Necessities Courtesy Bag: Fitrah yang Berbeda

Foto diambil dari sini.

Wanita berbeda dari pria. Wanita punya kebutuhannya sendiri, pria pun begitu. Apakah Necessities Courtesy Bag ini? Di kampus saya, di tiap toilet wanitanya, pasti ada tumpukan kantung kertas ini. Fungsinya adalah sebagai tempat bekas pembalut, agar tidak berceceran di mana-mana ketika dibuang ke tempat sampah. Makanya, kantung ini disebut juga ‘kantung kebutuhan agar sopan’ -kurang lebih seperti itu.

Meskipun desainnya terlihat imut: bunga dan batang berulir, kantung ini memiliki tugas serius, supaya si custodian tak perlu berjijik ria saat harus mengangkat kantung sampah dari tempatnya untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Jika pria melihat kantung-kantung ini di toilet mereka, mereka jelas akan bingung. Yang ada, mereka kira ini kantung yang sama dengan airsickness bag, alias kantung muntah di atas pesawat.

Foto diambil dari sini. Luar biasa ya, orang yang mengambil 20 kantung muntah dari maskapai penerbangan yang berbeda ini. Sebuah cara lain yang aneh untuk mengatakan, “Saya seorang penjelajah dunia.”

Jadi begini, pria dan wanita itu, dari urusan belakangnya pun sudah berbeda. Apalagi soal interpretasi, pemikiran, ekspektasi, dan isi hati. Tak usah ditanya atau dibedakan, karena memang sudah begitu fitrahnya.

Saya, sebagai wanita, tentu senang, karena kami punya akses yang lebih luas terhadap pendidikan, lapangan kerja, dan kegiatan macam-macam dibandingkan wanita-wanita zaman dahulu yang masih nrimo-nrimo saja dengan pernyataan, “Wanita dijajah pria.” Tak terpikirkan rasanya, kalau saya hidup di zaman Ibu Kartini dulu, bagaimana caranya saya bisa bersekolah dan mengambil jurusan teknik seperti sekarang ini. Rasanya hampir mustahil.

Tetapi sayangnya, selalu ada yang melebih-lebihkan dan mengurang-kurangkan dari porsi yang semestinya. Selalu ada titik ekstrim di semua perkara.

Kalau misalkan mau disamaratakan dengan gender yang lain, ya jangan bilang, “Kamu yang bayarin makannya, ya, ‘kan biasanya cowok yang bayar makannya kalau kencan,” atau, “Kamu bawain semua tas belanjaanku ya, kamu ‘kan cowok.” Hal ini juga berlaku dengan pria. Jangan tanya jumlah pria yang menolak membantu istrinya/ ibunya dengan dalih, “Itu ‘kan pekerjaan wanita, mengapa saya harus membantu?”

Itu namanya, mau ambil enaknya sendiri. Kalau soal hak sendiri, kamu berkoar-koar minta disamaratakan, tetapi kalau soal kewajiban, kamu mulai melempar ke gender yang lain. Sayangnya, tidak bisa begitu.

Wanita, fitrah kita memang berbeda dari pria, tetapi jangan jadikan itu alasan untuk mengambil jalan tengah yang hanya enak buat kita sendiri. Saya juga masih mencoba untuk mengurangi hal ini, meskipun budaya kita memang kental dengan lebarnya perbedaan antara pria dan wanita.

Mari raih dunia kita, dengan kekuatan kita, bukan dengan privilese atau pengurangan hak yang kita dapatkan sebagai wanita. Porsi pas, tak berlebihan, pastinya jauh lebih nikmat, senikmat teh melati manis di pagi hari. Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s