Lagu Baru – Sebuah Kisah Perubahan

Oleh Edward Suhadi

Jika Anda belum pernah melihat video di atas, saya anjurkan agar anda memberikan waktu 30 menit untuk menontonnya. 

Waktu pertama kali saya lihat konsepnya Indonesia Mengajar milik Pak Anies Baswedan, saat itu juga saya bilang, “Saya akan bikin hal yang lebih hebat dari itu. Yang lebih hype.” Salahkan obsesi dan kepribadian saya, karena biasanya saat orang lain bilang, “Saya ingin kerja di Google,” saya selalu bilang, “Saya akan bikin tandingannya Google. Yang lebih hebat.”

Menua adalah proses yang luar biasa. Kegegabahanmu berkurang seiring berjalannya waktu, proses decision making-mu pun makin hati-hati karena didasari pengalaman bertahun-tahun (buat saya, dua puluh tahun). Saya juga mulai mengerti, tidak seharusnya saya semudah itu berbicara dan melempar ide.

Saya tahu. Saya tidak akan membuat sesuatu untuk menandingi Indonesia Mengajar. Saya akan ikut dengan visi misinya, melakukan sesuatu untuk mendukungnya. Saya percaya dengan apa yang Pak Anies percaya: Keterbatasan proksimitas tidak serta merta membuat anak-anak yang matanya menyala-nyala saat mereka belajar berkurang haknya dalam memperoleh ilmu, dibandingkan anak-anak kota (Kota Cimahi? Itu juga kota).

Boleh jujur, tidak? Belakangan ini saya galau. Galau kangen rumah. Kangen hidup mudah. Di bawah naungan ibu ayah. Makan ada, uang saku ada, cinta tak terbatas. Tidak, hidup saya tidak sesusah teman-teman perantauan yang lain, kok. Walaupun saya masih harus cari tambahan supaya bisa mengimbangi pasak, boleh dibilang, saya ‘dibayar’ untuk belajar. Mimpi setiap orang, bukan?

Sayang sekali, belakangan ini orientasi saya mudah berubah-ubah. Tidak seajeg dulu saat impian saya fix ingin masuk MIT dan jadi salah satu teknisi terbaik dunia. Sering sekali saya bilang, “Ah, yang penting gelar S1-nya dapat dari sini, nanti cari kerjaan itu pasti mudah…”

Persepsi yang salah. Besar. Saya sudah lupa kalau ada anak kalimat dari mimpi saya masuk MIT, “… supaya saya bisa kembali ke Indonesia.” Saya sudah menjadi manusia yang terlalu beruntung, jalan saya terlalu mulus. Tugas saya di masa depan gampang: membuat jalan orang lain menjadi mulus, membuat orang lain merasa beruntung. Ya, beruntung terlahir ke dunia ini; ya, beruntung berumah di Indonesia; ya, beruntung dan mau berbagi di masa depannya.

Inspirasi itu harusnya bereaksi, tetapi energinya tak pernah habis. Semacam chain reaction lah. Satu menyala dan menyalakan yang lainnya, dan yang lainnya pun ternyalakan untuk menyalakan yang lain-lainnya.

On a lighter note, saya sudah membeli tiket untuk pulang ke Indonesia musim panas ini, tepat sehari setelah saya selesai dengan ujian semester, dengan penerbangan paling pagi yang bisa saya dapatkan dari Boston Logan. Selain itu, Ivan Audrey (SMAN 3 Bandung ’11) yang saat ini berkuliah di Hanover, Jerman, akan pulang ke Indonesia akhir minggu ini. Kombinasi dari dua hal ini membuat saya merasa senang.

Beberapa rencana juga sudah saya siapkan untuk musim panas ini. Saya benar-benar tak mau tiga bulan dalam setahun yang bisa saya habiskan di Indonesia terbuang percuma. Saya baru akan lulus tiga tahun lagi, belum termasuk hitungan kalau saya memutuskan untuk mengejar pendidikan di graduate school, pasti akan lebih lama lagi. Karena itu, memanfaatkan apa yang ada, adalah hal terbaik yang bisa aku dan kamu lakukan.

Bismillahirrahmanirrahim. Kalau niatnya sudah diluruskan, insya Allah jalannya dimudahkan. Mulai saat ini, tak boleh ada muka terkantuk-kantuk lagi di kelas Fisika II, atau perhatian yang terpecah di kelas Differential Equations. Cahaya mata saya tak boleh kalah dengan cahaya anak-anak di video itu. Karena esensi belajar buat aku, kamu, dan kita semua memang seharusnya sama: memperkaya dan memuaskan diri tanpa materi.

Saya tak perlu jadi Presiden, Menteri Pendidikan, atau Menteri Ekonomi untuk mengubah negeri ini. Saya tak perlu menjadi apa yang orang lain ingin saya menjadi, dan saya juga tak perlu membebani diri dengan ilusi ekspektasi orang lain terhadap diri sendiri. Saya, cukup menjadi diri saya sendiri. Saya, cukup melakukan apa yang saya percayai, berdasarkan kepercayaan that I hold dearly. 

Selamat malam, Cambridge. Selamat pagi, Indonesia.

Advertisements

4 thoughts on “Lagu Baru – Sebuah Kisah Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s