Bandara Cerminan Wajah Kita

Aku ngeces tidak percaya, ada benda macam Google Earth dan Google Maps di dunia ini. Melihat rumahku benar-benar dari atas atapnya di internet bikin dadaku kebat-kebit tidak percaya. Ini benar rumahku?

Itu baru sebagian. Entahlah, aku tak pernah belajar bagaimana cara internet bekerja. Yang jelas, internet sudah jadi semacam kotak ajaib bagiku, tidak kalah dari televisi pada zaman orang tuaku. Apapun yang kuminta, dia selalu memberikannya. Tidak pernah tidak. Bahkan tanpa filter, hingga (jangan ditanya) banyak orang terjerumus ke dalamnya.

Ah, sudahlah. Aku ingin menceritakan hal lainnya.

Malam ini, aku iseng-iseng browsing bandara internasional. Ingin tahu, bagaimana fasilitas dan di mana terminal atau gate-gatenya, siapa tahu suatu hari nanti aku berkesempatan mampir, hehe.

Dimulai dari Narita, Jepang. Jangan tanya soal bagaimana wajah Narita padaku, karena kau bisa menemukan yang lebih lengkap di sini. Wih, cincai mantap websitenya. Jelas dan getas! Segala panduan ada di sini,mulai dari yang sederhana seperti map, sampai panduan bagi anda yang transit lama di sini. Dan yang aku syukuri, tak ada huruf kanji di sini, haha.

Lalu beranjak ke Salt Lake City, di Utah. Situs bandaranya memang tak selengkap Narita, tetapi aku benar-benar senang dengan map flash-nya yang interaktif. Selain itu, Wi-Fi di bandara ini gratis! Sekadar catatan, kalau di Narita, Wi-Fi pun harus bayar. Pilihan lainnya adalah mengakses internet menggunakan koin, yang biayanya 100 yen/10 menit (jika kurs Yen ke Rupiah 125, maka kira-kira 12.500 rupiah). Jangan bandingkan dengan Warung Internet Indonesia, yang jelas, wong kecepatannya juga sudah pasti beda.

Nah, setelah itu, iseng-iseng juga aku tanya ke Mbah Google, situsnya Bandara Soekarno-Hatta, bandara kebanggaan kita semua. Setelah dapat situsnya, kukocek-kocek dalamnya, dan bolehlah aku kecewa. Tanya kenapa? Ini jawabnya.

Selain karena, kata-kata “Maaf, data yang anda cari tidak dapat ditemukan,” ketika aku mengklik laman International Departure; aku juga kecewa karena bahasanya campur aduk. Saat aku memilih menu Bahasa Inggris, masih ada menu-menu dan informasi yang menggunakan Bahasa Indonesia. Aku cuma tepuk muka malu sendiri, terbayang bule-bule yang ingin ke Indonesia, lalu kaget menemukan kata-kata yang tidak pernah mereka kenal dalam Bahasa Inggris.

Ya, kalau bulenya pintar, dia bisa mencari di Google Translate. Kalau bulenya bodoh?

“Wah, saya baru tahu ada kata-kata ‘tidak dapat ditemukan’ dalam Bahasa Inggris. Sepertinya, saya harus kursus bahasa lagi.”

Ah, Visit Indonesia, bagaimana nasibmu kini? Padahal website bisa jadi wajah pertama Indonesia yang mereka kenal.
Advertisements

3 thoughts on “Bandara Cerminan Wajah Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s