Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Indonesia ke Greater Boston Area, MA

Sebuah surel masuk ke dalam kotak masukku siang itu; seorang ‘tetua’ di komunitas orang Indonesia di MIT yang mengejar gelar PhD memberitahukan dengan singkat sesuatu yang menarik.

Halo Temans,
Hari Senin (17 September 2012) kita di Boston rencananya akan kedatangan rombongan Wakil Menteri Dikbud (Pak Musliar Kasim).  Wamendik ingin mendapat masukan dari mahasiswa2 Indonesia yg belajar di AS, jadi ada usulan untuk pertemuan santai untuk bincang2 dengan mahasiswa atau masyarakat Indonesia di daerah Boston. Rencana pertemuannya diadakanpada tanggal 17 Sep 2012 (sore/malam, harus di-finalize… kemungkinan besar setelah jam 5pm atau 6pm).

Pikiranku langsung melayang jauh: bertemu Wamendik langsung berarti bisa berbicara empat mata mengenai masalah pendidikan di Indonesia! Karena itu, jangan ditanya seberapa semangatnya aku untuk datang ke pertemuan hari itu, dan seperti biasa, rasanya bangga sekali, karena tidak semua orang punya kesempatan seperti itu.


Kukira… mereka akan mulai sekitar 5-10 menit lebih telat dari yang dijadwalkan. Karena itu, meskipun jam sudah menunjukkan pukul 17.55, saya masih santai saja makan malam. Di jalan pun, saya bertemu dua freshmen lain dari Indonesia, Marsha Christanvia Wibowo, dan Harun Reza Sugito. Dua-duanya anak SMAK BPK Penabur 1 Jakarta dulu, dan ikut International Biology Olympiad juga, hebat!

Oke, begitu aku tiba di tempat pertemuan, ternyata mereka sudah mulai, on time. Wow, aku sempat terkejut juga, kukira orang Indonesia ngaret kerjaannya, tetapi ternyata tidak juga. Ternyata kedatangan orang-orang penting ini, dalam rangka ‘studi banding’ mengenai proyek pembuatan community college di Indonesia, supaya bisa mengakomodasi lebih banyak lulusan SMA/ SMK/ Paket C yang ingin meneruskan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Para petinggi yang datang adalah Prof. Musliar Kasim (Wamendik), Prof. Kacung Marijan (staf ahli menteri), Prof. Nizam (Sekretaris Dewan Pendidikan Nasional), dan tiga staf wamen juga Pak Haryo Winarso (KBRI). Begitu melihat mereka, saat itu juga aku merasa, “Inilah saatnya.”

Namun sayang sekali, waktu satu jam yang digunakan untuk membahas proyek itu tidak digunakan dengan baik. Sedikit memutar-mutar, hingga akhirnya waktunya pun lewat dari yang diprediksikan. Pertanyaan-pertanyaan yang sebagian dari kami tanyakan pun tidak dijawab dengan memuaskan, misalkan Marsha yang dulu tidak bisa menggunakan prestasinya sebagai pemenang di IBO untuk masuk ITB dan UI. Jangan salah, walaupun sibuk karantina dan latihan untuk olimpiade, Marsha adalah juara umum juga di sekolahnya. Hal yang aneh sekali karena dia tidak diterima di universitas top di Indonesia melalui jalur undangan. Selain itu, sophomore dari Indonesia juga, Kevin Soedyatmiko, bertanya tentang oknum-oknum yang mempersulit orang Indonesia yang butuh beasiswa untuk melanjutkan di universitas di luar negeri (ternyata ada beasiswa khusus untuk siswa/i yang sudah diterima di universitas di luar negeri, tinggal mengajukan aplikasi, katanya). Jawabannya? Sama-sama kurang memuaskan.

Selain itu, mereka juga membicarakan perihal meningkatkan jumlah doktor dan professor di Indonesia, supaya proyek community college-nya juga jalan. Saya ingin bicara, “Halo, Pak. Tolong dengarkan mereka-mereka calon professor dan doktor itu; bagaimana mereka mau kembali ke Indonesia jika mendapat dukungan finansial dari pemerintah saja dipersulit?”

Saya ingin bertanya langsung, empat mata, tetapi kesempatan tidak memungkinkan. Tutoring kalkulus saya mulai jam setengah delapan, sementara mereka masih sibuk berbicara hal-hal ‘permukaan’ mengenai proyek impian mereka dan enggan mendiskusikan hal-hal real, lebih nyata, dan lebih urgen. Saya ingin tanya soal proyek RSBI yang jatuhnya buang-buang duit. Kualitas? Hanya di seberapa licin infocus baru di kelas, loker-loker biru menarik, serta pelatihan guru untuk sekolah RSBI yang hasilnya sangat minim (mereka kebanyakan tetap tidak percaya diri untuk menggunakan Bahasa Inggris di kelas -bukan berarti saya mendukung konsep penggunaan Bahasa Inggris di kelas itu sendiri, ya). Saya juga ingin tahu lebih jauh tentang apa yang pemerintah sudah lakukan dengan sekolah-sekolah yang tidak memadai fasilitasnya di pelosok Indonesia, yang sering masuk berita tetapi tak ada tindak lanjutnya. Tidak semua orang bisa menjadi Andrea Hirata yang mampu mengubah nasib melalui kekuatannya sendiri, karena seyogyannya anak-anak itu rapuh. Siapa lagi yang mendukung mereka kalau bukan pemerintah, mengingat keterbatasan orang tua (atau keluarga) mereka?

Saya semakin mantap. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. SMS saya ke teman saya di universitas sebelah mengingat betapa geram dan tidak tahannya saya dibalasnya dengan singkat, “That’s why we need to study well to replace people whom we think are not capable of being in those positions.” Saya bukan meremehkan, tetapi saya hanya kecewa dengan keputusan mereka: mementingkan proyek besar-besaran di atas manusia yang masih buta huruf dan ditelan zaman.

Saya terbuka untuk debat mengenai hal ini. Jika ada asumsi saya yang menurut anda salah, beritahu saya. Saya toh manusia yang juga banyak kekurangan.

Saya harus berubah. Kamu harus berubah. Kita sama-sama berubah, hanya dengan begitu Indonesia bisa berubah.

Advertisements

4 thoughts on “Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan Indonesia ke Greater Boston Area, MA

  1. Hi Titan! saya suka banget sama blog kamu. dan baru baca artikel kamu yang ini karena udah ketumpuk mungkin hehe.
    Tapi suka banget sama yg ini, sepakat sama semua pernyataannya terutama di paragraf-paragraf terakhir.

    semangat belajar terus Titan dan selalu menginspirasi lewat tulisan-tulisannya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s