Bandar Udara yang Romantis

Logan International AirportJika ada seseorang bertanya, “Di mana tempat paling romantis di dunia?” aku pasti akan menjawab dengan cepat, “Di bandar udara.”Empat tahun terakhir pulang-pergi dari dan ke tanah air, telah membuatku melihat banyak hal.Di bandara Midland/ Odessa, Texas, aku menyaksikan keluarga besar yang menyambut anak lelakinya yang baru pulang dari dinas militer di Timur Tengah. Dua baris pasukan militer berhadap-hadapan, memegang panji-panji bendera Amerika Serikat, juga menyambutnya. Musik khas drumband militer pun diperdengarkan. Si lelaki yang baru pulang dari dinas turun dari pintu kedatangan di lantai dua menggunakan eskalator. Kemudian, dia berjalan di tengah barisan, dinaungi panji-panji bendera, dan diberi hormat oleh pasukan kecil yang menyambutnya. Di akhir barisan, pelukan keluarga, sahabat, dan tunangan, serta buket bunga besar menyambutnya. Saat si anak menerima piagam atas baktinya selama bertahun-tahun dinas di medan perang, tangis haru merebak. Tak terbayangkan, berapa tahun keluarganya harus menghadapi ketidakpastian akan nasib anaknya di negeri jauh.Ketika aku lulus UWC, rasanya benar-benar berat meninggalkan Albuquerque International Airport. Aku masih bisa memproyeksikan bandara satu itu dengan jelas di pelupuk mataku, betapa sepi dan lengangnya. Aku juga masih ingat detik-detik saat pesawatku lepas landas menuju California, meninggalkan gurun New Mexico yang belum pernah aku jejak lagi sejak setahun setengah yang lalu.Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Indonesia, sendiri cukup unik. Biasanya, di negara lain, satu-satunya pemeriksaan mesin sinar X dilakukan saat akan masuk ke pintu keberangkatan. Di Soekarno-Hatta sendiri, ada dua kali pemeriksaan dengan mesin sinar X: sebelum check-in dan sebelum gate. Karena itu, pengantar hanya boleh mengantarkan hingga mesin sinar X pertama. Bagiku sendiri, mesin sinar X pertama ini punya banyak cerita. Saat mengucapkan selamat tinggal pada keluargaku, aku biasanya masih tegar dan tidak menangis. Begitu aku masuk melalui pemeriksaan pertama, air mata biasanya mulai tidak tertahankan. Setelah aku tidak bisa lagi melihat keluargaku dari jendela kaca, dan mengantre di imigrasi, orang-orang mungkin heran dengan tangis yang aku coba tahan-tahan.Jika aku harus memilih bandar udara terbaik, jawabannya adalah HKIA, alias Hong Kong International Airport. Wi-fi gratis dan kencang, bandara yang luas dan lapang dengan langit-langit yang tinggi, serta kursi tunggu yang empuk dan banyak, apalagi yang kamu butuhkan saat menunggu penerbangan selanjutnya? Di HKIA ini juga, aku bertemu dengan banyak Tenaga Kerja Indonesia. Biasanya aku senyum-senyum sendiri mendengar satu grup TKI berbicara Bahasa Jawa yang kental. Kadang, aku mencuri dengar percakapan mereka. Ada kisah sedih seorang wanita muda yang ditinggal suaminya menikah lagi karena dia sudah kerja di Hong Kong bertahun-tahun. Ada pasangan yang tidak bisa melihat anaknya tumbuh besar, karena mereka berdua bekerja menjadi asisten rumah tangga dan pengemudi di Hong Kong. Ada pula yang bertemu satu sama lain di Hong Kong, dan berencana kembali ke Indonesia setelah tabungan mereka cukup untuk menikah.Bandara Doha, Qatar, adalah bandara paling multirasial yang pernah aku lihat. Ada banyak orang Afrika dan India yang hendak terbang ke Amerika Serikat lalu transit di Doha. Ada banyak juga orang Eropa dan Amerika yang kembali dari Asia dan hendak terbang kembali ke negaranya masing-masing. Ada banyak juga pelajar atau mahasiswa yang akan pergi ke Eropa atau Amerika Serikat. Tua muda, miskin kaya, semua ada. Bandara paling warna-warni yang pernah kulihat.Narita, bandara internasional di Tokyo adalah bandara dengan kamar kecil paling canggih dan ramah pengunjung yang pernah kulihat. Water closet-nya memiliki satu panel dengan berbagai tombol. Ada tombol musik yang bisa digunakan untuk ‘menyembunyikan’ suara yang kamu buat hehe, ada pula tombol yang mengatur titik-titik di mana air disemprotkan dan seberapa dingin/ hangat airnya. Selain itu, di Narita juga ada ruang ganti dan kamar mandi (dengan shower) sendiri. Petugasnya pun ramah-ramah dan super sopan. Jika kamu harus transit selama lebih dari 3 jam di sini, kamu akan merasa nyaman dan tenang.Pesawat udara yang mendarat di Pittsburgh saat puncak musim gugur juga benar-benar luar biasa. Masih banyak pepohonan di Pittsburgh, dan warna yang muncul saat peak of fall foliage banyak macamnya. Saat pesawatku hendak mendarat, aku bisa melihat pepohonan ini menyerupai brokoli warna jingga, merah, kuning, dan hijau. Benar-benar cantik.Tahun lalu, saat aku menunggu untuk menjemput temanku di Boston Logan International Airport, aku duduk santai membaca catatan pelajaranku. Di hadapanku, ada dua orang lelaki yang grasak-grusuk, terlihat benar-benar grogi. Seorang lelaki memegang handycam kecil, merekam semua gerak-gerik lelaki yang lain. Berkali-kali mereka mengecek jam tangan mereka. Saat seorang perempuan yang mereka tunggu turun dari eskalator pintu kedatangan di lantai dua, mereka memeluknya. Kemudian lelaki yang tidak merekam mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, membukanya. “Will you marry me?” tanyanya. Orang-orang lain di sekitar mereka mulai tertarik dan memperhatikan mereka berdua. Saat si perempuan mengangguk kecil, sontak seluruh penonton dadakan bertepuk tangan dan berteriak riuh. Aku pun tersenyum dan ikut bertepuk tangan.

Tebak, di bandara mana sajakah foto-foto di atas diambil?Untuk bandara tepat di pinggir laut, seperti HKIA, Logan, dan Soekarno-Hatta, jika kamu lepas landas/ mendarat saat matahari terbit/ terbenam, ada pemandangan luar biasa yang kamu lihat. Biasanya, aku tiba di HKIA pagi hari, sesaat sebelum matahari terbit. Pesawat biasanya datang dari arah laut, dan mendekat turun ke jalur pendaratan. Aku bisa melihat dengan jelas lampu-lampu yang dinyalakan di kapal laut-kapal laut di bawahku, dan juga semburat tipis dari arah matahari terbit. Bagiku, bandar udara, mungkin adalah tempat dengan kuantitas dan kualitas emosi terbesar, mampu menyandingi tempat peribadatan dan rumah sakit. Apa cerita bandaramu?

Advertisements

2 thoughts on “Bandar Udara yang Romantis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s