Terjebak

Hari ini, saya dan kakak saya, agaknya punya sedikit waktu luang untuk melepas penat. Dan kebetulan, kakak saya punya voucher tiket gratis untuk nonton film di jaringan bioskop 21. Karena masa berlakunya sebentar lagi habis, saya dan kakak saya berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Begitu browsing ke www.21cineplex.com uh, saya kaget. Padahal saya harap Valkryie (bener ga nulisnya?) sudah muncul di Empire. Tapi apa boleh buat, dan apa mau dikata, demi memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut, pilihan jatuh pada Asmara Dua Diana.


Dan, sumpah saya kecewa. Saya menyesal telah memaksa untuk memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut. Kenapa?

Satu, film ini tidak cocok untuk umur saya (secara hukum, saya berumur 17 tahun baru nanti Desember). Tapi umur tidak selalu menjadi patokan kan? Nah, setidaknya saya masih bisa memilah milah dan mengerti, apakah film ini cocok untuk saya.

Dua, terlalu vulgar. Mungkin amanatnya mulia, “Tidak berselingkuh.” Tapi, hal ini disampaikan terlalu vulgar, dan menyeret film ini ke dalam jenis komedi seks yang sedang nge-trend.

Tiga, film ini dibuat seolah-olah menunjukkan kekonyolan seorang Asmara. Tapi, buat saya ini tidak lucu. Dilebih-lebihkan, dan dipaksa. Jadi, kadang-kadang saya cuma bisa ketawa garing hahaha datar, karena dalam pikiran saya berkecamuk “Apa sih yang lucu? Kenapa hal kaya gini aja dianggap lucu?” dsb.

Dan akhirnya saya baru menyadari. Indonesia tengah dilanda fenomena komedi seks (dan pembuat film menyamarkannya sebagai sex education. hey, sex education itu cukup dengan pelajaran biologi di sekolah tau!). Parahnya, si komedi ini tidak dilengkapi filter yang cukup, sehingga anak-anak di bawah umur seperti saya bisa masuk dengan SANGAT mudah. Dan mungkin ini berujung pada meningkatnya kejahatan seksual.

Buat saya sendiri, wacana “Dunia Perfilman Indonesia Semakin Maju” itu cuma sebatas wacana saja. Kenyataannya? Mengalami kemunduran yang signifikan. Tahun kemarin cukup bagus dengan adanya Laskar Pelangi. Tak bisakah sutradara negeri kita berpikir secerdas Riri Riza dan Mira Lesmana? Film mereka bagus, punya amanat kuat yang tersampaikan, dan menonjolkan ciri khas Indonesia. Bahkan, film ini juga berhasil dibawa ke berbagai ajang festival internasional, seperti di Berlin, dan banyak lagi.

Jika ingin menyampaikan tema sex education, angkatlah suatu cerita yang tak terjerumus ke dalam komedi seks. Contohnya, film Pertaruhan. Saya sebenarnya, belum pernah nonton film ini, karena katanya benar-benar untuk dewasa (memangnya Asmara Dua Diana bukan dewasa, ya? Hehe). Tapi, kalau saya baca beberapa review tentang film ini, sepertinya cukup memberikan gambaran bahwa walau bertema tentang seks, tapi film ini tidak terjerumus untuk menjadikan seks sebagai komoditas utama pada filmnya. Tapi, (sekali lagi menurut review yang saya baca) lebih condong ke arah pengorekan kebudayaan.

Jadi, buat para produser dan sutradara Indonesia, kalau mau bikin film, buatlah film yang benar benar akan berguna dan memiliki nilai lebih. Jangan film yang semata-mata membangkitkan gairah dengan menampilkan artis yang katanya papan atas tapi rela mengumbar tubuhnya dalam suatu adegan film. Kenyataan sudah membuktikan kan, kalau suatu film dianggap bagus dan mendidik, orang-orang akan berduyun-duyun menontonnya, dan keuntungan yang direguk pun tak akan sedikit. Ini feedback buat para pembuat filmnya. Makanya, film-film Indonesia jangan dibajak ya. Tapi kalo film luar silakan saja 🙂

Makanya, sekarang saya lebih suka untuk tidak menonton film Indonesia kalau tidak benar-benar bagus. Lebih baik nonton film luar saja.

Advertisements

7 thoughts on “Terjebak

  1. titan, u are absolutely right.film bertema komedi seks dll itu parah banget lah.sangat enggak banget.apalagi film namaku dick.udahmah ceritanya gitu, posternya juga hasil sontekan.mendingan nonton spongebob.😀—mai

    Like

  2. huehehe liat iklan aja udah sama sekali gak tertarik utk melihatnya lebih jauh, kalo bole ngomong kasar ehm maap-sampah bangettt-sakit jiwa:plain kali lebih hati-hati lagi tu kalo mo pilih2 tontonan:)

    Like

  3. iyaa.hhe.eh titan suka nonton indosiar ga?sinetronnya parah pisan lah.semuanya ceritanya kaya gitu.hha.😀film kaya laskar pelangi apa lagi ya?—mai

    Like

  4. @mai@noortitanMh.. bicara soal perfilman indonesia bikin saya ngelus leher sampe dada. saking parahnya, film-film keluaran indosiar [maaf vulgar] udah jadi bahan ejekan tetap buat saya dan kakak saya. jangankan ngerti isi filmnya atau dapet hikmahnya. “logis” pun nggak bisa mereka beri.peran antagonis pasti orang kaya, kejam banget, matanya melotot, dan bibirnya sering dikulum dan diputer-puter.peran protagonis pasti yang miskin, sangat suci, suka nangis, ngomongnya pelan, dan bajunya jeleek.isinya pasti rebutan duit, cinta, jabatan.ah.. gak bertanggung jawab secara moril nih! parah!pembokat saya sering bilang sama saya kalo orang2 di kampungnya tiap hari CUMA suka sama pelm begonoan. akibatnya, (yang sy tangkep dari cerita dia), bahwa orang2 di kampungnya bersifat antagonis krn pengen sama spt ‘orang kota’ yang diperankan film2 sinetron itu.sepertinya proses cuci otak dan penjajahan sudah benar-benar dimulai.ada yang punya ide bagaimana nge-BOIKOT keberadaan film yang ancur itu?BOIKOT! BOIKOT! BOIKOT!oia, tan, saya ikutan lomba. mohon dikomentar yah ni artikel. tengs.http://nengratna.blogspot.com/2009/03/benci-pada-cermin-atta-hi-paramo-piyo.htmlbtw, i miss u friend!!

    Like

  5. @ all.yep. proses cuci otak dan me-reset budaya. secara tak sadar ataupun disadari tapi tanpa tindakan berarti, kalau masih kaya gini terus= say goodbye to indonesian’s culture yg udah di-reset ulang.buat yang suka mending kurangin rasa sukanya. lakukan hal lain yg lebih bermanfaat.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s