Untuk Bumi yang Kita Tinggali (dan Warga Greater Boston Area, Terutama MIT)

Halaman utama MIT Website hari ini

Seminggu terakhir merupakan satu minggu yang tak terbayangkan akan jadi bagian hidupku. Aku kira, bom Boston yang terjadi saat acara Boston Marathon akan jadi hal mengerikan terakhir di pengalaman hidupku. Aku pun berpikir hal yang sama dengan Tsunami di Aceh sebelumnya, bom Bali, dan juga gempa Yogyakarta yang menimpa keluarga besarku sebelumnya.

Mungkin aku bukan korban langsung dari kejadian ini. Bukan aku yang kena Tsunami, bukan aku yang kena gempa, bukan aku yang kena bom. Tapi tetap saja ada rasa terluka, karena orang-orang yang aku kenal, atau punya background yang sama denganku, mengalaminya secara langsung.

Penembakan di MIT

Semalam, saat aku sudah bersiap di atas tempat tidurku, aku mengecek jejaring sosial dan membalas beberapa surel sebelum tidur. Tiba-tiba, tweet dari akun resmi MIT (@MITnews) mengagetkanku:

Sebelumnya, pernah ada false report mengenai seseorang bersenjata api di lingkungan kampus MIT.

Jadi, insiden semalam itu awalnya kukira hanya false report. Maklum, belakangan ini warga sekitar Boston jadi super-sensitif dan melaporkan apa saja yang menurut mereka mencurigakan.

Ternyata, kali ini bukan false report. Salah satu polisi MIT, dikabarkan meninggal karena tembakan. Polisi yang bernama Sean Collier, umur 26 tahun itu, merupakan salah satu polisi patroli kampus. Lokasi kejadiannya tepatnya di dekat Building 32, Stata Center, yaitu bangunan berarsitektur unik yang sering muncul di kartu pos-kartu pos oleh-oleh dari MIT. Bangunan di mana office hours 6.S189 berada, dan kelas kimiaku semester lalu berada. Tiap hari Senin malam aku selalu lewat daerah itu, untuk tutorial kelas Mikroekonomi. Aku bergidik sendiri, seandainya penembakan itu terjadi hari Senini malam, bukan Kamis malam, apa aku masih ada di sini saat ini?

MIT Emergency Information

Sistem alert di MIT memang cukup canggih, pada saat bersamaan, pengumuman mengenai kejadian ini muncul serentak di akun Twitter MIT, Facebook MIT, website MIT, serta website khusus emergency emergency.mit.net. Mahasiswa, pegawai, serta afiliasi MIT juga mendapatkan SMS langsung mengenai kejadian ini. Timeline kejadiannya bisa dilihat di bawah ini.

