"Ketika Tasbih Bercinta" by Provoke

Lembar-lembar majalah gratis dengan bentuk yang catchy itu sungguh menarik hati. Provoke namanya. Edisi perdananya sukses dilumat bulat-bulat oleh kami sekelas.

Kenalkan, kami siswa/i yahud Kota Bandung. Tampan, cantik, menawan. Otak kami dijejali ilmu sains dan berlembar-lembar rumus. Kami bukan tak pernah menyesali masuk kelas IPA, tapi kami selalu menyesalinya.

Seperti pagi itu. Matahari mendadak genit dan dengan centil sembunyi di balik gorden hijau kelasku. Dengan ehem, titel SBI (bukan sekolah bertaraf internasional, tapi sekolah bertarif internasional), dan sertifikat ISO yang telah dipegang mantap, Air Conditioner pun kami nyalakan. Oke, AC untuk sekolah negeri di Bandung itu hal yang jarang.

Kegiatan kami pagi itu adalah menyelesaikan sisa-sisa PR yang belum terkerjakan, dan memang belum dikerjakan. “Apalah arti sebuah PR? Yang penting ini nih!” kata salah satu temanku sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. Kejar mengejar mencari jawaban sudah biasa. Interkom yang mengumandangkan firman-Nya pun tak digubris.

Jika sudah begitu, jajaran atas sekolah akan datang. CCTV yang masih belum diselimuti debu itu menunjukkan taringnya. Dan setelah itu, kami tetap tak peduli omongan siapapun itu.

Dilanjutkan dengan pola seperti ini: tiap hari, min. ada 2 jam pelajaran kosong. Ada tugas pun kami tak peduli. Yang penting kami ada waktu rehat sejenak.

Giliran infocus yang kami manfaatkan. Dengan laptop dan speaker pinjaman kelas sebelah, kami menonton film ramai-ramai. Tak lupa, karpet pun digelar panjang, buat tidur-tiduran sambil berdecak-decak kagum melihat dvd bajakan yang stoknya ada terus.

Jika bel yang suaranya mirip theme song Barney’s bergaung di seantero sekolah, berarti istirahat tiba. Berbondong-bondonglah ke kantin, dan karpet tadi langsung kami gunakan untuk sholat berjamaah.

Tak lupa, jika jam kosongnya maraton, temanku yang ngekos balik ke kosannya dan mengambil stick PS untuk bermain PES2010 di laptop. Atau kartu remi untuk main sulap-sulapan dan black jack, di mana yang kalah harus membuka satu persatu bajunya hingga-.

Kadang titel SBI hanya sekedar titel. Di mana orang-orang yang studi banding melihat kami seperti ikan dalam akuarium. Terlihat wah, tapi di dalamnya? Jangan tanya. Aku sendiri enggan menjawabnya.

Kesimpulannya? Kami serupa “Ketika Cinta Bertasbih” yang menyimpang, menjadi “Ketika Tasbih Bercinta”. Justru meninggalkan kesan luar biasa di sela-selanya.

Senyum penuh, tampak gigi gingsul, dan wajah merah merona, kami katakan: inilah masa remaja yang akan kami kenang nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s