Independent Activities Period, Period

Dengan sistem kalender yang 4-1-4 (4 bulan Fall semester, 1 bulan Winter term, dan 4 bulan Spring semester), MIT memiliki cara tersendiri untuk mengutilisasi mahasiswa-mahasiswanya yang haus akan ilmu (yang tidak melulu soal kuliah formal). Karena itulah, Winter term (atau sebagaimana mahasiswa Harvard menyebutnya: January term/ J-term) di MIT disebut juga Independent Activities Period (IAP). Beberapa teman saya ada yang masih di kampung halamannya, tapi kebanyakan dari mereka kembali untuk mengambil kelas, atau sekadar leyeh-leyeh (bersantai) dan ‘belajar’ apapun yang ingin mereka ketahui. Penasaran ada apa saja kelas/ aktivitas yang berlangsung selama 1 bulan IAP ini? Iseng-iseng, coba cek http://web.mit.edu/iap/. Contoh beberapa aktivitas yang menarik: di asramaku, ada wine-tasting class (tentunya untuk mereka yang sudah berumur di atas 21 –drinking age di Amerika Serikat); ada juga charm school, semacam sekolah kepribadian yang mengajarkan cara berperilaku yang anggun dan benar (alah!); kesempatan membuat sesuatu dari gelas sendiri di Glass Lab MIT (termasuk melelehkan kaca, lalu meniup untuk membentuknya); dan favoritku: MIT Mystery Hunt (http://web.mit.edu/puzzle/www/) yang berlangsung selama 3-day weekend waktu libur Martin Luther King day. Cek beberapa puzzle yang digunakan tahun sebelumnya, benar-benar menarik.
Buatku sendiri, ada tiga kata yang mendeskripsikan IAP kali ini: Python, work, dan fencing.

Python? Apa itu Python?
Python lecture, foto diambil oleh Michael Cheung (MIT ’16). Blognya yang menarik harus kamu cek, di:  http://mitadmissions.org/blogs/author/mcheung/archives.

Python adalah salah satu bahasa pemograman yang paling sering digunakan oleh anak MIT. Bukan, bukan Pascal, karena Pascal benar-benar menyebalkan -struktur penulisannya itu njelimet. Jadi, selama 3 minggu, setiap hari, selama sejam, aku harus duduk di ruangan 34-101 ini, dan menyerap sebanyak mungkin informasi tentang Python. Pekerjaan Rumah yang diberikan, bisa sampai 2 kali tiap minggu, dan itu belum termasuk mini-project yang diberikan tiap minggu. Nama kelasnya adalah 6.s189 – Introduction to Python, jadi benar-benar untuk beginner, mahasiswa yang tak punya pengalaman apa-apa dalam memogram. Sekarang, tanya aku, apa mini-project pertama yang mereka berikan seminggu setelah kelas ini dimulai. Ya, dalam seminggu, kami diharapkan mampu untuk membuat game Hangman. Oh. Mini-project minggu kedua? Membuat simulasi dari Roomba vacuuming robot, robot yang diproduksi oleh iRobot (perusahaan yang dibuat oleh MIT alumni dan profesor). Oh, ya, aku lupa menjelaskan sebelumnya: beban pelajaran Python yang biasanya untuk satu semester (nama kelasnya adalah 6.00), di-compress, dan dijadikan 3 minggu. Pantas saja.

Selain berkutat (dan ngoding) dengan Python siang-malam, aku juga selama IAP ini bekerja on-campus, tepatnya di Admissions Office MIT, alias kantor penerimaan mahasiswa barunya. Apa yang menarik?

Foto ini diambil oleh Chris LaBounty (blogger MIT lainnya yang luar biasa, http://mitadmissions.org/blogs/author/labs/archives), aku pernah melihat dia di tempat kerjaku. He’s a pretty cool guy! Blogpost yang berkaitan dengan foto ini: http://mitadmissions.org/blogs/entry/check-the-mail-pyramid.

Memproses semua surat dan aplikasi dari 18.000 orang itu bukan hal yang mudah, teman-teman. Bisa dilihat dari gunungan surat, FedEx, DHL, EMS, UPS, you name it! Tapi bekerja di Admissions Office ini, aku menemukan teman baru, teman kerja baru (yang bukan hanya student workers), dan perspektif baru: mencari uang itu tidak mudah, ternyata. Aku benar-benar salut dengan kedua orangtuaku yang berhasil bekerja, menabung, dan membesarkan anak-anaknya tanpa kurang satu apapun.

Kalau kamu bertanya, “Mengapa Titan kerja? Memangnya financial aid di MIT nggak cukup?” Oh, kawan, Boston itu kota besar, biaya hidupnya pun sangat tinggi. Ke restoran, minimal kamu harus keluar $15, belum termasuk tipnya yang harus pas 15%. Naik subway mau jalan-jalan ke Boston pun, sekali jalan $2, dan kalau naik bus, jatuhnya sekitar $1.50, hanya 50 sen lebih murah. Jadi, jangan tanya, karena aku juga kadang-kadang ingin makan kangkung belacan di restoran Malaysia di jantung Chinatown Boston, hehe.

Berikutnya, fencing, atau anggar. Ya, setiap mahasiswa harus mengambil 4 kuarter kelas olahraga di sini. Pilihan kelas yang menarik, tentunya, membuat kebanyakan mahasiswa yang memilih ‘olahraga’ otak tidak keberatan untuk memenuhi syarat lulus ini.

