lebih berasa, berasa lebih

suka suntuk lihat iklan partai dan calon legislatif di jalan, bahkan ada yang tidak beradab dengan menempelkannya di dinding atau pagar rumah? kalau begitu kita sama. ada yang bilang iklan-iklan itu menambah semarak, tapi buat saya, lebih banyak mengotorinya. dan buang-buang kertas, tentu.

dalam menyambut hajatan pesta demokrasi tahun ini, masyarakat hanya bisa tersenyum pahit. 5 tahun sekali hajatan ini berlangsung, tapi tidak banyak merubah nasib. apakah ini bisa disebut pemubaziran? mungkin iya, soalnya, apbn tahun ini cukup membengkak gara-gara hajatan ini. tapi apbn membengkak sendiri belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pembelanjaan tiap calon (legislatif atau presiden) untuk mencitrakan dirinya di mata masyarakat (baca: iklan berlebih). effendi ghazali, pakar komunikasi di negeri kita, pernah menulis di kompas –dan kebetulan saya membacanya padahal saya jarang-jarang baca lembar opini yang berat bahasanya itu, haha– bahwa masyarakat sudah berada di titik jenuh dengan iklan-iklan politik semacam itu. dan memang dia benar, setidaknya saya, sudah jenuh. apa tidak ada cara lain untuk mencitrakan diri?

well, buat saya sendiri, citra diri itu tidak bisa dibuat dengan instan. dan calon-calon ini, terutama calon legislatif, kebanyakan seperti itu. mereka menempelkan poster mereka di mana-mana, dengan foto senyuman yang lebar, untuk pria menggunakan peci (untuk menekankan kesan agamis), untuk wanita menggunakan jilbab (dan dengan rambut yang masih terlihat. errr, inginnya agamis tapi malah menyalahi dan ’maksa’), dan tidak lupa jargon-jargon mereka: ”jangan lupa contreng nomor sekian”. apa itu cukup untuk membuat citra diri yang kuat bahwa mereka pantas terpilih untuk menduduki kursi wakil rakyat? padahal, kita, rakyatnya sendiri, tidak tahu apa-apa mengenai diri mereka, selain senyum mereka yang lebar. apakah pantas kita menempatkan mereka sebagai wakil dari kita sedangkan kita tidak tahu apa-apa mengenai mereka? dan pantaslah semua itu terjadi, ketika tiba-tiba para wakil rakyat tersebut tertangkap menggelembungkan anggaran, menyuap, dan perbuatan lainnya yang, maaf, menjijikkan.

lain halnya dengan para calon presiden. mungkin mereka sudah mulai mencitrakan diri mereka bertahun-tahun sebelumnya, membuat brand mereka. jika mereka ingin maju sebagai calon legislatif saya kira itu cukup, tapi mereka maju sebagai presiden. dan citra mereka sudah seharusnya tidak hanya terbentuk di kancah daerah, tapi juga secara nasional.

dan segalanya jangan hanya menjadi sekedar ‘citra’, tapi juga kenyataan. jangan sampai segala keagamisan, keramahan, dan lain-lain itu hanya bertahan saat pencalonan. saat sudah terpilih, terbuai dengan segala yang didapatkan, dan melupakan motivasi murni saat mencalonkan diri: berbuat demi kepentingan rakyat.

selain citra instan, yang pernah saya dengar adalah politik instan. sama, tapi berbeda. citra itu lebih di permukaan, sekadar menempelkan imej, sedangkan politik termasuk lebih mendalam, di mana mencakup kekuatan untuk mempengaruhi orang lain, dan mendapatkan dukungan dari orang banyak. dan politik instan ini seolah-olah menjadi semacam trend di negeri ini. yang paling jelas mungkin adalah banyaknya artis yang banting setir (atau cuma sekadar untuk main-main?) menjadi bagian dari suatu partai politik lalu secara cepat posisinya naik dalam partai dan tepat sebelum pemilu menjadi calon legislatif. luar biasa. semudah itukah? dan didukung oleh partai yang berasumsi bahwa negeri ini adalah ’negeri mimpi’, di mana (menurut asumsi mereka) negeri ini cenderung terpukau oleh segala sesuatu yang ’berkilauan’ tanpa memedulikan logika dan akal sehat mereka. jadilah para artis ini menang dalam beberapa pilkada dengan memanfaatkan imej mereka yang bak pangeran dan putri negeri dongeng di layar kaca, padahal mereka bahkan tak tahu apa-apa mengenai negeri ini.

inikah yang kita harapkan pada negeri ini? terjebak ketidakberkualitasan para wakil masyarakat dan pemerintah karena politik dan citra yang kedua-duanya instan?

yah, saya dan mungkin kamu juga hanya bisa berharap kondisi ini berubah, karena saya pun tak punya ide untuk menyelesaikan permasalahan ini. atau mungkin karena daya pikir saya yang tak dapat menggapainya, karena saya masih berumur belasan tahun, karena saya masih sma, karena baju putih abu masih melekat di badan saya.

setidaknya, masyarakat indonesia juga tidak bodoh, tidak mau terus-terusan ditipu dengan politik dan citra instan tersebut. masyarakat indonesia juga bisa memilih dan memilah mana pemimpin yang kredibel dan benar-benar cocok dan pantas duduk di kursi sebagai wakil dari kita semua. semoga.

yang jelas, saya sudah muak dengan atribut partai di mana-mana, poster calon legislatif di setiap sudut jalan yang menebarkan aroma kebohongan, dan banyak lagi. jangan kira para calon itu merasa masyarakat akan memilih mereka. saya cuma berharap hajatan demokrasi lima tahunan ini cepat selesai, karena saya tahu ini mubazir, toh biaya sekolah saya tidak akan menjadi gratis, yang ada hanya merangkak naik. terkadang saya benar-benar pesimis keadaan negeri ini dapat berubah. tapi saya masih percaya saya dapat berusaha menjadi bagian perubah nasib.

“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum tersebut yang merubah keadaannya sendiri.” Q.S. Ar-Ra’du: 11

lebih berasa? berasa lebih. ini baru namanya hidup, dengan segala gonjang-ganjingnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s