Twitter dan Kabinet Baru

Sabtu pagi ini tak habis-habisnya membuatku mengucapkan kalimat syukur berulang kali pada-Nya. Indah, cerah, santai, dan kesempatan masih hidup. Apalagi yang bisa lebih dari itu?


Kesempatan akhirnya datang juga. Si Komputer Jinjing sedang tak dijajah oleh sulung keluargaku. Biasanya, dengan alasan meleber ke mana-mana, dia melotot mantengin Si Kojing buat melihat live feed facebooknya yang nambah tiap detik berjam-jam, sore hingg
a malam, pagi hingga siang.

Aah, betapa tak terhingga nikmat yang kurasa, kalau begitu.

Kugelontorkan susu fullcream terakhir ke rongga kerongkonganku. Kemudian melihat notes bulukanku, tempat menulis tugas, jadwal, hingga draft-draft ide liar yang terlontar entah di tengah perjalanan pulang sekolah, di tengah jam pelajaran, hingga saat-saat tak terduga.

Lima jendela yang wajib kubuka: Google Chrome, Ms. Word, Ms. Power Point, Winamp dan

Tweet Deck; siap menemaniku mengerjakan tugas tanda sayang dari Pak Guru dan Bu Guru di sekolah.


Turut, turut. Begitu bunyinya Tweet Deck saat ada yang twit yang muncul di timelineku. Dan tebak siapa, ternyata ada twit dari Pak Tifatul Sembiring! Seperti biasa, pantun mengalir di selap-selip twitnya.

Meletup-letuplah pikiran saya. Andai, semua menteri punya Twitter, apakah aspirasi kita pada para pemangku kekuasaan lebih mudah tercapai? Entahlah. Tapi, yang jelas, microblog makin menyempitkan jarak antara kita semua, termasuk saya dan anda, atau anda dan teman anda, atau saya dan teman saya.

Melayanglah pikiran saya, seperti balon komik, andai saja Pak M. Nuh punya Twitter juga. Banyak yang ingin kukatakan pada beliau. Remeh temeh yang bisa jadi besar juga.

Maklum, saya selalu ingin protes bagaimana pendidikan yang saya terima di sekolah tak sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana semua anak dididik korupsi sejak dini, kalau boso Jowonya nracak (mata lirak lirik, contek menyontek saat ujian). Bagaimana inflasi pendidikan bisa sampai 20%/tahun. Bagaimana tak seimbangnya harga yang dikeluarkan dengan pelayanan yang diterima.

Belum soal klasik: sekolah roboh, buku mahal, dan lainnya.

Pak Nuh pasti lebih tahu. Selamat bertugas untuk semua menteri baru. Semoga mimpi Indonesia Lebih Baik mampu diwujudkan melalui tangan terampil anda. Saya titip kepercayaan.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s