From Eid Mubarak to Buddy Dance

Jumat ini meledak, napas tersedak-sedak, buatku. Antusiasme mengasap di sekelilingku, membakar ubun-ubunku. Ini pertama kalinya Eid Fitr tanpa keluargaku seperti biasanya. Aku berada nun jauh 13 jam beda waktunya, dan aku beruntung masih bisa merasakan nikmatnya sholat eid.


2 jam dari Montezuma ke Albuquerque cukup membuatku menabung jatah tidurku. Sepanjang jalan, takbir berkumandang dari mulut kami; aku, Malak, Fatima, Zeinab, Safa, Abubakar, Ahmad, Ikhzaan, Mohammad, dan keluarga Eyad, guru yang suka kutebengi sahur dan iftharnya; yang tentu mengobati rasa rindu akan Indonesia yang tak habis-habisnya.


Tibalah kami di
Islamic Center New Mexico, dan lantunan takbir menyeruak keluar dari pintunya. Subhanallah, aku rindu suasana ini.


Yang asyik adalah, khotbahnya dalam Bahasa Inggris, sedikit-sedikit bisa dimengerti. Aku jadi tahu beberapa terminologi Islam dalam Bahasa Inggris, seperti profit untuk pahala, misalnya.



Setelah sholat eid dan khutbah, DKM masjidnya menyediakan refreshment dan snack, yaitu kopi dan muffin/ donat. Yang satu ini cukup meredakan raungan predator dalam perutku.



Lalu, kami melanjutkan dengan acara yang boleh dibilang bertajuk “mencari countrymate”. Arabic banyak, India banyak, Afrika juga banyak. Mana Indonesia? Setelah pencarian berlarut-larut, akhirnya aku menemukan juga “countrymate”-ku, Mbak Rinta namanya. Ternyata beliau juga kenal dengan Mbak Dini, beliau kemungkinan besar akan jadi target utama buat melindungi diri dari terjangan ganas salju winter break 😀

Kemudian, kami pergi ke mall (ya nengratna, akhirnya saya ke mall amerika). Bajunya sih, murah di Indonesia (jelas!). Tapi di sini, aku banyak berpikir. Mulai dari: 1. Apa bedanya orang Indonesia dengan orang bule saat berbelanja? 2. Bagaimana orang bule memanajemen mall mereka? 3. Apa kelebihan mereka yang bisa diadopsi oleh kita? (ini bisa jadi peluang baru!)

Jam menunjukkan pukul 1, saatnya sholat Jumat. Kukencangkan lagi sabuk pengaman, dan kembali ke Islamic Center sebelumnya. Jujur, ini pengalama pertama Sholat Jumat. Di Indonesia, wanita tidak diwajibkan, bahkan sangat jarang yang Jumatan. Kalau boleh jujur, aku lebih suka gaya berdakwah ustadz Indonesia. Tidak menekan, tapi persuasif luar biasa. Kalau ustadz India yang satu ini apinya menjalar ke mana-mana, panas. Tapi buatku, ini bikin melengos:

Naon sih ieu? Maaf ya, ustadz, hehe.

Setelah ini, tebak kami ke mana. Ya, ke mall lagi! Seconda-ku bilang: mall bisa jadi barang langka, kerjaannya UWC-USA hiking melulu. Sedikit bocoran, akhir September nanti ada yang namanya Southwest Studies, semacam karyawisata. Tapi karyawisatanya hiking dan camping. Dan itu luar biasa, pastinya. Salah satu tujuannya ke Grand Canyon, tapi aku agak malas ikut latihan preparation-nya yang harus berolahraga dari pukul 6. Kuharap sih, bisa dapat yang Rock Climbing atau hiking ke aku-lupa-namanya, yang jelas disponsori Ben. Soalnya, perjalanan terakhirnya berakhir di Sento! Wih, kapan lagi mandi Sento di Amerika 😀

Kembali ke Jumat ceria, di mall. Barangnya mahal-mahal sih kalau dikurskan. Kaos biasa saja bisa 10 dollar. Tapi, untunglah mataku jeli, dapat juga kaos harga 2 dollar 30 cent (mata berputar jenaka). Ya, ya, saya gila harga. Tetapi ada hal lain, stok kaosku menipis, dimakan tetangga.

