"God Has No Border"

Project Week adalah bagian integral dari kehidupan di UWC, setiap tahun, kita berkesempatan mengikuti Project Week dua kali. Dan pada tanggal 3 hingga 13 Maret 2011 lalu, aku berkesempatan pergi ke negeri telenovela: Meksiko! Untuk menemani kalian membaca postingan kali ini, silakan setel lagu Tito El Bambino-El Amor (salah satu lagu berbahasa Spanyol favoritku!) di bawah ini, supaya kalian benar-benar terbang ke Meksiko sana! Bienvenidos a la Mexico!

Salah satu siswa sebuah sekolah di Agua Prieta, Mexico. Baju seragamnya putih-merah, mirip anak SD Indonesia!

Perjalanan dari Montezuma ke Agua Prieta.

Hari pertama, aku terburu-buru dan berlari-lari dari kelas Bahasa Inggrisku yang selesainya super telat karena Cheikh membagikan hasil in-class paper Scarlet Song-ku. Nilainya? Jangan ditanya, hahaha. Yang penting sekarang saatnya Project Week! Mexico, I’m coming! Hampir telat, karena 12 temanku yang lain sudah duduk tenang di dalam minibus di depan Old Stone Hotel. Setelah orang terakhir datang, kami segera meluncur menuju highway, dan meninggalkan Montezuma.

Ke-13 temanku yang ikut dalam perjalanan kali ini adalah sebagai berikut:
1. Andrea Sanchez (Mexico)
2. Julie Trolle (Denmark)
3. Selen Ozturk (Turkey)
4. Nicol Chincilla (Costa Rica)
5. Inviolata Chami (Tanzania)
6. Kripa Dongol (Nepal)
7. Joshua Leon (USA)
8. Ikhzaan Saleem (Maldives)
9. Max Heng (Singapore)
10. Javier Lux (Guatemala)
11. Pedro Monque (Venezuela)
12. Paul Cicochki (Austria)
13. Andrew Nalani (Uganda)
beserta faculty sponsor: Tom Lamberth, juga Albert dan Ray. Dan aku berterimakasih untuk mereka semua yang membuat perjalanan ini luar biasa. Dan juga untuk foto-fotonya. Sebagian dari foto-foto ini berasal dari mereka, haha. Terima kasih banyak, thank you so much, muchas gracias, merci beacoup!

Perjalanan kami ke kota perbatasan di Meksiko ini bertujuan untuk menggelar international show di kawasan perbatasan ini. Tak hanya untuk menyambung persahabatan dan membuat mereka senang, tetapi juga untuk menunjukkan pada dunia bahwa walaupun Meksiko sedang menghadapi perang narkoba, kehangatan dan senyum dari warganya masih sama dan hangat.

Jadi, secara keseluruhan, perjalanan kami ke sana dibagi menjadi dua tujuan: mempelajari isu kota perbatasan, dan menggelar international show. Untuk pertunjukkannya sendiri, kami yang dari berbagai negara ini menyumbang tari dan lagu, dan aku menyumbang tari saman! Yes, haha. Walaupun terlalu banyak remake-nya, tapi hasilnya tetap luar biasa dan membuat mereka terkagum-kagum dengan tarian satu ini. Bangga rasanya!

Running order pertunjukkan. Lihat nomor 11! Yes, Saman Dance! 🙂

Aku sendiri berada di beberapa skits, jadinya harus ganti baju lari-lari. Setelah Opening with Map (di sini aku memperkenalkan diri dalam Bahasa Indonesia!), aku juga memperkenalkan agama Islam di World Religions. Nepali Folk Dance berikutnya oleh Kripa, memberikanku waktu untuk bernapas dan ganti baju mengenakan dress untuk Waltz. Pasanganku adalah Max Heng (Singapore), dan di setiap sekolah yang kami kunjungi, anak-anak meneriakinya dengan sebutan “Chinito”, atau Little Chinese Man dalam bahasa Spanyol.

Kemudian, aku berlari kembali ke ruang ganti baju dan mengganti baju dengan kaos AND (African National Day) tahun lalu untuk menari Gumboot. Sementara itu, Pedro bermain biola dan Javier bermain gitar. Ada cerita menarik tentang Pedro. Dia digila-gilai oleh banyak gadis di Mexico. Sempurnalah dia karena bahasa pertamanya adalah Spanyol dan dengan senyum khas latinnya dia memikat dengan alunan lagu dari biolanya. Biasanya, setelah show, banyak sekali gadis-gadis yang mengerubunginya untuk minta tanda tangan dan foto bareng. Aku pun pernah jatuh karena fans Pedro yang berlari-lari dan mendorongnya. Bahkan, saat akhir trip, Pedro menyadari bahwa dia kehilangan kemeja birunya, and I suspect those girl steal it from him! Haha. Tak hanya sampai di situ, begitu kami kembali ke US, friend requests berdatangan di Facebook, dengan Pedro sebagai profile picture-nya!

Dan berikutnya, adalah Gumboot. Kalau tak tahu apa itu Gumboot, silakan cek di Youtube. Tariannya agak rumit, tapi benar-benar menyenangkan.
Aku pun mengajari temanku yang lain: Andrea (Mexico), Max (Singapore), Kripa (Nepal), Andrew (Uganda), Pedro (Venezuela), dan Julie (Denmark) bagaimana menari Saman. Dan hasilnya luar biasa!

