Kebahagiaan? Sederhana!

Aneh sekali rasanya sampai di penghujung tahun 2012 ini. Ingin bertanya, “Apa yang saya lakukan setahun kemarin?” tapi pada siapa? Tak akan ada yang berubah.

Bulan Desember biasa diasosiasikan dengan Tahun Baru, dan Natal; holiday season, orang-orang siap-siap membuang uang mereka untuk merasa ‘lebih bahagia’.

Membuang-buang uang untuk menjadi lebih bahagia? Banyak orang di dunia yang bahagia walaupun tak mempunyai uang. Apakah mereka membuang-buang uang sambil berharap suatu hari uang mereka habis dan mereka menjadi lebih bahagia?


Mengapa perayaan, di Amerika Serikat (dengan Thanksgiving dan Black Friday-nya, dan belakangan ini, Cyber Monday-nya), ataupun di belahan dunia lain selalu ‘mengompori’ orang-orang untuk menjadi konsumtif (contoh yang paling umum: memberikan kado saat Natal, atau memberikan coklat saat Valentine)? Di Indonesia sendiri, asosiasi Lebaran dan baju baru sepertinya tidak asing lagi.

Teruntuk mereka semua yang ingin mencari kebahagiaan yang sederhana.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana perasaan ‘terpercik’ yang saya rasakan waktu menonton video ini. Kalau kau punya waktu, mungkin kamu bisa menonton video ini.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana menemukan full movie-nya Perahu Kertas daring dan meluangkan waktu dua jam untuk menonton film Indonesia satu ini. Dipikir-pikir, kapan ya terakhir kali saya menonton film Indonesia? Biasanya saya menghujat film-film buatan negeri saya sendiri. Faktanya, hal inilah yang menjadikan negeri kita unik. Membuat kita yang jauh kangen. Eh, jangan salah, Perahu Kertas bagus loh, tipikal cerita cinta anak remaja, hehe.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana saling mengirimkan pesan singkat via Facebook pada teman-teman, menjaga benang supaya tidak putus. Menemukan kabar menarik dari mereka, dan berbicara tentang seberapa jauh mereka sudah melangkah.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana menonton video The Piano Guys di Youtube, hehe. Iya, sepertinya saya kebanyakan nge-Youtube belakangan ini, padahal sebentar lagi ujian semester di sini.

Kebahagiaan itu sederhana. Dan tidak hanya datang dari internet (meskipun kesan dari kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa kebahagiaan itu datang dari dunia maya, hehe). Kebahagiaan itu bisa sesederhana pergi berjalan-jalan keliling kota sendiri. Apalagi saat salju sedang turun dengan derasnya.

Maaf untuk kualitas gambarnya yang kurang memuaskan. Kamera ponsel! Hehe.


Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana membaca buku yang belum pernah kau baca sebelumnya. Genre buku yang tak biasa kamu baca (dalam kasusku, genre bukunya adalah non-fiksi, saat ini aku sedang membaca bukunya Kofi Annan, “Intervention”, yang kudapat gratisan dari OYW kemarin).

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana mengambil jalan pulan lain setelah kamu beraktivitas seharian. Melihat sesuatu yang tak biasa kamu melihat. Mendengar sesuatu yang tak biasa kamu dengar. Merasakan sesuatu yang tak biasa kamu rasakan.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana tersenyum saat menulis jurnalmu, atau saat membuka lembaran jurnal lamamu dan menyaksikan dirimu berkembang.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana bergelung di dalam selimutmu sambil meminum secangkir teh hangat dan mendengarkan gending Jawa dari pemutar musikmu.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana bangun pagi dan menemukan dirimu hidup satu hari lagi.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana melihat segala sesuatunya dari perspektif yang berbeda. Melihat rutinitas sebagai sesuatu yang luar biasa. Membayangkan diri sendiri sebagai orang lain yang berpapasan dengan diri ini. Membayangkan diri sendiri melihat diri sendiri dari kacamata orang lain, dari sudut pandang yang berbeda, seolah-olah diri ini menjadi bintang film dari hidup ini (eh, memang nyata-nyatanya begitu, kan?).

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana kontak dari orang-orang yang dicinta. Surel dari orang tua, tautan dari kakak dan adik di Facebook, dan twit singkat dari teman-teman.

Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana duduk dan memikirkan rahmat apa yang Allah telah berikan kepadamu, seberapa luas rezeki yang telah dia turunkan untukmu, seberapa sempurna skenario yang Dia persiapkan untukmu. Sesederhana merenungkan hidupmu di bumi ini yang tidak singkat. Sesederhana ‘melihat’ seberapa jauh kamu sudah berjalan, dan seberapa banyak tantangan yang telah kamu lewati.

20 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi seseorang untuk berada di bumi. Sekarang tinggal masalah orang tersebut: apakah yang akan dia lakukan?

Alhamdulillah, terima kasih untuk 20 tahun napas yang telah Kau berikan, Ya Allah.

Advertisements

One thought on “Kebahagiaan? Sederhana!

  1. Aku setuju. Bahagia itu sederhana. Bahagia itu tidak melulu dicari, tapi bahagia itu diciptakan. Bahagia sederhana itu misalnya seperti yang aku rasakan sekarang, yaitu bisa blogwalking, membaca tulisanmu, dan memberi komentar di sini. Karena percayalah, entah kenapa, membaca tulisanmu kali ini membuatku juga merasa bahagia. Oh iya, satu lagi. Aku juga percaya bahwasanya bahagia itu menular. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s