One Step Closer

Badai Salju, -13°C

Semester ketiga hampir berakhir. Tinggal seminggu lagi hingga “the greatest escape”, winter break kali ini aku akan pergi ke Meksiko, bersama dua teman dekatku, Andrea (Meksiko) dan Nicol (Kosta Rika).

Masih segar di ingatan, betapa kakak kelasku bilang kalau semester ketiga adalah semester terberat di UWC. Bukan hanya karena beban pelajaran dan tugasnya yang luar biasa, tetapi juga karena posisi sebagai second year sendiri yang kadang-kadang bikin diri sengak tak diundang. Ya, semester ketiga adalah waktu saat kamu merasa benar-benar dekat dengan teman-temanmu, sehingga dengan mudahnya kamu melemparkan ejekan atau lelucon –yang kamu tak tahu seberapa masif efeknya hingga teman kamu menjauh dan kalian bertengkar.
Hal yang sama terjadi padaku.


Semester ketiga juga membuatku sadar akan sesuatu. Proses aplikasi ke universitas memang lebih susah dari yang kupikirkan sebelumnya, tiap universitas memiliki supplement dengan pertanyaan yang harus dijawab dengan essay. Aku merasa aneh, tetapi essay-essay yang aku tulis benar-benar penuh dengan pikiran dan perasaanku, tidak jauh dengan bagaimana aku menulis untuk melihat refleksi diriku sendiri. Essay-essay ini membuatku mengenal diriku lebih jauh dari yang kubayangkan: hal yang paling penting bagiku, pelajaran terpenting yang pernah kudapat seumur hidupku, bagaimana aku melalui masalah terberat dalam hidupku. Semuanya demi satu tujuan: universitas-universitas ini menginginkan siswa yang tak hanya memiliki nilai bagus, tetapi juga kepribadian yang sesuai dengan misi sekolah mereka. Kapan ya, Indonesia bisa begini?

Common Application: Aplikasi Universitas di Amerika Serikat

Ternyata aku dapat waktu tidur yang sangat cukup semester ini, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Aku tahu kalau aku mengurangi waktuku untuk bersenang-senang, dan mengalihkannya untuk tidur, juga mengurangi waktuku dalam bersosialisasi.


Tetapi semua temanku melakukan hal itu.


Karenanya, kami lebih menghargai waktu yang kami habiskan bersama-sama di kelas atau di ruang makan. Satu jam saat makan malam, kami menumpahkan segalanya. Memastikan kabel di antara kami tetap terhubung.


Inilah hasilnya. Aku memang berhasil melalui semester ketigaku, tetapi aku benar-benar merindukan teman-temanku. Karena itulah rencanaku jelas, sejelas prediksi cuaca tiga hari lalu bahwa badai salju akan mendera Montezuma, semester depan aku akan berkonsentrasi pada pengalamanku sebagai UWC-er, seseorang yang tinggal dengan 200 orang lainnya dengan total kewarganegaraan hingga 80.


One step closer. Lebih dekat dengan apa, Titan?


Semester ketiga ini, aku merasa lebih dekat dengan tiga hal terpenting dalam hidupku: Tuhan, teman, dan impian. Jangan tanya mengapa keluarga tak ada dalam daftarku, aku memang mengabari mereka hanya untuk membuat mereka mengerti keadaanku -aku tak terlalu sering mengobrol dengan mereka, karena biasanya aku akan merasa homesick.


Tuhan. Percayalah pada kata mutiara, “Semakin kamu didera, semakin kamu percaya.” Hal yang sama berlaku padaku. Setidaknya kali ini aku selalu berusaha untuk puasa Senin-Kamis dan puasa sunnah lainnya. Aku lebih percaya dari sebelumnya bahwa hanya Tuhan yang bisa membantuku melewati ini semua.


Teman. Satu jam mengobrol dengan teman-temanku, baik di sini maupun di Indonesia adalah obat yang paling ampuh untuk membuatku tersenyum. Kotak surat dari teman-temanku, serta boneka, souvenir, dan foto-foto dari mereka selalu membuatku bangkit lagi. Aku selalu berdiri di depan cermin dan berkata, “Hei, Titan, kamu sudah omong besar di depan temanmu: sekolah di Amerika-lah, main salju-lah; lalu mengapa sekarang kamu bertindak selemah itu?”


Karena aku selalu percaya: nikmat yang besar selalu datang dari ujian yang besar.


Impian. Kamu tahu betapa aku menginginkan masuk universitas di Amerika Serikat. Betapa aku menginginkan untuk menjadi fusi Pak Habibie dan Bu Sri Mulyani. Betapa aku ingin mengangkat harkat dan martabat bangsaku.


Ternyata selalu ada jalan lain dari impian-impian itu. Aku sudah pasrah, walaupun tidak berarti menyerah. Aku percaya pada kekuatan Tuhan, di manapun aku ditempatkan tahun depan.


Ketiga hal ini menguat sebagai bagian kecil dari aspek kehidupanku. Aku juga bersyukur karena ketiga hal ini menguatkanku sebagai manusia. Lebih baik.


Refleksi semester ketigaku selesai di sini. Ulang tahunku sebentar lagi, dan aku merasa bangga karena kecondonganku berubah positif lebih besar dari negatif.


Selamat ujian yang akan ujian, dan selamat liburan yang akan liburan. Beberapa foto penghibur dari badai salju hari ini semoga bisa membuatmu senyum di bibirmu melebar.

Dari Jendela Kamar

Dari Depan Asramaku

Jalan Menuju Kelas

Membersihkan Salju dengan Traktor
Advertisements

One thought on “One Step Closer

  1. Membacanya serasa ikut hanyut dengan yang titan hadapi di sana, “sendiri” tapi berhasil memeluk tuhan dengan erat! Suka dengan foto2nya.. padahal buat titan biasa ya hehe 🙂 Semoga semakin kuat utk melewati semuanya.. Allah bersamamu, aamiin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s