Seperti yang dapat dilihat di emergency.mit.net.
Beberapa temanku sudah menanyakan kabarku, baik lewat surel, Twitter, dan Facebook. Untunglah aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian yang luar biasa, dan mohon doanya agar segala sesuatunya cepat kembali aman, seperti semula. Tetapi, masih ada beberapa hal yang mengganjal.
“Harusnya…”
Walaupun hari ini tak ada kelas, aku tidak merasa senang seperti biasanya. Ada  pertanyaan yang lebih mendesak untuk dijawab, “Haruskah polisi Sean meninggal karena tugas? Haruskah pelari Boston Marathon terluka saat mereka berlari? Haruskah keluarga dan teman seseorang yang terbunuh bukan karena kesalahannya sendiri, berduka?”
Ada banyak sekali hal yang bisa dicegah, dan ditanggulangi, adaa dendam yang bisa diredam, dan ada pula protes sosial yang bisa disampaikan dengan cara yang lebih sehat. Ada dunia di luar sana, yang lebih nyaman untuk ditinggali, jika gesekan antar-manusia bisa dikendalikan. 
Hari ini, harusnya aku mengumpulkan hasil project DC Motor-ku, untuk kelas Fisika II, dan bisa mendengar langsung komentar dosenku mengenai hal ini. Saat SMP, aku mengambil mata pelajaran Elektro, dan desis solder serta arus yang mengalir di kabel dan sirkuit yang rumit selalu membuatku tersenyum.
Hari ini, harusnya aku bisa makan siang di ESG lounge, menikmati ramen lezat buatan temanku yang mendapatkan giliran masak minggu ini, dan menikmati talk yang disampaikan oleh Professor Walter Lewin, professor legendaris di Departemen Fisika MIT, yang video kuliahnya yang benar-benar menarik bertebaran di Youtube.
Hari ini, harusnya aku pergi ke The Esplanade, melihat sunset dan bermain ayunan bersama teman-temanku. Mengobrol sana-sini soal seminggu terakhir, karena aku dan mereka belakangan ini jarang sekali bertemu karena sama-sama sibuk.
Berapa banyak “Hari ini, harusnya…” yang muncul jika kita menggabungkan semua hal yang harusnya  warga Boston bisa lakukan? Berapa banyak “Harusnya…” yang muncul jika kita memikirkan semua hal yang terjadi di seluruh dunia? 
Harusnya, A bisa ke sekolah, tetapi pemerintah tidak membangun sekolah di daerah tempat tinggalnya yang termasuk pedalaman. Harusnya, B bisa lulus UN karena kemampuannya yang di atas rata-rata, tetapi karena sistem UN yang sedemikian rupa dan B bukan seorang test-taker, dia tidak lulus. Harusnya, C bisa makan tiga kali sehari, tetapi karena harga bahan pokok naik, dan sistem bantuan pemerintah yang tidak keruan, C hanya bisa makan sekali sehari hasil mengemis.
Semoga runtutan kejadian ini mampu membuat kita (baca: saya), lebih waras dalam hidup.
Untuk warga Greater Boston Area, terutama MIT dan keluarga korban: Anda, saya, dan kita semua, lebih kuat daripada yang kita selalu bayangkan. Apa yang terjadi pada Anda, saya, dan kita semua, merupakan pemantik api perubahan dan kesadaran. Anda dan beberapa dari kita mungkin kehilangan orang yang kita cintai, dan mungkin Anda, saya, dan kita semua, sedang berada dalam constant fear saat ini: suara helikopter yang terbang di atas rumah kita, sirine mobil polisi dan ambulans yang tidak berhenti-berhenti, serta kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak kita inginkan. Anda, saya, dan kita semua, akan melewatinya. 
Penuh cinta dari kampus MIT,
Noor Titan
Advertisements

7 thoughts on “Untuk Bumi yang Kita Tinggali (dan Warga Greater Boston Area, Terutama MIT)

  1. Assalamu’alaikum wr wb.
    Kalau boleh tau (maaf) dahulu ananda Noor Titan asli dari mana, dari SMA mana ? Bgm dg kegiatan Ibadah umat Muslim di MIT apk tidak ada kendala? Ada brp mhs asal Indonesia S1 MIT yg langsung dari SMA di Indonesia ? Apk ada beasiswa yg berkesinambungan beasiswa S1 terus S2 terus S3 sprti Titan? Ada tidak beasiswa PhD/ScD di MIT yg tanpa batasan usia ? (misalnya Usia sdh 56 thn tp ingin ambil PhD/ScD dg beasiswa ?)
    Trm ksh. Semoga Titan Selalu sukses.

    Like

  2. Waalaikumsalam wr wb.
    SMA saya 2 tahun di SMAN 3 Bandung, 2 tahunnya lagi di UWC-USA. Alhamdulillah, ibadah lancar, dan di sini ada komunitas Muslim yang kuat juga. Kebanyakan mahasiswa S1 Indonesia di sini justru SMAnya di Indonesia, tiap tahun pasti ada setidaknya satu orang yang diterima di sini.
    Untuk beasiswa PhD/ScD sejujurnya saya kurang tahu, coba Google dulu, karena untuk masuk ke program S2 atau S3, itu spesifik ke departemennya. Untuk saat ini, saya hanya tahu proses masuk S1 ke sini.
    Terima kasih, salam kenal, sukses selalu.

    Like

  3. Assalamualaikum wr.wb. halo kaka noor!!! Nama ku abraar. aku kelas 6sd, aku juga kepengen bgt masuk ke MIT, kaka ceritain dong perjalanan hidup kaka dari sd sampe bisa ke MIT ini. Supaya bisa jadi motivasi ka, hehe :-):-):-) .

    Like

  4. Assalammualaikum kak Noor
    mau nanya nih , kalo misalnya lulusan SMA 2009 dan sampai sekarang nganggur apa masih ada kemungkinan masuk MIT jenjang S1 ?
    apakah sistem penerimaan calon mahasiswa S1 disana sama dengan SNMPTN di Indonesia ?
    yg membatasi kesempatan mendaftar sebanyak 3 kali setelah lulus SMA.
    misal 2009 gagal masih ada kesempatan di tahun berikutnya sampai tahun 2011.
    Terima kasih , semoga tetap sukses di sana kak Noor.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s