Selain itu, kami juga menampilkan Belly Dance dan Maahi Ve (tari India) sebagai penutup. Antusiasme yang luar biasa dan semangat serta senyum yang datang dari penonton menjadi energi kami semua untuk menjalani tiap show kami dengan luar biasa (FYI, total show yang kami lakukan sekitar 7 shows loh!).

Belly dance, cowok. Hahaha. Tapi mereka luar biasa loh! 🙂

Belly dance, sebenarnya, dimotori oleh Selen (Turkey).

Antusiasme penonton yang luar biasa, anak-anak Meksiko dengan senyuman yang cerah.

Tari khas Meksiko oleh Andrea. Dia mampu menyihir semua yang hadir di sana untuk melihatnya!

Salah satu clown skit: Blind Date. Ya, Tom pakai stilt biar kelihatan lebih tinggi!

Bahkan, salah satu stasiun TV lokal (APSON TV) mengundang kami untuk tampil dalam acara livenya, dan kami mengucapkan halo dan selamat tinggal dalam bahasa kami masing-masing!


Selain menampilkan pertunjukkan, kami juga mengorganisasi kegiatan untuk anak-anak SD di sana. Kami mengajarkan tari Afrika (Dem Ba Nieuw), dan Maahi Ve, bahkan Belly Dance!

Mengajarkan tari Maahi Ve (tari India).

Meksiko juga luar biasa, kawan. Ramahnya itu loh, mengingatkan aku pada Indonesia. Setiap habis show, kami pasti disuguhi makan besar di tiap sekolah. Selain itu, Agua Prieta juga kota yang indah (dengan segala sesuatunya serba murah!) dan makanan yang enak. Di mana lagi mencicipi es krim mangga dengan cabe kalau bukan di sini? Di mana lagi mencicipi tortilla yang enak kalau bukan di sini?

Tarian Meksiko yang indah dan sungguh luar biasa.

Dinner besar sebelum kembali ke USA. Minuman enak: Horchata (dari beras), dan Jamaika.


Menginap di salah satu sekolah. Ya, berantakan. Ya, sleeping bag di mana-mana.
Hidup bagaikan gypsy.

Salah satu kelas, mereka punya televisi dong. Padahal di UWC saja tak ada televisi 😦
Menonton telenovela dalam bahasa Spanyol, walaupun tak mengerti.

Paul (Austria), bersama salah satu anak Mexico.

Gereja terbesar di Agua Prieta.

Josh (USA) dan AND T-Shirt.

Bagian kedua dari tulisan ini adalah fakta sebenarnya tentang kota perbatasan. Apa yang terjadi, dan kenyataan lapangannya. Pada hari Selasa tanggal 8 Maret, kami menyusuri gurun luas di antara Mexico dan USA, dipandu beberapa orang yang menceritakan kenyataan pedih tentang para imigran ilegal yang mencoba melintasi border demi hidup yang lebih baik di USA.

Para imigran ilegal ini dikomandoi oleh seorang coyotes, mereka melintas border ini. Mereka harus berjalan sekitar 4 hari untuk mencapai kota terdekat di US, dan mereka hanya bisa berjalan pada malam hari untuk menghindari polisi perbatasan. Ya, mereka memanjat pagar tinggi ini, dan banyak sekali orang yang meninggal karena dehidrasi atau masuk jurang yang tak terlihat saat malam hari. Tak hanya itu, perbatasan ini juga rawan karena banyak sekali penyalur narkoba yang melintasi tempat ini.

Pagar perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko. Menghadap ke sisi Amerika.

Kakiku berada di Amerika Serikat, badanku di Meksiko, dan hatiku di Indonesia.

Hiking di siang terik, membelah gurun demi melihat perbatasan.

Tali yang dipakai untuk membantu mereka memanjat pagar tinggi.

Berfoto bersama di pagar perbatasan.

Sungguh, rasanya miris. Apalagi tiba-tiba aku teringat dengan konflik Indonesia-Malaysia dan TKI. Mulai sekarang, aku mau tak mau harus memikirkannya. Dan seperti judul tulisan ini, “God Has No Border“, sebuah kalimat yang menyentuhku saat aku tiba di Centro Communitario, dengan mural besar bertuliskan kalimat ini. Ya, Tuhan tak punya batas. Karena itu, untuk apa perbatasan jika hanya menimbulkan sakit? Dan dalam Project Week Report-nya, faculty sponsor-ku, Tom Lamberth, menulis hal ini, “As Alma Socorro said in a speech before our show: If there is something that is not separated by a dividing line, it is friendship. If there is something that is not divided by a border, it is culture.

Dalam telingaku terngiang-ngiang lagu yang sering kami nyanyikan selama di Agua Prieta, “Me gusta Agua, me gusta Agua, me gusta Agua, Agua Prieta.” Aku bersyukur karena aku berada di perjalanan ini dan banyak belajar. Terima kasih, Ya Allah. Alhamdulillah. Terima kasih untuk 17 orang luar biasa, dan terima kasih untuk orang-orang di Agua Prieta.
Advertisements

2 thoughts on “"God Has No Border"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s