Membaca Amerika (Dan Dunia)

Minggu pagi yang cerah (dan dingin). Belakangan ini saya sering sekali mengutuk cuaca di sini, yang kalau siang panasnya bisa sampai 70-80F, dan malam bisa menyentuh 30F (hampir nol derajat celcius). Anginnya pun bikin kulit mencelos, jaket angkatan 2011 pun tak bisa menahannya.

Suntuk dengan tugas yang menumpuk, yang kutahu ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan second year, jemariku beralih klak-klik ke social media. Sayang, Indonesia sedang tengah malam saat ini, aku tak bisa menemukan tanda-tanda temanku online di sana.

Beralihlah aku menjadi stalker Facebook. Maklum, ketinggalan berita dari teman-teman rasanya kurang enak. Sampailah aku pada tumblr-nya Arina Shabrina, anak SMAN 5 Bandung yang sekarang di Colorado karena pertukaran pelajar (entah AFS atau YES). Mungkin aku pernah berpapasan dengannya di koridor 3 dan 5, di bazaar saat ngantri baso tahu, atau di kantin 5 saat aku memesan pisang ijo strawberry (yang aku kangenin sampai kebawa ke mimpi!). Aku tahu dia anak DKM, karena Karima dan Ainun kadang-kadang ngobrolin teman mereka. Terima kasih, karena ini berguna sekali buat saya untuk mengerti bagaimana sebenarnya di luar sana.

Kehidupan UWC boleh dibilang terpisah dari dunia luar. Kami punya komunitas sendiri di sini, dan kami hanya berinteraksi dalam beberapa aspek saja. Makanya saya megap-megap begitu lihat sekolah Amerika yang sebenarnya, yang beda jauh banget pisan (di-bold, underline, italic, big) dengan UWC. Atau saat saya ke kota dan belanja di Walmart, atau saat saya ke dokter (ngurusin jari saya).

Saya jadi mikir, nanti kalau saya mau kuliah di sini tetap saja saya ngalamin culture shock, karena kehidupannya memang beda.

Ngomong-ngomong soal culture shock, saya nemu banyak hal lucu soal ini. Saya akan coba jabarkan satu-satu, hehe.

Roomate-ku dari Belanda, dan dengar cerita dari Trisi di Belanda, mereka bebas luar biasa. Waktu teman saya ngejek-ngejek dia, menuduh dia berorientasi ganda, dia lempeng aja. Katanya, di sana sudah biasa, dan jika dibilang berorientasi ganda malah kedengarannya cool.

Atau temanku yang dari Turki. Selama ini pandanganku adalah: Turki=Timur Tengah=Negara Islam yang ketat. Ternyata salah luar biasa. Aku tahu kalau Turki adalah negara moderat, tapi tak kukira semoderat ini. Temanku ini Muslim, tapi dia mengaku kalau dia bukan Muslim yang baik. Yah, setidaknya minuman favoritnya Tequilla, Wine, dsb.

Masih soal temanku yang dari Turki. Ada juga temanku yang dari Bulgaria, dan aku tak pernah menyangka kedua negara ini begitu dekat, bahkan Turki pernah menjajah Bulgaria. Nah lho, mereka kadang-kadang nemu hal random yang sama, seperti makanan atau band favorit.

Aku jadi ingat saat Buddy Dance, ketika saling tukar kado, buddy-ku nanya, “Boleh dibuka sekarang hadiahnya?” dan saya cuma bengong. Setelah buka kwintessential.co.uk (situs ini lumayan juga buat studi analisis kultur dan kebudayaan, saya pakai referensi dari sini untuk analisis dan essay B. Inggris saya), ternyata budaya mereka buka hadiah langsung begitu diterima. Kebayang kalau di Indonesia kaya gitu, kalau ada orang nikahan terus kita ngasih amplop, eh amplopnya langsung dibuka saat itu juga di pelaminan, dan ketahuan kalau amplopnya kosong. Ampun.

Dan masih banyak hal lainnya. Nanti kuceritakan kembali, karena aku masih mentok dengan tugas B. Inggrisku (yang belum selesai dari kemarin-kemarin).

Advertisements

2 thoughts on “Membaca Amerika (Dan Dunia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s