Tahun Baru? Buku Baru!

From the top of my dorm: 200 degree-view. Pagi pertama 2014.

Pagi. Samar-samar aku teringat semalam kemarin: bersama kedua temanku, satu anak pertukaran pelajar -sama-sama dari Cimahi, dan satu lagi anak pertukaran pelajar dari Kirgizstan, kami berkeliling Boston. Mulai dari melihat kembang api di Boston Common, menonton berbagai pertunjukkan -dari stand up comedy hingga film pendek, dari konser band hingga puppet dan marionette, di Hynes Convention Center, lalu melihat detik pergantian tahun di dengan kembang api (lagi) di Boston Harbor.


Fiuh.

Bagiku sendiri, kemarin malam adalah kali pertama melihat kembang api dari dekat, live. Biasanya kalau tidak dari televisi ya dari balkon rumah. Luar biasa, ya, ternyata. Dua kali sepuluh menit, aku hanya memandang ke langit, melihat tarian kembang api-kembang api tersebut.

//instagram.com/p/iomTuYvAnK/embed/
Yang lebih luar biasanya lagi, adalah cara Boston menangani malam pergantian tahun ini. Subway dan bus digratiskan mulai pukul 8 malam hingga 2 dini hari, semata-mata agar penduduk memilih menggunakan transportasi publik daripada mobil pribadi. Program ini sukses besar, jalanan tidak terlalu macet (kecuali mungkin di Boylston St., jantung perayaan di Kota Boston), serta terlihat banyak orang yang berjalan. Salutnya lagi, meskipun suhu di luar sekitar negatif lima derajat, orang-orang masih bersemangat.

Oh, ternyata, begini semangat orang-orang di sini menghadapi tahun baru.

Bagiku sendiri, kalau kedua teman pertukaran pelajarku ini tidak mengajak, aku tentu saja memilih untuk tidur. Bagiku, tahun baru tak ada bedanya dengan tahun sebelumnya. Hanya siklus, penanda. Agar orang-orang mempunyai energi baru dari sebuah konsep ‘siklus yang baru’. Padahal, tahun baru tidak menandakan segala sesuatunya baru. Semua yang ada di tahun ini, tentu saja banyak yang merupakan ‘buah’ dari hal yang ditanam tahun lalu.

Setidaknya, untuk kebanyakan orang, ini adalah momentum untuk berbuat lebih baik lagi. Berusaha lebih keras lagi. Bahagia lebih sering lagi.

***

Honestly, in the past few days, I’ve been working. My part-time job becomes my full-time job these days. Nine to five. With a little lunch break in between (which is only enough to catch Zuhr and Asr prayers, so I end up taking my lunch while scanning the documents, or indexing bundles). I sometimes wonder, apakah saya akan ‘kerasan’ kalau saya harus kerja kantoran seperti ini di masa depan? Baru dua minggu, dan rasanya seperti membelit diri saya sendiri.

Untunglah, ada beberapa hari di mana saya bisa pergi melepas penat sejenak di Boston. Kemarin saya sempat ke Barnes & Noble, dan saya melihat buku di bawah ini.

DIY book. Buku yang kamu isi sendiri. Semacam diari terstruktur.

Waktu itu sempat benar-benar ingin membeli buku satu ini, tetapi di tangan saya sudah ada dua buku lainnya. Buku di Amerika Serikat relatif lebih mahal dari di Indonesia, dan kedua buku di tangan saya saat itu sudah total $30 lebih sedikit. Mungkin lain kali, lagipula ‘kan kamu punya diari sendiri.

Tetapi, rasanya buku ini masih menarik. Serinya pun ada bermacam-macam, mulai dari yang bisa kamu isi bersama temanmu (dengan pertanyaan seperti, “Bagaimana kamu bertemu temanmu?” atau, “10 tempat hangout yang paling sering kamu dan temanmu kunjungi bersama.”), hingga bersama Ibumu, atau travel listography-mu sendiri. Setelah penuh, tentu saja kamu bisa berikan ke temanmu, Ibumu, atau bisa kamu baca di kemudian hari (Hei, bukankah menyenangkan melihat diari/ blog post lamamu?).

Mungkin kalau saya mampir ke toko buku lagi, akan saya beli buku satu ini.

Mumpung. Semangat tahun baru itu tak boleh disia-siakan bukan?

Termasuk kemampuan saya untuk lebih banyak membaca buku tahun ini. Juga teman saya.

“Tan, urang terlalu banyak lihat medsos (media sosial, red) tahun lalu. Ingin lebih sering baca buku tahun ini. Ada rekomendasi?”

Banyak, sebenarnya. Belakangan ini, saya sering menggunakan Scoop/ Wayangforce untuk membeli buku-buku elektronik yang nge-hits, atau majalah dan koran di Indonesia menggunakan Paypal. Aman, cepat, mudah. Bulan September lalu, saya membeli edisi khusus 50 tahun Intisari lewat Wayangforce, dan benar-benar memuaskan. Untuk koleksi dari PT. GPU sendiri, lebih lengkap di Scoop. Sayangnya, spektrum bukunya terbatas, lebih banyak fiksi, majalah, dan koran. Mungkin di masa depan akan lebih luas lagi. Mulai dari 99 Cahaya di Langit Eropa, hingga Arswendo Atmowiloto. Selain itu, buku-buku GPU pun sudah tersedia di Amazon sekarang, jadi lebih gampang lagi.

Untuk buku luar sendiri, saya masih penasaran dengan “The Circle”-nya Dave Eggers, menceritakan bagaimana seseorang yang mapan, dan bekerja di sebuah perusahaan internet besar bernama the Circle di California, dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Semacam “Brave New World” modern, buku karangan Aldous Huxley yang mempertanyakan batas-batas manusia dan modernitas (by the way, kamu juga harus baca “Brave New World”, banyak hidden message tentang hal satu ini). Hal yang menarik, sebagian besar orang akan mengasosiasikan the Circle dengan Google, karena setting-nya benar-benar pas sekali. Pop, modern. Rasa-rasanya, mungkin dalam waktu yang singkat, urgensi masalah-masalah yang ada di buku ini akan menjadi nyata.

Mungkin kalau saya gajian nanti, saya bisa membeli buku satu ini.

Atau ada yang ingin memberikan saya hadiah buku satu ini?

Selain itu, ternyata, ada juga buku-buku yang bisa diunduh dengan gratis di Google Play (mungkin yang satu ini tergantung regional dan negara juga), dan juga legal. Buku-buku klasik seperti Sherlock Holmes, The Wonderful Wizard of Oz, Romeo and Juliet, dan lain-lain, patut kamu coba.

Seperti kata teman saya di atas, tahun ini saya harus bisa membatasi media sosial yang semakin adiktif, dan membuat pikiran dangkal serta hati tak tenang. Lebih baik membaca buku, bukan?

Kalau kamu, apa yang ingin kamu lakukan tahun ini?

Advertisements

4 thoughts on “Tahun Baru? Buku Baru!

  1. de Titan, 2 teman (1 dari Cimahi) yg sdg pertukaran pelajar (student exchanges) itu dari PT mana (di Indonesia) ke PT mana (di US, apk ke MIT ?)
    Hebat, Titan msh sempat menulis blog pdhl MIT super sibuk (katanya ?).

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s