Salju, Imlek, Dorm Photos, Cincin Pertama, Pen-Pal

Kawan-kawan semua! Apa kabar? Rasanya kangen sekali bisa meluangkan waktu walaupun sedikit untuk menulis di sini. Maklum, kehidupan terasa cepat dan sibuk. Ada-ada saja yang harus dilakukan, dan ya… self-taught deadline untuk World Literature Essay. Belum minggu depan ada 3 ulangan: matematika, kimia, dan ekonomi. Matematika? 2 papers. Ekonomi? 3 papers. Entah, belum kebayang, belajar aja belum. Sedangkan besok ada CLAD, alias Caribbean Latin American Day, dan juga bake sale di Walmart, untuk fundraising buat project week di Mexico. Belum, besok aku harus pakai kebaya, untuk meng-attract orang-orang supaya beli cookies atau cake yang dijual. Pfiuuuh…

Jadi, bagaimana kalo aku cerita-cerita apa yang terjadi belakangan ini di UWC-USA? Setuju? Yang pasti walaupun dinginnya salju di luar sana menggigilkan seluruh badanku, pertemanan di antara kami semua malah menghangat, sehangat angin musim semi yang menyongsong.

***
Keranjingan BBF? Mungkin itu yang terjadi belakangan ini. Lingkaran pergaulanku menyempit pada orang-orang Asia yang kecanduan drama Korea. Hal yang selalu kami lakukan: conference group di Skype, “Iraha bade nongton BBF teh?” atau wall Facebook, “Hayu nongton BBF! Pan ulangan fisikana eunggeusan.” Haha. Lucu sekali.

Dan… New Mexico akhirnya punya salju juga. Weekend minggu kemarin, suhunya menyentuh 15 derajat celcius di siang hari. Makanya, oleh asramaku, kami gunakan kesempatan ini untuk dorm photos, buat yearbook. Gaul kan, pakai dress fotonya, sama nenteng balon bintang merah dan loncat sama-sama berlatarbelakangkan kastil?

Tapi, tiba-tiba ramalan cuaca bilang: BADAI SALJU. Siapa tak shock? Dalam 3 hari suhu ngedrop sampai minus 30 derajat celcius. Dan salju pun memenuhi seluruh sudut sekolah. Dingin? Jangan ditanya. Aku tak pernah membayangkan bahwa menghirup udara pada suhu minus 30 derajat itu susah sekali. Ingus membeku di dalam hidung. Tangan terluka dan berdarah pun sampai tak terasa sama sekali. Rasanya seperti tak punya telinga, tangan, atau kaki. Maklum, malas pakai topi, sarung tangan, atau kadang-kadang dobel kaos kaki. Baju lapis empat pun masih dingin menusuk-nusuk, rasanya. Subhanallah, aku lebih menghargai tropisnya Indonesia, sekarang.

Dan tak lupa, main salju! Berhubung di sekolah kami sedang kedatangan anak-anak dari Cina yang studi banding, kami pun mengajak mereka main-main. Mereka lucu-lucu sekali loh, malu-malunya Asia itu kentara banget, haha.

Hanya dalam tiga hari, dan menjadi seperti ini. Ketebalan: kurang lebih 10 cm.

Kastil yang tampak jauh lebih indah. Dengan salju yang menumpuk di mana-mana.

Dan, tadi, saat ngecek PO Box ke kantor pos, kami menyadari bahwa saljunya sudah berubah, karena suhu menghangat. Jadinya lebih nempel, dan bisa dibentuk jadi manusia salju! Asyik! Aku, Simona, Andrea, dan Sopheaktra pun mulai membuat bulatan-bulatan salju, mencabut ranting, dan akhirnya: melingkarkan syal di sekeliling leher manusia saljunya. Waw.
Terus, kemarin aku ada ekskul Jewelry Making. Bikin perhiasan gitu, dari silver, nickel, atau brass. Bikinnya memang dari pertama, ada plat silver, harus dibentuk, dipanasin, disatuin, di-stamp motifnya, dipoles, terus jadi deh. Prosesnya cepat, dan yang penting, hasilnya luar biasa. Ini pertama kalinya aku membuat cincin perak sendiri. SENDIRI loh, ya, haha. Ekskulnya memang luar biasa, jadi pemilik galeri di kota sengaja datang dan mengajarkan kita untuk membuat perhiasan. Kalau mau gabung, cukup bayar 20 dollar, sisanya sudah disubsidi dari sekolah. Wih, luar biasa kan.


Sekarang, tak hanya liontin dari ibuku dan Lucien (hadiah ulang tahun kemarin) yang menghiasi kalungku, tetapi juga cincin ini! Yes!

Lalu, kemarin juga ada tahun baru Cina. Dan ini hal yang spesial untuk anak-anak Asia di sini. Kami masak sama-sama, dan makan sama-sama. Lebih-lebih, seperti yang sudah kuceritakan, ada anak Cina juga yang studi banding di sini. Jadinya rasanya lebih spesial. Dan tebak apa yang kudapatkan! Angpao! Dengan amplop merah!

Lalu, apa isinya? Dua puluh dollarkah? Lima puluh dollarkah?


Ternyata, hanya satu cent. Atau sekitar 900 rupiah. Tapi keren amplopnya, haha. Tak lupa, ada permen juga, yang belum aku coba. Dan bahkan aku tak tahu apa yang tertulis di sana. Hehehe.

Sebelumnya, aku cerita bahwa aku pergi ke kantor pos. Nah, kebetulan aku dapat surat! Dari Abo, alias Arina Shabrina. Teman yang selama ini belum pernah benar-benar ketemu, tapi tahu satu sama lain. Ketemu di blog dan facebook. Dulu dia di SMA 5, yang biasanya gontok-gontokkan dengan SMA 3. Tapi, toh, aku dan dia sering mengobrol juga akhirnya, dan kami ternyata menyukai beberapa hal yang sama. Yang paling penting: kami sama-sama berbagi suka duka di negeri orang, bagaimana rasa kangen yang tak tersalurkan akhirnya dibagi sama-sama. Bisa ditebak, saat aku menerima suratnya, jejingkrakan-lah aku. Loncat-loncat kegirangan. Terima kasih, Abo!


Terakhir, tapi bukan yang paling sedikit atau tak kalah pentingnya, adalah hari-hari yang menyongsong di depan. Banyak sekali yang akan terjadi. Banyak yang akan mengisi, menjadi kenangan. Sekali lagi aku hanya bisa mengusap dada, dan bersyukur, Alhamdulillah, aku bisa berada di sini dan menikmati pengalaman yang tak tergantikan. Aku berjanji untuk membayarnya, dengan segala sesuatu yang bisa kubayar untuk negeri dan sekolah ini. Terima kasih, Ya Allah, aku hidup sampai detik ini dan menikmati segalanya.

Special thanks to Simona Boyadjiiska for some of the photos.
You know that I like you, and let’s watch Boys over Flowers together.
Don’t forget to download Korean drama during summer break.
Advertisements

One thought on “Salju, Imlek, Dorm Photos, Cincin Pertama, Pen-Pal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s