Rasa Indonesia di Batas Dunia

Ada satu hal luar biasa mengenai hubungan antar-manusia, mengenai kelompok kecil, negara, kesukuan, serta budaya, bahasa, dan rasa saling memiliki. Kamu, yang lahir dan dibesarkan di negara bernama Indonesia, kemudian pergi merantau, membawa apa yang kamu sebut identitas dirimu.

Beruntunglah aku, yang menemukan komunitas orang-orang Indonesia di daerah Boston. George Sherman Union, Boston University, menjadi saksi hari Sabtu yang luar biasa: Indonesian Cultural Night 2013 yang diadakan Perhimpunan Mahasiswa di Amerika Serikat (Permias)- Massachusetts.

Jujur, awalnya aku agak skeptis, ketika aku ditawari untuk ikut menari Saman dengan 6 teman-teman dari Indonesia lainnya. Masih ingat Southeast Asian Cultural Night yang diadakan di MIT? Saat itu, untuk tari Saman, kami berlatih hingga 3 minggu sebelumnya secara rutin, minimal 2 kali seminggu. Tetapi ternyata teman-teman baruku yang tidak hanya dari MIT, tetapi juga dari Boston University dan Harvard, benar-benar cepat dalam menghafal gerakan baru. Hasilnya luar biasa!


 Foto ini diambil oleh Rafael Widjajahakim.
Jangan lihat pipiku! Iya, aku tambah gendut -_-

Aku sebenarnya tidak menyangka, kalau ada banyak sekali orang Indonesia yang bekerja, berkeluarga, belajar, dan hidup di daerah Boston. Ada banyak anak kecil blasteran wara-wiri berlari, ada juga ibu-ibu dan bapak-bapak muda yang bercerita soal pasangannya yang baru sekali dibawa ke Indonesia dan dikenalkan pada sanak saudara di sana. Ada mahasiswa yang mengeluh soal tugas yang menumpuk, tetapi tetap bersemangat tampil dan membantu terwujudnya acara ini. Ada beberapa mahasiswa yang bahkan sengaja membawa satu koper penuh makanan (dan bahan makanan) untuk acara ini saat terakhir kali kembali dari Indonesia. Di pojok kecil, ada dua orang yang berjualan dengan semangat, “Kamu mau beli lidi pedas? Ini dibawa langsung dari Indonesia loh!”
Manusia-manusia luar biasa ini berasal dari Indonesia. Saat aku menyadari itu, aku terhenyak. Terlalu sering aku memberi stigma negatif terhadap bangsaku sendiri.
Masih segar di telingaku, omongan orang-orang sekitar saat di Indonesia atau keyakinanku saat aku akan berangkat ke sini, “Kamu (aku) nanti langsung pulang ya, begitu selesai sekolah. Harus kembali dan membangun Indonesia!”
Sepertinya aku harus menelan ludahku sendiri. Orang-orang ini hidup di negeri lain, dan tidak kembali. Mereka tidak membantu Indonesia? Tidak juga. Ada desainer yang merancang busana bernafaskan Indonesia dan batik. Ada peneliti yang bekerja dengan peneliti lain yang datang dari negara maju dan berjuang untuk kemaslahatan umat manusia (di dunia, bukan lagi level per negara saja). Ada yang berkeluarga dan bekerja, serta membantu keluarganya di kampung halaman, di Indonesia.
Kembali dan membangun Indonesia? Cih. Kata-kata yang lebih tepat adalah, tetap membangun Indonesia. Mereka tidak perlu kembali, karena mereka tidak pernah pergi. Hati mereka tetap bersama Indonesia dari awal, bahkan saat mereka menetapkan niat untuk tidak kembali. Mereka punya cara sendiri, yang kadang tidak dimengerti orang awam di Indonesia. 

Terima kasih Noor Titan? Terima kasih Permias Massachusetts! Kapan-kapan acara makan-makannya lebih sering ya, hehe.

PS. Sepuluh hari lagi aku pulang ke Indonesia! Hore! 🙂 Doakan aku semoga UAS-ku lancar, dan aku bisa mengakhiri freshman year-ku di MIT dengan luar biasa, ya 🙂
Advertisements

One thought on “Rasa Indonesia di Batas Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s