Setelah itu, kami kembali. Mataku benar-benar dimanja dibuai pemandangan sekitar. Padahal Albuquerque itu gurun. Bayangkan kalau Bandung ditata apik, hasilnya pasti lebih ciamik.



Perjalanan pulang tak kalah luar biasa, takbir berkumandang di sudut mini bus, tanpa terasa sampailah juga di kampus tercinta. Jarum jam menunjukkan pukul 8. Kutepuk dahiku keras, masya Allah, Buddy Dance!

Buddy Dance adalah pesta dansa, di mana first year dipasangkan dengan second year -first year tidak mengetahui pasangannya-, laki-laki dengan perempuan. Gila, seumur-umur Prom saja belum pernah nyicip! Alhasil, nego dengan panitia pun tidak berhasil. Aku harus datang.

Senyum lebar artifisial kulatih. Sungguh, Albuquerque sudah cukup bagiku hari itu. Terduduk di kamar, dengan barang-serba-pinjam-semua, aku diam, menunggu. Pintu pun diketuk, dan di sana berdiri buddy-ku dengan sebuket mawar merah. Diam, oh ternyata leader grup orientasiku, Pau dari Spanyol. Kemudian, kami berjalan ke kastil, dan masuk ke ruangan di mana 2 pasangan buddy lainnya sudah menunggu.

Ini-bukan-aku, berkali-kali aku berkata seperti itu. Dinner yang tersedia jadi tak senikmat Batagor Isan yang dimakan sama-sama. Tapi, aku mendengar banyak cerita dan pengalaman dari mereka. Bagaimana mereka “terdampar” di UWC, sampai cerita dari tahun lalu. Setelah itu, mereka, para second year menampilkan puisi dan nyanyian dalam Spanish. Ngaberekbek, tak kumengerti. Seumur-umur aku hanya mengerti Como estas dan bien.

Beranjak menuju ke Student Center, di mana party sebenarnya berada. Sepertinya label “culture shock” menempel lekat di dahiku, dan bertambah-tambah saat berjalan di red carpet, foto, dan masuk ke ruang gelap dengan lampu disko berkedap-kedip.

Si nurani berontak, mohon undur diri. Aku pun bilang terus terang, bahwa aku tak bisa ada di ruangan ini. Kami pun keluar, dan duduk-duduk mengobrol, menantang dinginnya malam di kota 3500m di atas permukaan laut (2 kali lipat Tangkuban Perahu) -yang membuatku sadar mengapa summer di sini dingin-.

Saat lelah menghajar lebih kuat, aku undur diri, kembali ke asrama. Rasanya benar-benar tak enak karena aku seolah-olah memaksakan kehendak padanya. Semoga Anda mengerti, sama-sama jadi pelajaran buat kita. Dan 9 bulan masih panjang, aku harus lebih mengorganisir hati, memanajemen diri, dan tanya nurani.

Pau menyodorkan pernyataan yang membuatku terjaga malam itu, “Mustahil seseorang tidak berubah dalam 9 bulan. Pilihan begitu banyak, saatnya mencoba (dalam konteks positif), biarkan dirimu memilih yang nyaman buatmu, tanpa dikte dan doktrin orang lain.”

Aku cuma melengos sedih, Jumatku dosisnya berlebih.

Advertisements

3 thoughts on “From Eid Mubarak to Buddy Dance

  1. bener bener pengalaman yang luar biasa tan! mulai dari solat ied di islmaic center, sampai buddy dance! that's so awesome! take care ya cantik 🙂 aku selalu doain titan dari sini, love u bestie!!

    Like

  2. dideuuunn…. salam ya buat Pau *gaplok*

    eh pagi sama malem beda jauh begituh.. fufufu.. kenapa harus ada acara aneh ituh sih den pake pasang2an segala? aneh yaa.. hihihihi..

    oia, km gemukan ya den?

    hati2 di sana yaa.. thankyou banget oleh2 postingnya 🙂 aku baru aja pulang mudik Rembang-Jogja-Tasik 35 JAM.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s