Teropong Pengintip Masa Depan: Belajar Bahasa Indonesia

English translation of this post is available after the Indonesian part.

Sebuah pertanyaan tiba-tiba datang di pikiranku, saat aku debugging tugasku dengan MATLAB siang ini. Apa yang akan kamu lihat di dalam teropong yang bisa mengintip masa depan? Atau lebih tepatnya, apa yang ingin kamu lihat di dalam teropong yang bisa mengintip masa depan?


Kutarik kursiku, kuregangkan kedua lenganku. Ping! Bunyi Google Hangout mengagetkanku. Sebuah pesan singkat dari adikku yang saat ini kelas 12 SMA, rupanya. Dia bertanya tentang cara mengerjakan soal tentang volume benda putar yang cukup sulit. Dipikir-pikir, saat ini sudah lewat tengah malam di Indonesia, dan adikku masih latihan soal-soal dan mengerjakan pekerjaan rumahnya.



Aku yakin, kita semua punya pengalaman dan cerita yang serupa. Tugas yang menumpuk, tuntutan yang berlebih, serta tekanan dari sana-sini. Bisa kubayangkan, saat ini adikku pasti berpikir, “Aku tidak boleh mengecewakan orang tuaku. Aku harus masuk universitas negeri X, supaya orang tuaku tidak menyesal telah membesarkan aku.


Dulu pun aku merasa begitu, terutama saat SMA. Parameter kesuksesannya begitu jelas: harus lulus UN dengan nilai memuaskan, serta masuk universitas negeri supaya tidak memberatkan orang tua. Aku cukup beruntung karena berhasil ‘lepas’ dari proses itu dengan meneruskan SMA-ku di Amerika Serikat saat baru saja naik kelas 12. Praktis, aku lulus saat ‘kelas 13’ dari SMA-ku di Amerika Serikat.


Apakah mengerjakan soal-soal saja cukup sebagai proses belajar? Seringkah kamu melihat adik-adik, teman-teman, atau kakak-kakak yang tidak siap dengan bangku kuliah setelah lulus SMA karena melihat betapa ‘jomplang’-nya sistem pengajaran di SMA dan di universitas?


Ada pengalaman yang tak terlupakan dengan pelajaran self-taught Bahasa Indonesiaku di SMA-ku di AS ini. Karena judulnya self-taught, alias belajar sendiri, aku benar-benar mengerjakan tugas dan belajar sendiri. Ada 13 buku yang harus kubaca dan kuanalisis selama setahun, dan di akhir tahun ajaran, aku harus mengikuti tes oral mengenai buku yang telah kubaca. Suaraku presentasi lalu direkam lalu dikirimkan ke penguji di belahan dunia lain. Selain itu, ada 2 paper yang harus kukerjakan, masing-masing butuh waktu 2 hingga 3 jam, mengenai analisis teks yang belum pernah kubaca sebelumnya, serta tentang buku yang sudah kubaca sebelumnya.


Saat ini, ketika aku mengingat-ingat lagi masa itu, rasanya benar-benar nostalgik. Tak pernah aku membaca semua buku sastra Indonesia semacam Robohnya Surau Kami, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Layar Terkembang, hingga aku mengambil kelas self-taught Bahasa Indonesia. Padahal sebelumnya, aku belajar Bahasa Indonesia di Indonesia. Tetapi hingga aku naik kelas 12, aku hanya tahu bagaimana caranya menulis beragam bentuk teks, tata bahasa dan sintaksis, serta mengerjakan soal pilihan ganda. Apa hanya itu saja kemampuan yang didapatkan anak SMA saat mereka lulus? Aneh sekali, bukan? Aku merasa, ada yang salah dengan bagaimana Bahasa Indonesia diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.


Kembali ke teropong pengintip masa depan. Berdasarkan pengalamanku, aku ingin melihat Bahasa Indonesia diajarkan sebagai suatu entitas yang penuh; sebagai jembatan untuk mengenal bangsa, budaya, serta kultur masyarakat kita sendiri. Aku masih ingat, bagaimana asyiknya membandingkan Sukreni Gadis Bali dengan Robohnya Surau Kami: bagaimana masyarakat Bali menghadapi gesekan, bagaimana Tuhan dilihat dari sisi yang berbeda, dan banyak hal lainnya. Aku tak mau lagi adik-adikku harus menulis esai yang hanya dibatasi tiga baris saja tentang wacana satu paragraf. Padahal sebuah analisis tentang satu paragraf tidak hanya melulu soal unsur intrinsik atau tata bahasa, yang tergolong hanya ‘kulit’-nya saja. Every literature always goes beyond that.Ada unsur ekstrinsik, yaitu proses bagaimana pengarang melahirkan suatu karya tulis, hingga bagaimana latar belakang serta pengaruh budaya dan sosial pengarang memengaruhi karya tulisnya. Karena itu, jangan heran mengapa kebanyakan dari kita, orang Indonesia, beropini dan berkemampuan analisis terbatas. Bagi kita, analisis hanyalah untuk mata pelajaran eksak dan matematika, yang sama sekali tidak benar.



