puluhan kaset gamelan jawa dan wayang yang beliau rekam sendiri dari radio. Beliau juga memiliki satu kaset dengan lagu My Heart Will Go On yang direkam dari radio. Silakan tertawakan aku, karena aku merasakan ketertarikan yang spesial dengan lagu ini. Lagu satu ini merupakan original soundtrack dari film Titanic, dan namaku Titan, hehe. Karena hal ini, saat aku kecil dulu, aku selalu tersenyum dan membusungkan dada, “Namaku keren, seperti judul film Titanic itu.”

Saat aku masih berseragam putih merah dan kakakku berseragam putih biru, kami sering urunan untuk membeli kaset. Kakakku dulu termasuk pengikut arus utama, tetapi Sheila on 7 tetap band yang paling dia puja (setidaknya dulu). Juga Ada Band. Dan Peterpan. Harga kaset yang sekitar Rp 20.000,00 dulu, jauh lebih mahal dibandingkan uang saku yang kami dapatkan. Karena itu, menabung untuk membeli kaset merupakan hal yang selalu kami lakukan. Radio dan pemutar kaset yang sudah mati sebelah menjadi tumpuan kami untuk mendengarkan lagu-lagu dari musisi favorit kami.

Salah satu best buy seumur hidupku adalah kaset satu ini.

I will fly into your arms and be with you ’till the end of time…

Ada banyak kenangan berarti yang berhubungan dengan lagu ini. Saat tes bernyanyi sendiri-sendiri di depan kelas waktu SMP, aku menyanyikan lagu I Will Fly ini. Selain itu, ini merupakan kaset yang pertama kali kubeli dengan jerih payah uangku sendiri.

Aku juga masih ingat, saat karantina olimpiade waktu SD, ayahku berjanji untuk membelikan Walkman -pemutar kaset, jika aku berhasil melalui 10 hari karantina saat itu. Saat hari terakhir karantina, keluargaku mampir ke Glodok terlebih dahulu untuk membeli Walkman sebelum menjemputku. Rasanya luar biasa. Kaset Ten 2 Five yang dibawakan oleh kakakku pun langsung kuputar tak henti selama perjalanan menuju Bandung.

Saat tahun terakhir SMP, ketika metode mendapatkan lagu terbaru berubah menjadi ‘unduh di 4shared’, ‘beli di Emang-emang penjual CD bajakan’, atau ‘mengkopi dari flash disk teman’, membeli kaset rasanya terlalu sulit dan mahal. Akhirnya aku, tentunya dengan merengek pada Ibuku, membeli MP4 made in China 512 MB. Wow. Semua lagu favoritku saat itu, mulai dari lagunya Dafi dan Gita Gutawa yang jadi Jingle Conello, hingga Asmaul Husna unduhan dari 4shared untuk dihafal di kelas agama pun ada.

Oh, wow. Rasanya belum lama, tetapi ternyata sudah 7 tahun yang lalu.
Bahkan saat ini, dengan koneksi internet yang semakin terjangkau dan cepat, orang-orang tak perlu lagi mengunduh lagu-lagu yang mereka sukai. Cukup dengan membuka suatu aplikasi, atau penyedia video seperti Youtube, dan semuanya tersedia. Cepat. 
Tak perlu lagi menunggu di radio dengan kaset kosong terpasang, untuk mendapatkan lagu favorit musisi pujaan hati. Atau marah-marah sendiri karena lagu favorit ‘tertimpa’ rekaman lagu lain. Atau mencari-cari selotip untuk menutupi lubang di kaset yang sudah penuh dengan rekaman lagu dari radio. Atau harus menekan tombol ‘rewind’ setiap kali ingin mendengar lagu yang sama. Atau membereskan pita kaset yang kusut.
Mungkin waktunya akan tiba saat kaset pun diperlukakan seperti gramophone, antik dan tak ternilai. Mungkin kaset Ten 2 Five-ku dulu yang hanya dua puluh ribu rupiah saja bisa berharga tinggi sekali. Tetapi yang jelas, tak peduli berapapun harganya, kasetku yang satu itu tak akan kujual atau kuberikan pada orang lain.

Adakah teman-teman yang memiliki kenangan kuat dengan musik di sekitarnya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s