Keputusan (Kraton) Yogyakarta

Apa yang akan terjadi jika Sultan Hamengkubuwono IX tidak mengirimkan pesan pada Soekarno untuk bergabung dengan Indonesia pada tahun 1945?

GKR Hayu dan KPH Notonegoro.



Ada sebuah perhelatan besar seminggu lalu di Yogyakarta. Salah satu putri Sultan Hamengkubuwono X, GKR Hayu, menikah dengan KPH Notenegoro, pria yang sudah menjadi kekasihnya selama sepuluh tahun terakhir. Ceritanya dapat ditemukan dengan mudah di jejaring sosial. Berikut ini kutipan resmi dari halaman webpage pernikahan beliau berdua.

“Iya, waktu itu, Jeng Ratu sudah dilepas ke New York sendirian buat kuliah. Saya kagum dengan keberanian dan kemandirian dia. Saya juga nggak pernah mendengar Jeng Ratu berkeluh kesah selama kuliah sendiri di luar negeri.” Noto menambahkan. “Sejak itulah saya kagum dengan Jeng Ratu Hayu. Menurut saya dia perempuan yang strong, independent, intelligent, dan passionate.” lanjut Noto lagi.
Baca kelanjutannya di:  http://kratonwedding.com/story/#uJM7xVI5m2JPfhyE.99

Di zaman jaringan sosial media seperti ini, pernikahan orang-orang besar sudah menjadi konsumsi umum, perayaan bersama, semua orang boleh bersuka cita. Pihak Kraton sepertinya tahu dengan perkembangan ini dan memutuskan untuk meliput acara besar ini lewat sosial media. Bagiku, yang tinggal beribu-ribu kilometer jauhnya dari kota favoritku, liputan mereka di sosial media sungguh membuatku senang.


Ada pula Instagram-nya.

//platform.twitter.com/widgets.js

Dan tentu saja ada Twitter-nya.

Tak kelupaan, ada website live streaming-nya di http://kratonwedding.com/.

Tahun lalu, adik dari GKR Hayu juga menikah, dan perhelatannya di dalam media sosial tidak kalah ramainya.

Keputusan (Kraton) Yogyakarta untuk bergabung dengan Indonesia, mungkin tak ada yang protes saat ini. Ada kemungkinan Yogyakarta jika tidak bergabung dengan Indonesia akan berdiri sebagai negeri sendiri, kerajaan sendiri, yang walaupun wilayahnya kecil, tetapi bisa jadi sangat makmur, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.

Tetapi, bergabungnya Yogyakarta sangat menguntungkan Indonesia secara umum. Ada pribadi-pribadi luar biasa, pemikir-pemikir pintar, ide-ide besar, budaya yang kuat, serta keragaman yang daftarnya panjang lahir dari provinsi istimewa ini.

Kalau Yogyakarta berdiri sendiri hingga saat ini, aku akan menyandang identitas sebagai orang Yogyakarta, bukan orang Indonesia. Secara teknis, terhadap Indonesia, aku adalah orang asing. Wow.

Keputusan (Kraton) Yogyakarta untuk bergabung Indonesia dulu, tidak salah. Keputusan (Kraton) Yogyakarta kali ini juga tidak salah, mengasimilasi adat budaya dengan media modern.

Selamat untuk GKR Hayu dan KPH Notonegoro. Semoga menjadi keluarga yang luar biasa dan diberkahi Allah. Kapan-kapan main ke Boston, ya, jangan di New York terus, aku ingin kenalan. Omong-omong, KPH Notonegoro dulu SMP-nya sama denganku, lho! Hehe.
Advertisements

2 thoughts on “Keputusan (Kraton) Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s