‘Babi Ngepet’ dan Indonesia

Kamu percaya akan adanya babi ngepet?


Jawab pertanyaan yang aku ajukan di atas, kawan. Adakah babi ngepet? Jikalau kau belum tahu, mari aku jelaskan dengan cepat. Babi ngepet adalah sebuah metode yang digunakan orang-orang untuk mendapatkan uang lebih dengan cara… tak kasat mata. Mencuri dengan tak kasat mata, begitu singkatnya.

Sebelumnya, perkenalkan ikan di atas. Celengan kebanggaanku, tempat uang hasil puasa jajanku di Kantin Sehat SMAN 3 Bandung pergi, tempat uang angpao dari kakek-nenekku mengendap (meskipun dua tahun terakhir aku tidak berlebaran di Indonesia, kakakku tetap dengan rajinnya memasukkan uang angpao titipan kakek-nenek ke dalam si ikan gendut ini).

Sebagian darimu akan mulai bertanya, “Seberapa banyak jumlah uang di dalam ikan itu, Tan?”

Kakakku membongkar celengan drum plastik kuningnya yang bertuliskan “BANK” kemarin. Berlembar uang macam-macam mulai dari ratus ribuan hingga receh lima puluhan rupiah ada. Astonishing, mengagumkan, luar biasa. Aku pikir, “Pasti menyenangkan sekali rasanya melihat hasil uang yang telah kau tabung selama bertahun-tahun!” Akhirnya, dengan dalih sok polos: aku tak menyumbangkan uang rupiah sebanyak sebelumnya ke dalam ikan ini selama dua tahun terakhir dan ketakutan akan uang yang mungkin tak akan berlaku lagi dalam waktu singkat ke depan (uang lima ratus rupiah dengan gambar orangutan!), aku meminta bantuan kakak, ibu, dan adikku untuk membuka perut si ikan tanah liat satu ini.

Coet dari dapur ibuku dan berlembar-lembar kertas koran melengkapi prosesinya. Adikku yang setahun ini belajar pencak silat secara serius di Merpati Putih berkehormatan untuk mengakhiri hidup si ikan. Aku hanya bisa membelalak ketika melihat seberapa banyak uang yang benar-benar ada di dalam perut si ikan. Tak banyak. Setidaknya, aku benar-benar ingat seberapa banyak kira-kira lembaran rupiah yang telah aku masukkan ke sana. Tak ada ratus ribuan dari angpao kakek-nenekku. Tak ada lima puluh ribuan sisa dari ‘bayaran’ ikut lomba sana sini selama di SMA. Tak ada pula dua puluh ribuan sisa dari uang sakuku selama di SMA, hasil nglaju Bandung-Cimahi setiap hari. Hanya ada pecah-pecahan sisanya.

Negeri Ini Terjebak Oleh Opsi Tak Masuk Akal yang Paling ‘Masuk Akal’

Selayaknya masyarakat urban tradisional, khas Indonesia, menyalahkan babi ngepet adalah salah satu opsi tak masuk akal yang paling ‘masuk akal’. Hal ini hanya salah satu dari sekian banyak hal yang dihadapi kita sehari-hari. Jangan tanya aku perihal babi ngepet itu benar atau tidak. Otak logis dan agama yang kuanut mengajarkan bahwa kepercayaan yang harganya mahal ini tak bisa disia-siakan dengan memberikannya ke sembarang orang/ benda. Kepercayaan ini hanya milik Yang Di Atas.

Hal yang ingin aku bahas justru berhubungan dengan prediksiku akan masalah bangsa ini yang sebenarnya. Bangsa ini terlalu dramatis, terlalu latah akan sesuatu yang baru, yang dianggap trendy. Mau contoh sederhana?

1. Saat saya baru kembali dari negeri Paman Sam, orang-orang di sekitar saya heboh, “Pernah coba red velvet cake atau rainbow cake belum?” Saya hanya menganggukkan dan menggelengkan pada saat yang bersamaan. Saya bahkan bilang ke kakak saya, red velvet cake itu biasa saja, dan dia baru percaya setelah merogoh kocek untuk kue merah menyala satu itu. Semua orang yang saya tanya bahkan tak tahu kalau lambang pelangi itu menandakan kemerdekaan dan semangat kaum LGBTQ. Kalau mereka semua tahu, yang ada mereka mencak-mencak, wong Menteri Kesehatan yang mengusulkan sosialisasi penggunaan kondom saja langsung dilumat mentah-mentah oleh semua orang, kok.

2. Seberapa eratkah hubungan orang Indonesia yang twitter-an dan trending topic worldwide? Sederhana, banyak sekali trending topic worldwide yang berasal dari Indonesia. Bahkan kata-kata kasar saat pertandingan sepakbola dengan negeri tetangga pun bisa menjadi salah satu di antaranya.