Foto diambil dari: http://www.ucc.ie/fencing/images/bgPic1.jpg. Maaf tak ada fotoku sendiri, soalnya aku tak terlihat sekeren ini saat bermain anggar.

Ada tiga jenis anggar, dan IAP ini, aku mengambil sabre, yang targetnya dari pinggang ke atas, termasuk kepala. Kalau ditanya mengapa aku memilih untuk mencoba anggar, alasan utamanya boleh dibilang karena Pangeran Shin, di drama Korea Princess Hours, hobi bermain anggar.

Selain itu, ada juga yang disebut pirate license di MIT, yang bisa kamu dapatkan kalau kamu berhasil mengambil anggar, pistol (ya, di sini juga ada kelas pistol), dan sailing alias berlayar. Jadi, singkat kata, kalau kamu berhasil menguasai ketiga olahraga ini, kamu siap untuk menjadi perompak laut.

Jadi, singkat kata, IAP ini, aku lumayan sibuk. Bahkan, pekerjaan di kantor penerimaan mahasiswa baru sudah menumpuk sejak libur semester dari Desember, jadi praktis tidak banyak waktu yang kudapatkan untuk bersantai ria.

Tetapi, hari ini, aku memutuskan untuk pergi mengunjungi temanku, Sopheaktra Chhim (UWC-USA, Kamboja ’12) yang bersekolah di Worcester Polytechnic Institute (WPI), sekitar 1.5 jam naik kereta dari Boston. Worcester terletak di tengah-tengah negara bagian Massachusetts, dan merupakan kota yang cukup besar. Yang menarik: kalau di Boston, pekerja jalan sudah membersihkan habis sisa salju yang turun dua hari yang lalu. Tapi, di Worcester, masih banyak sekali salju yang tersisa, bahkan, aku menemukan danau beku (yang tidak kutemukan di sekitar Boston-Cambridge, Charles River sempat hampir membeku, tapi arus yang kuat membuatnya tidak bertahan lama).

Tur singkat yang diberikan Sopheaktra, serta makan siang gratis di kafeteria WPI, membuatku tersenyum. Sebagai sekolah engineering, walaupun tidak sebesar MIT, WPI termasuk salah satu sekolah top di Amerika Serikat yang mungkin tidak diketahui orang banyak. Hanya 36% dari mahasiswanya adalah perempuan, jadi mungkin saja kamu tertarik, hehe. Mahasiswanya pun terlihat jauh lebih normal dibandingkan mahasiswa MIT yang kebanyakan nyentrik. Umur sekolah ini tidak jauh beda dengan MIT, dan yang paling kusuka: selain maskot sekolahnya yang merupakan kambing, di lambang sekolahnya juga terdapat gambar hati. Hati, adalah simbol kota Worcester, dan di tiap nama jalan, pasti ada gambar hati berwarna merah.

Aku juga memberanikan diri untuk berdiri di atas es. Untuk lapisan esnya cukup tebal untuk menahan tubuhku. Koleksi foto kaki baru, yes!

Worcester, Massachusetts, 2013. Abaikan betis saya yang menggendut dan saku saya yang menggembung.

Sedikit footnote, alamat surel yang akucantumkan untuk kalian yang ingin mengontak saya di halaman ‘Contact Me’ memang berfungsi. Maafkan kelalaianku yang mudah lupa password, hingga aku tak mengeceknya selama setahun lebih. Terima kasih untuk sistem recovery e-mail Google yang semakin canggih (semoga saya bisa intership di sana tahun depan, amin), aku berhasil membukanya kembali. Kali ini aku janji akan mengeceknya lebih rutin, jadi jangan ragu untuk bertanya soal apapun, kalau tidak merasa nyaman untuk berkomentar di bawah sini.

Sebagai penutup, aku ingin mendedikasikan lagu di bawah ini untuk perantau-perantau lain yang membentur tembok. Selalu, selalu, ada jalan keluar. Satu hal trivia lainnya, exposure pertamaku terhadap Sheila on 7 sudah sejak SD, terima kasih pada kakakku. Semakin ke sini, lagu-lagu mereka semakin dewasa, bukan melulu soal cinta.

Terpuruk tiada dalam kamusku, selalu mencoba, punya harapan, boleh saja kita kalah sesaat, ambil hikmah untuk menang sepenuhnya -Sheila on 7 (Kamus Hidupku)
Advertisements

4 thoughts on “Independent Activities Period, Period

  1. aahhh.. didnt baru bacaaa 🙂
    bahasa pyton tuh lebih rumit?? jadi inget pas TPB tugas besarnya disuruh buat hangman tapi pake pascal -,- tadi di MIT pertemuan awal udah dikasi tugas itu.. salutt laahhh.. DEWA.. jadi kepingin jalan-jalan kesana *hanyaanganangan..

    Like

  2. Titaaaan keren banget seminggu bisa phyton 😀
    bener banget kata Uya. di TPB tugasnya hangman pascal. UI-nya jangan ditanya, item putih dihias-hias gitu, biar hangmannya lucu, tapi tetep aja gak bisa lucu…

    miss you, Titan…
    kangen duduk sebangku lagi… haha :')

    good luck ya Titan:)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s