Maaf, Kami (Tidak) Bisa Disuap (Lagi)

Tahun ini boleh jadi aku jejingkrakan, karena sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku, dan mimpi-mimpi yang asalnya hanya tulisan asal, mewujud perlahan. Wih!

Syukur tak putus-putus, karena kemarin 12 Maret 2010, tulisanku dimuat di harian nasional, Kompas, dalam lomba Ulang Tahun Kompas Muda, yang berjudul “400km Pertama Jauh dari Orangtua”. Selengkapnya bisa baca di sini.


Ah, senangnya bukan kepalang! Sementara itu, ob
sesi untuk bisa masuk MIT semakin tebal. Rasanya ingin sekali menjejakkan kaki di sana, berfoto dengan MIT Dome, dan menikmati kehidupan mahasiswa yang haus akan ilmu.

Aku yakin kesempatan itu pasti akan datang suatu hari nanti. Sementara itu, yang harus kulakukan hanyalah mencoba segala sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.
Dan akhirnya, aku dicalonkan sebagai penerima beasiswa di Armand Hammer United World College di USA selama 2 tahun. Aku cuma bisa melongo melihat sekolahnya yang merupakan sebuah kastil di Montezuma, New Mexico.

Efeknya, berkali-kali aku bangun tidur di pagi hari, aku mengecek segalanya dan mengingat-ingat semuanya. Karena ini seperti bunga tidur bagiku.


***

Lazimnya, aku harus membuat paspor, karena sejengkalpun aku belum pernah keluar dari teritorial Indonesia. Kantor Imigrasi menjadi tujuanku, dengan didampingi kakakku dan motor bebeknya, membelah Bandung lewat Jembatan Pasupati.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya setelah mengantri berlama-lama, aku bisa juga memasukkan formulir dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari kemudian, aku pun datang untuk wawancara dan foto. Tetapi aku kaget begitu diwawancara.

“Jadinya minggu depan, Pak?”

“Iya. Kami butuh waktu empat hari kerja untuk memprosesnya.”

Sial, rutukku dalam hati. Padahal aku membutuhkannya secepat mungkin. Maka, keesokan harinya, aku datang bersama ayahku ke sana, mencoba mencari ‘jalur cepat’ dengan membayar lebih.

Ada seorang bapak petugas, yang kami dekati.

“Pak, anak saya sudah wawancara dan foto kemarin. Dia butuh paspornya secepatnya. Bapak bisa bantu?”

“Oh, sebentar.”

Bapak itu kemudian masuk ke ruangannya, dan kemudian keluar lagi kurang dari satu menit.

“Maaf, Pak. Bapak ambil saja paspornya sesuai waktunya. Saya tidak bisa membantu.”

Ah, arifnya. Ternyata papan-papan penghias dinding imigrasi bahwa petugas tidak boleh menerima gratifikasi dan suap bukan hiasan. Tapi aku kesal sendiri, kok ya harus lama-lama tho’ bikin paspor doang?

Pictures are taken from:
Advertisements

One thought on “Maaf, Kami (Tidak) Bisa Disuap (Lagi)

  1. aku pernah berdo'a atau mungkin lebih tepatnya berangan-angan supaya suatu hari aku bisa mengunjungimu atau bahkan sesehari bisa memberi sejumput makanan dari piringku untuk piringmu. di dapur kita makan bersama dan bercerita tentang teman sekelas kita dari Turki yang aku kecengi. selesai makan kita pergi. memakai batik saat pesta. jadilah orang-orang melihat kita. kata mereka orang Indonesia manis sekali–seperti kita berdua dengan batik parang khas Jogja. kita pulang agak larut tapi tenang-tenang saja karena tidak perlu khawatir akan ada yang mengomeli kita seperti saat kita di Indonesia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s