CEC Retreat dan Sholat di Gereja

Karena laptop yang baru tiba dari Amazon, semangat menulis mau tak mau terpecut juga. Produktivitas meningkat, termasuk di dalam social media. Tapi ujung-ujungnya entah kenapa dimatikan juga oleh si Tugas dan si Ujian, duo maut yang selalu bikin takut.

Dan kemarin Sabtu, akhirnya para firsties yang mulai jenuh (padahal belum ada apa-apanya dibandingkan second year) dengan rutinitas, disegarkan dengan CEC Retreat di Metodist Church di Las Vegas. Kenapa harus di gereja? Konon, ini bentuk donasi dari mereka kepada sekolahku, yaitu dengan menyumbang tempat.
Malam sebelumnya, aku tidur pukul 2.30 pagi. Nyata-nyatalah mataku tak bisa diajak kompromi selama seharian itu. Materinya keluar masuk seperti cacing kepanasan. Tapi ujung-ujungnya keluar semua.

Hem, tidak juga sih. Demi menghormati para CEC leaders, yang semuanya second year, yang merelakan Sabtu mereka untuk mengurusi para firsties sementara tumpukan tugas menunggu dengan anteng di kamar mereka, aku akan ceritakan sedikit.

Tapi sebelumnya, terima kasih untuk Adilson Gonzalez, temanku yang dari Mexico, yang bersedia fotonya kucomot untuk postingan kali ini. Gracias, mi amigo (pero tu eres feo :P)!

CEC adalah kependekan dari Constructive Engagement Conflict, bagian sentral dari UWC manapun. Berat ya judulnya. Tapi, intinya sederhana. Workshop-workshopnya berintikan bagaimana menjembatani konflik, karena semua siswa UWC dari latar belakang kultur dan kebiasaan yang berbeda. Jangan heran, kalau ada gesekan-gesekan kecil, seperti misalnya hanya karena persepsi tentang baik buruk yang datang dari kultur masing-masing.

Kebanyakan isi workshopnya sih diskusi, walaupun pada siang hari ada juga selipan game macam ricochet dan ninja (salah satu game favoritku semenjak tiba di sini). Yang bikin meringis ya angin musim gugur yang dingin itu. Tapi, senang juga rasanya melihat angin itu menggulung daun-daun kuning yang sudah rontok dan menciptakan topan kecil.
Langit New Mexico memang biru dan bersih sekali. Awan jarang mampir. Kalau dia menggantung, dijamin hari itu akan hujan. Kadang-kadang aku rindu langit berawan, seperti Indonesia.

Makan siang di dapur gereja dengan masakan India rasanya luar biasa, karena lidahku membacanya sebagai masakan Padang. Mirip luar biasa! Rasanya seperti papila-papila lidahku bangun dari tidurnya setelah 2 bulan makanan yang tak berasa. Makan malam pun perutku diisi dengan makanan Mexico, di sebuah restoran bernama El-Rialto, dekat taman kota. Beda sekali dengan makanan yang disediakan oleh kafetaria, karena yang ini benar-benar yahud. Lebih senang sekali ketika di pojok meja prasmanan aku menemukan sesuatu yang sejak pertama aku bertemu, aku jatuh cinta dengannya. Ya, totopos, alias Mexican Chips yang luar biasa dengan saus salsa dan lumeran keju; siapa yang tak jatuh cinta padanya?

Oya, satu hal yang menarik, karena aku tak menemukan tempat suci untuk sholat (ya iya, mana ada mushola atau masjid), akhirnya aku sholat di gereja, di chapelnya. Rasanya aneh sholat tapi menghadap salib. Aku tahu, mungkin ini isu sensitif. Tapi mohon maklumnya, karena ini dalam keadaan super-terdesak.

CEC Retreat boleh dibilang menyegarkan otakku kembali. Sebelum aku kembali ke kampus dan bergelut dengan Internal Assessment Economy-ku, tentang pasokan gas di Indonesia dan shifting supply curve-nya.
Advertisements

2 thoughts on “CEC Retreat dan Sholat di Gereja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s