3. Orang-orang banyak sekali yang menyalahkan stasiun televisi yang seolah-olah enggan menayangkan tayangan bermutu. Jangan lupa bahwa sistem kapitalisme yang terlanjur merogoh negeri ini di sisi terdalamnya bekerja dengan hukum sederhana, “Ada barang ada permintaan.” Berita yang silih berganti pun disalahkan oleh sebagian orang sebagai ‘usaha sebagian orang untuk mengalihkan isu’. “Biar koruptor ndak tersorot terus, Nak. Biar tahu-tahu sudah bebas, saja, tanpa diketahui siapapun,” begitu kata Ayahku suatu waktu. Saya hanya mesem sambil berkata dalam hati, “Wong Bapak juga pasti bosan melihat berita yang itu-itu saja, bukan?”

4. Pergilah ke mall, dan lihat seberapa tipikalnya potongan remaja, wanita dan pria muda, serta bapak-bapak dan ibu-ibu masa kini. Saya bisa membayangkan seberapa banyak jeans, kaos, dan kemeja berpotongan serupa tapi tak sama yang menghuni di setiap lemari mereka. Sama semua. Saya tak pernah menyadarinya hingga saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Bukan, bukan berarti orang Indonesia tidak modis. Lihat contoh yang lain. Seberapa sering Indonesia dilanda ‘demam’? Mulai dari demam Blackberry, hingga demam K-Pop baru-baru ini. Demam gadget, hingga demam kultur budaya. Contoh red velvet cake dan rainbow cake sebagai pembuka sebelumnya adalah yang lainnya. Sudah gegar budaya, kita rupanya.

Masih banyak contoh yang lain, tetapi, apakah sekarang alasan yang mendasari argumen saya jelas? Bangsa dramatis, bangsa latah, bangsa yang ikut-ikutan. Mungkin karena itulah, orang-orang yang berpendirian ajeg bisa dengan mudahnya mendapatkan pengaruh, karena orang lain tinggal ikut-ikutan. Lihat suksesnya Pak Presiden meraih kursi untuk dua periode ini, banyak orang berpartai yang berlomba-lomba mengeluarkan uangnya untuk membuat pencitraan diri yang terbaik. Jangan-jangan, di masa depan, mengikuti dengan trend apatisnya masyarakat terhadap orang-orang partai yang tak membawa perubahan apapun, orang-orang partai akan berlomba-lomba keluar dari partainya dan menjadi calon independen, lagi.

Latah-latahan ini diperparah dengan kondisi negeri ini yang jiwanya seyogianya masih tradisional. Masih ingat cerita saya sebelumnya soal celengan dan tuduhan pertama terhadap babi ngepet? Sesederhana itu. Kedramatisan orang-orang di negeri ini membuat opsi tak masuk akal pun dianggap opsi yang ‘paling masuk akal’. Melarikan diri dari kenyataan ternyata adalah bagian dari kedramatisan itu sendiri. Lebih baik mereka-reka sesuatu yang ditolak akal sendiri asalkan hal ini membuat mereka merasa lebih baik.

Atau mungkin saya saja yang masih belum punya cukup ilmu untuk menjelaskan semuanya. Segala sesuatunya masih asal-asalan analisis saya, yang baru lulus SMA ini. Mungkin suatu hari nanti, sampai ada jawaban yang jelas, saya akan mengklarifikasi dan menambahkannya di sini.

Sampai nanti, mari menjadi bangsa yang sedikit lebih kreatif. Yang tidak mudah dibawa arus. Yang berarti juga tidak mudah diperalat sebagian orang yang cukup cerdas untuk membaca dan memanfaatkan fenomena ini. Demi kantong mereka, atau lebih-lebih, kepuasan batin mereka melihat kita sebagai boneka sementara mereka sebagai “Tuhan”-nya.

Mungkin cukup untuk malam ini. Pagi kedua saya di Indonesia, saya membuat teh dalam poci kesayangan di rumah saya, dibuktikan dari seberapa jarang poci ini dikeluarkan dari rumahnya, di lemari paling kiri di dapur rumah saya. Teh (dan poci ini) terbukti meringankan sedikit culture shock saya. “Masih ada rasa yang tak berubah di sana, setidaknya, terlepas dari seberapa banyak negeri dan lingkungan saya ini sudah berubah,” begitu pikir saya waktu itu.

Semoga teh ini juga mampu membuatmu mengerti badai apa yang terjadi di otakku saat ini. Otak tak tahu malu yang berpikir berat tanpa memikirkan kapasitasnya.

Mari saya tutup dengan singkat, “Let me know what you think about it.

Advertisements

2 thoughts on “‘Babi Ngepet’ dan Indonesia

  1. Hai Titan,
    Saya ingin membahas ni tentang babi ngepet yang kamu cerita in, Jadi gini sebenarnya babi ngepet itu cuman omongan yang mengambil uang celengan itu sebenarnya bukan babi ngepet tapi karena suhu udara yang lembab yang membuat uang kertas rusak apa lagi dengan kondisi uang yang sudah kumal dan robek, hmmmm… klo gitu yang sabar ya

    Salam Roberta

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s