Tiga Nama Satu Tujuan // Satu Nama Ratusan Tujuan

*Entri kali ini akan menjadi salah satu entri tipikal saya: satu entri dengan dua atau lebih inti. So, please, bear with me, hehe.

Tiga Nama Satu Tujuan

Belakangan ini linimasa saya ribut. Akibat mengikuti beberapa akun hardcore mahasiswa ITB, saya jadi tahu soal Pemira ITB 2013, alias pemilihan Presiden Keluarga Mahasiswa ITB. Hanya ada dua calon yang maju, dan kedua-duanya berasal dari SMA yang sama dengan saya.
Kota Bandung yang bersiap memilih Walikota barunya pun tak kalah panas. Sampai terakhir kali saya membaca Detik, sudah ada delapan pasangan yang bersiap maju untuk membangun Kota Bandung menjadi lebih baik. Salah satu calonnya, Ridwan Kamil, juga berasal dari SMA yang sama dengan saya (walaupun beliau lulusan angkatan yang dulu-dulu). Nama beliau terdengar familiar sebelumnya, tetapi awalnya saya tidak yakin. Google selalu punya jawabannya.
Setrumnya sama. Seperti saat kamu menemukan manusia-manusia cerdas Indonesia lainnya yang berbicara soal ide besar mereka merubah negeri ini. Sejenak harapanmu melambung; ada masa depan yang lebih baik menunggu anak cucumu.
Bangga kamu, Tan? Hehe, iya. Sekaligus menodong dan membuat saya percaya bahwa saya adalah produk kaderisasi gagal. Sebenarnya, lebih tepatnya, saya memilih menjadi produk kaderisasi gagal. Rekor teng-go paling panjang selama saya bersekolah saya raih ketika bersekolah dua tahun di SMA yang sama dengan para pemimpin-pemimpin luar biasa di atas. Tanpa ekstrakurikuler formal berkaitan dengan sekolah. Dengan latar belakang saya yang seperti ini, kamu berhak untuk menutup jendela halaman ini, atau skip bagian ini dan langsung membaca bagian berikutnya dari blogpost ini.
Kadang saya bertanya, “Apakah yang orang tua rasakan dulu, saat mereka dalam tahap yang sama seperti aku, masih muda belia? Apakah mereka terbuai dengan fakta bahwa ada banyak pemimpin muda di luar sana yang siap menggantikan generasi lama, lalu mereka jatuh kecewa karena mereka sama saja dengan generasi lama ketika mereka menua? Apakah ada ‘garansi’ bahwa mereka tetap akan memperjuangkan apa yang awalnya mereka ingin perjuangkan sampai saat mereka rehat tiba?”
Di kampusku juga sedang ‘heboh’ pemilihan President/ Vice President Undergraduate Association (UA). ‘Heboh’? Kenapa dengan tanda kutip? Karena dibandingkan ITB yang heboh sekali di media sosial, pemilu UA di sini termasuk tenggelam. Absen dari perbincangan orang-orang. Apatis terhadap politik, begitulah orang luar mendefinisikan mahasiswa-mahasiswa di kampusku. Ada satu hal yang saya temukan: program kerja mereka benar-benar konkrit, realistis, dekat, dan sesuai dengan peran mereka. Salah satu calon P/ VP mengusulkan program kerja seperti meningkatkan teknologi dalam pendidikan dengan membuat platform terbuka supaya semua orang dapat ‘belajar’ di kampusku melalu internet. Mereka tidak bermimpi muluk-muluk soal membangun AS yang lebih baik, misalkan.
Kenapa jauh berbeda? Entahlah. Mungkin negeri kita masih harus disuntik dengan mimpi yang besar, dan semangat yang membakar supaya mau maju dan berubah. Hal konkrit dan realistis terlalu kecil untuk berfungsi sebagai suntikan atau pembakar.
Harapan saya hanya satu. Untuk mereka-mereka hasil produksi kaderisasi yang luar biasa, kalian semua luar biasa. Saya salut kalian mau maju dan berniat memperbaiki. Semoga sukses, dan saya bantu dengan hal yang saya bisa bantu dari sini.
Satu Nama Ratusan Tujuan