Hingga saat ini, aku masih ingat, betapa menyenangkannya mengemukakan pendapat dan persepsiku mengenai si tokoh yang beribadah terlalu banyak di Robohnya Surau Kami, atau bagaimana peran wanita selalu dinomorduakan di tata sosial masyarakat Indonesia berdasarkan novel Siti Nurbaya. Walaupun kita si empunya identitas milik kita sendiri, kadang kita masih perlu belajar mengenai identitas kita sendiri. Dalam ranah ilmu pengetahuan, sudah lazim hukumnya bagi kita untuk merunut bagaimana masyarakat kita sampai pada titik ini, sampai pada identitas yang sekarang ini. Analisis buku adalah salah satu caranya, memberikan dan mendengarkan berbagai persepsi adalah medianya. Tetapi, apa yang kita lakukan untuk menguji kebahasaan peserta didik kita di Indonesia? Pilihan ganda. Bayangkan, seberapa terkekangnya interpretasi yang dimiliki anak-anak Indonesia! Mereka hanya tahu caranya memilih ‘jawaban terbaik’ dari pilihan A sampai E, alias lima pilihan saja. Aku tak ingin hal ini terlihat di teropong masa depanku.


Jangan salahkan orang-orang Indonesia karena kita tak memiliki budaya membaca yang kuat. Salahkan pendidikan kita yang tidak mendidik kita untuk menanamkan budaya membaca. Aku masih ingat temanku di SMA mengeluh, “Aduh, ini wacananya panjang sekali,” meskipun wacananya hanya dua lembar saja.


Tahukah kamu, jika kemampuan Bahasa Indonesia adik-adik kita yang lulus SMA boleh dibilang sama dengan kemampuan bahasa kedua yang dimiliki adik-adik kita di luar negeri? Ya, benar sekali. Mengetahui beragam bentuk teks, tata bahasa, merespons pertanyaan, mengambil inti wacana, sangat lazim dimiliki sebagai kemampuan bahasa kedua. Sementara itu, kemampuan bahasa pertama, alias bahasa ibu, harusnya jauh di atas itu, seperti yang telah aku paparkan di atas, yaitu kemampuan menelisik lebih dalam budaya di dalam bahasa ibu itu sendiri.


Hal ini tidak akan berubah, kecuali jika pemerintah kita berbaik hati untuk tidak korupsi lagi, lalu mengalokasikan dana lebih untuk pendidikan, serta merombak sistem pendidikan itu sendiri. Merombak cara kita belajar bahasa kita sendiri.



Karena aku ingin masa depan diriku, teman-temanku, adik-adikku, anak-anakku, bahkan cucu-cucuku yang yang lebih cerah, yang lebih baik dari pendahulu kami semua.


Semoga pemerintah mau mendengar aspirasi kita semua. Sehingga apa yang kulihat di teropongku, benar-benar menjadi kenyataan di masa depan: Indonesia dan kita semua yang lebih baik!


*Baru kali ini saya mencoba membuat ilustrasi sendiri, semoga hasilnya dapat diterima oleh kalian semua, ya.


***


Thanks to Hadian Indra Pradipto for translating this to English.


A Pair of Binoculars to See the Future: How to Learn Bahasa Indonesia

When I was debugging my assignment with MATLAB this afternoon, a question popped up on my mind. If you have a pair of binoculars that can let you see the future, what would you see?

I pulled my chair closer to the table, and stretched my arms while pondering about this question.

PING! It was my Google Hangout. My brother, who’s in 12th grade, just sent me a message. He asked about how to solve a rather difficult math problem about how to find a volume of solids of revolution.

It’s now way past midnight in Indonesia, and my brother was still practicing math problems.

I’m sure that all of us have encountered a similar situation to my sister’s right now. A mounting workload, parents who just expect too much from us, and other things that cause us a massive headache. I bet all my sister’s thinking of right now is, “I can’t let my parents down. I have to get into X university so that I won’t feel like a failure to my parents.”

I was exactly like that, especially when I was in SMA (Indonesia’s equivalent of high school). The parameters of success were clear-cut: get good grades and get into a state university. I was lucky to have an opportunity to be out of that system, as when I just stepped into grade 12, I moved to United States and finished my IB – you can say that I did grade 13 there.

Is doing practice problems enough to be really called “studying”? Do you often see friends who are caught off guard in university by how different the teaching pedagogy compared to their time in high school?

