A Short Conclusion

Saya punya pertanyaan singkat, apa yang manusia bisa dapatkan/ hadapi dalam setahun? Mungkin jawabanmu seperti di bawah ini:

  1. Semakin dekat dengan wisuda, karena beban kuliah berkurang sebanyak dua semester. Atau, semakin dekat dengan limit DO, kalau tidak bergegas menyelesaikan skripsi.
  2. Satu kali ber-Idul Fitri dan ber-Idul Adha. Berkaitan dengan hal ini, saya ingin mengucapkan, “Selamat Idul Fitri, semoga amal ibadah kita diterima Allah, dan semoga progres ke atas kita selama Ramadan kemarin, dapat berkelanjutan di masa depan. Saya juga minta maaf atas semua hal yang mungkin saya utarakan, lakukan, atau pikirkan, yang mungkin menyakiti Anda.”
  3. Memasuki a whole new decade. Yang asalnya satu digit umurnya, sekarang jadi dua digit. Yang belasan jadi dua puluh tahunan, dan diikuti dengan sindrom macam-macam (baca: sensitif terhadap deadline turning point kehidupan: lulus S1, bekerja, berkeluarga, dsb.). Yang dua puluh tahunan jadi tiga puluh tahunan (baca: “Mengapa wajahku semakin berkerut? Mengapa aku semakin terlihat tua?”). Yang tiga puluh tahunan jadi empat puluh tahunan (baca: “Orang bilang empat puluh tahunan adalah usia matang, sementara saya masih mengejar semuanya: karir dan keluarga. Apa yang salah?”). Dan seterusnya. Hingga akhirnya sadar, kalau dekade baru tak ada apa-apanya dibandingkan mengkhawatirkan kematian.
  4. Setahun bisa jadi rasanya seperti sejuta tahun, karena menunggu. Menunggu kesempatan datang, menunggu orang yang disayang, atau menunggu kenaikan honor untuk bayar utang.
  5. Setahun juga bisa jadi jeda waktu di mana masalah seolah tak berhenti bermunculan. Hidupmu terbolak-balik, jumpalitan. Kamu hanya bisa berharap, setahun ke depan tidak hanya masalah yang kamu dapatkan.

Bagiku, setahun terakhir adalah waktuku untuk berpikir keras, “Mengapa Allah selalu memuluskan jalanku hingga aku sampai ke titik ini (dengan golden track: SDN Cimahi 2, SMPN 1 Cimahi, dan SMAN 3 Bandung)?”

Tadi pagi, saat aku mengantar kakakku ke supermarket terdekat untuk membeli pengharum dan pelembut pakaian, aku sadar akan sesuatu.

“Mungkin targetku selama ini terlalu dangkal. Selama aku gagal mencapai target itu, aku akan terus mengejarnya. Dia ingin membuatku berpikir, menaikkan targetku, dan mengejar target yang lebih mulia, sehingga dia membuatku mencapai targetku yang dangkal (penjelasan lebih rinci di bawah) tanpa kesulitan berarti.”

Lalu bagaimana dengan teman-temanku yang belum bisa mencapai suatu target? Apakah target mereka berarti sudah mulia (karena itu susah dicapainya)?

“Tidak juga. Kamu akan mencapainya -suatu hari, tetapi ada target lain setelah itu yang kamu belum siap untuk hadapi. Karena itu, dalam mencapai target sebelumnya, kamu dilatih untuk target yang akan datang setelahnya.”

Target yang dangkal itu independen terhadap tingkat kesulitan target tersebut, dan target yang dangkal untukmu bukan berarti dangkal untuk orang lain. Independen terhadap subjek juga, berarti.

Entahlah. Mungkin saya juga sebenarnya tidak tahu apa-apa. Terima kasih telah bersedia membaca hingga akhir pos ini.

Advertisements

2 thoughts on “A Short Conclusion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s