Belakangan ini, geng SMP saya yang bernama Nyiko (karena sering sekali kita kumpul di rumah Chyko), yang berjumlah tiga belas orang dan terpencar ke mana-mana, kembali kangen-kangenan. Dulu sempat tiga orang berada di luar teritori Indonesia, termasuk saya sendiri, namun dua dari mereka telah kembali ke tanah air. Tinggal saya yang secara proksimitas jauh sendiri.
Untunglah jaringan sosial media membuat segalanya lebih mudah. Beberapa anggota geng Nyiko pun tergolong sering ngalong, alias begadang sampai pagi, jadi 11 jam (saat Daylight Savings Time, atau 12 jam normal) perbedaan waktu antara Indonesia dan Pantai Timur AS tidak berarti banyak. Kadang saya masih bisa ngobrol dengan beberapa dari mereka.
Apa sih yang spesial? Banyak grup pertemanan yang sudah berjalan lebih lama daripada gengku. Berteman saja apa susahnya?
Beberapa orang benar-benar tak suka dengan diagung-agungkannya sahabat, sama seperti pasangan yang pacaran di Facebook secara terbuka: memuakkan. Mengirimkan tweet, “Kalian udah nemenin aku kemarin, makasih ya. Kita sahabatan baik terus, ya!” tidak membuktikan apa-apa. 
Kalian harus merasakan sendiri. Seperti apa rasanya memiliki teman-teman dekat, seperti apa yang saya alami saat ini. Saya tahu, seberapa tidak lancarnya pun apa yang saya lakukan di sini, saya selalu punya tempat kembali: keluarga dan teman-teman di tanah air. Mereka tidak akan mengolok-olok kalau saya gagal, dan mereka lah orang-orang yang paling tulus berbahagia jika saya berhasil.
Kami terlampau berbeda. Ada yang tipikal anak gaul Bandung, ada pula yang tertutup dan seadanya. Ada yang senang membuat orang lain tertawa terpingkal-pingkal, ada yang cukup diam dan tersenyum simpul, namun memberi komentar nyinyir di akhir. Ada yang pintar di luar akal, ada pula yang cerdik. Beberapa dari mereka ada yang masih berusaha merangkak menuju mimpinya masing-masing, di kota yang berbeda. Yang lainnya, meskipun masih berada di kota yang sama, tak kalah gesit larinya mengejar sukses.
Saya merasa terharu setiap tawa kami pecah sama-sama di ruang tamu rumah Chyko, yang sekarang bergeser ke mobil Nita yang bisa menyetir dan membawa mobil sendiri, atau di belakang kemudi motor Surya, Firman, Yacob. Saya merasa bangga karena masing-masing dari mereka selalu berusaha membuat libur musim panas yang saya habiskan di Indonesia penuh dengan jadwal bermain bersama mereka semua. Padahal aku tahu pasti, beberapa dari mereka yang kuliah, sibuknya nggak ketulungan.
Main sampai malam, sampai ibu dan bapakku mengancam tidak akan membukakan pintu pagar rumah kalau aku pulang. Berbicara soal apa saja, mulai dari infotainment sampai isu serius politik. Nonton stasiun televisi secara acak. Jajan ini itu bareng: siang jajan baso Mang Aceng dan es pisang ijo, sore jajan gorengan, dan malam jajan ayam goreng atau nasi goreng. Sahur dan buka bersama. Mengejek satu sama lain -kami terlalu mengerti, kadang ejekan pun tak diacuhkan, atau kadang kami dalam keadaan tidak mood, meminta untuk dimengerti yang lain, yang ujung-ujungnya ejekan kecil berbuah perselisihan.
Di bawah satu nama -Nyiko (Chyko pasti bangga sekali kalau nama geng kita berakar dari namanya), kuharap ratusan tujuan yang kita punya akan berhasil kita taklukan. Kita (terlalu) sering bercanda sana-sini; saatnya kita membuktikan bahwa keseriusan kita mampu berbuah manis. Aku tak sabar untuk melihat kumpul-kumpul geng kita di masa depan, ketika beberapa dari kita membawa pasangan hidupnya masing-masing, dan membawa anak yang masih lucu-lucunya. Aku tak sabar untuk melihat bahwa geng kita tak hanya bisa main ribut dengan anak geng komplek sebelah yang mengejek-ejek kita saat main api, tetapi kita juga bisa berbuat sesuatu yang positif. 
Sudah lama kita mencoba serius dengan bermain-main, saatnya telah tiba bagi kita untuk bermain sesuatu yang serius. Yuk!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s