I got an unforgettable experience with my self-taughtIndonesian language subject that I took in the US. Since it’s self-taught, I had to do all the work by myself. There are 13 books that I had to read, dissect, and analyse for a year, and at the end of the academic year, I had to sit for an oral examination about the books that I had read. My presentation was recorded and sent halfway around the world to the examiner to be marked. I also had 2 papers to write and each took about 2 to 3 hours to complete. One asked me to analyse an unseen text and the other asked me to answer an essay question about a book i had read for the course.

Now I feel nostalgic when I reminisce about those moments.

Before I came to the States I had never read Indonesian books such as “Robohnya Surau Kami”, “Siti Nurbaya”, “Salah Asuhan”, and “Layar Terkembang”.

And I was studying Indonesian Language and Literature in Indonesia.

However, even until I reached grade 12, I only knew how to write various genres, recognize grammar and syntax, and do multiple-choice questions.

Is that the level of skill that an SMA student will have when they graduate? That’s strange, isn’t it? I feel that there is something wrong about how the Indonesian language is taught in Indonesian schools.

Back to my binoculars. I want to see the Indonesian language being taught in its entirety, as a bridge to explore the customs and cultures of our fellow Indonesians.

I still remember how interesting it is to compare “Sukreni Gadis Bali” and “Robohnya Surau Kami”: how the Balinese people deal with cultural frictions, how God is seen from different perspectives, and many more.

I don’t want to see my juniors to have to write an “essay” that is limited to only three lines about a one-paragraph passage. An analysis about a passage should not just be about the use of language in it and its meaning in passing – which only touches the passage at the surface level.

Every literature always goes beyond that.

There is an also extrinsic element to it, which is about how the author expresses himself through his use of language, and also about how his background – his cultural and societal influences – shows through his writing. Don’t be surprised, then, when we see that a lot of us Indonesians have such a limited ability to make a fully substantiated opinion.

Because for us, analysis should only be reserved for the sciences and mathematics, which is completely missing the whole point.

Until now, I still remember how glad I feel about voicing my own opinion and perception about the character who prayed too much in “Robohnya Surau Kami”, or about how women were always treated as second-class citizens in the Indonesian society in the novel “Siti Nurbaya”. Sometimes we need to learn about our own identity although technically our identity is ours to begin with.

We have the obligation to trace how our society became the way it is now – how it adopts its current identity. Analysing literature would be one method, as it would give us a chance to listen to differing perspectives. However, what does the Indonesian education system do to test its students’ language proficiency?

Multiple-choice questions.

Just imagine how limiting such a simplistic method would be. Students would only know how to pick the “best answer” from 5 choices – A to E. I don’t want to see this situation through my binocular.

Don’t blame Indonesians because we don’t have a strong reading culture. Blame our education system instead. It doesn’t encourage us to read. I still remember a classmate in SMA who said, “God, this passage is so long!” when the passage is only two pages long.

Besides, do you know that our SMA graduate’s Indonesian language proficiency is only on par with a proficiency of a second language that our peers overseas would have?

Having the knowledge about various genres, grammar, short response to questions, finding the thesis of a passage – they are all cornerstones of mastering a second language. Meanwhile, the proficiency of a mother tongue should be much better than that. With our mother tongue, we should be able to understand and explore our own culture.

This status quo won’t change, unless the Indonesian government does something about it, be it allocating a larger portion of its GDP towards education, or radically changing the education system itself.

To change how we learn our own language.

I’m writing all this because I want a better future for my generation and the generation that would follow.
I hope that someone in the parliament hears this. So that what i’m seeing through my binoculars really comes ture: A better Indonesia, and a better us.
Advertisements

6 thoughts on “Teropong Pengintip Masa Depan: Belajar Bahasa Indonesia

  1. banyak orang berpendapat kepintaran dibagi menjadi dua, academic smart dan street smart. academic smart berhubungan dengan buku-buku, tulisan, dan sumber-sumber lain yang memuat tentang teori. sedangkan street smart merupakan hasil pembelajaran dari pengalaman hidup kita sehari hari. di indonesia rata-rata anak sma lebih dituntut mementingkan academic smart-nya, mereka setiap hari diberi puluhan soal latihan tanpa mengetahui alasan untuk mempelajari hal tersebut. hasilnya mereka hanya menjadi generasi “pengerja” soal. kepintaran sebenarnya tidak dapat hanya mengandalkan salah satu dari academic smart atau street smart, karena smart is just smart

    Like

  2. jujur, saya sebgai anak Indonesia merasa begitu. Tapi, kalau menjadi pemerintah, saya juga bingung harus bagaimana? hehe

    ada beberapa pertanyaan di benak saya:
    1. Mengapa mbak noor titan nggak lulus SMA di Indo saja? 😀
    2. itu kak hadian orang Indonesia ya mbak?

    Nanti kalau ada pertanyaan yang lewat, akan saya tanyakan lagi 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s