Telaah Perpustakaan

“Bolehkah aku mengaku? Di sini, di Amerika Serikat, aku menghabiskan lebih dari separuh total waktuku di perpustakaan seumur hidup. Bukan hanya karena kamarku terlalu berisik dengan orang lalu lalang di koridor, bukan hanya karena sofa di perpustakaan sangat empuk, dan bukan hanya karena bukunya sangat menarik dan lengkap, tetapi juga karena membaca dan mengerjakan tugas itu sendiri sudah menjadi budaya. Orang-orang sudah mafhum, tahu tanggungjawabnya, dan mengerti bagaimana menyelesaikan tugas tersebut. Bukulah jawabannya, dan jurnal internet adalah tambahannya.” -Catatan kaki pagi ini.

Aku tak menyangka bahwa aku bisa berdiam diri di perpustakaan hingga 8 jam lamanya hari ini. Sebagian besar tugas yang kumiliki telah beres kuselesaikan, dan aku merasa puas luar biasa dengan apa yang telah kulakukan.

Hari ini, sementara temanku masih terbuai dalam nina bobonya, aku beranjak. Alarm di ponselku berdering, dan mau tak mau aku harus memaksa diriku: banyak yang harus kukerjakan hari ini.

Setelah mandi, kuambil kunci kamarku dan kupenuhi ranselku dengan buku, laptop, serta catatan post-it-note kecil berjudul: I need to get THESE done TODAY.

Aku berjalan menuju perpustakaan, seperti ujung ke ujung dari asramaku. Matahri pagi masih hangat, dan awan pun belum tampak. Langit benar-benar biru, tapi cuaca masih berkisar 17 derajat Celcius. Mau tak mau, kurapatkan kardigan biruku dan mempercepat langkahku.


Aku beranjak dan menaiki tangga ulir yang unik itu, menuju lantai dua. Yang aku suka dari bangunan-bangunn di sekolah ini adalah berbahan dasar kayu. Lantai pun kayu. Aku masih ingat saat pertama kali menaiki tangga ini, bunyi derikan kayunya sempat membuatku ketakutan. Kemudian, karena berulir, aku sempat menghindari tangga ini di awal tahun karena membuatku pusing.

Kutaruh tasku di atas meja, kemudian aku melihat-lihat sebentar sebelum mulai bekerja.

Benar sekali. Aku bekerja di ruang komputer perpustakaan. Karena letaknya paling pojok, jarang sekali orang yang berlalu lalang. Tempat paling pas untuk menghindari gangguan.

Juga sejuta buku referensi untuk masuk universitas. Oh ya, doakan aku ya teman-teman. Wawancaraku yang pertama dengan universitas minggu depan. Tepatnya dengan Jacobs dan Westminster. Semoga aku bisa membawa nama baik Indonesia, ya.



Armand Hammer adalah philanthropist yang mendirikan sekolah ini. Aku tak pernah menelusuri sudut perpustakaan bagian ini, tapi yang jelas aku mencintai tempat ini. Juga buku yang ditawarkannya. Dan ketenngannya yang jadi bagiannya.

Semoga segala sesuatunya berjalan luar biasa, selamat menikmati akhir pekan!
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s