surat buat menteri pendidikan

sebelumnya, maaf sekali kalau postingan sebelumnya kurang mengena di hati, atau terkesan mubazir (padahal saya mengampanyekan anti-pemubaziran global), karena mungkin dalam keadaan depresi seperti kemarin, hanya satu yang kamu butuhkan: tempat yang bersedia menampung semua keluh kesahmu, dan aku percaya mungkin inilah tempat yang tepat. hehehe. tapi sekarang? oh, welcome liburan! yayaya, walaupun saya masih harus menunggu vonis hari jumat nanti, bagaimana rapot saya, tapi setidaknya saat ini, saya sudah bisa relax. yehaaaa!

tahukah kamu, jika kamu merasa relax, kamu akan lebih mudah menangkap sinyal lingkungan. hal ini membuatmu lebih kritis, lebih tanggap. kali ini saya benar-benar merasakannya! saat dirimu depresi, dirimu cenderung menolak apa yang terjadi di sekitarmu, dan ini membuat dirimu kurang tanggap. tapi, lihatlah kini: kamu merasa lebih optimis, kritis, tanggap, saat dirimu merasa nyaman dengan jiwamu (hei, saat saya merasa depresi saya sering merasa tidak nyaman dengan jiwa saya sendiri! kamu?). kedamaian menyelimutimu, dan dunia tampak lebih terang! waw, efek yang hebat ketika kamu sudah bisa ‘berdamai’ dengan jiwamu!

yah, ini juga terjadi karena saya sudah selesai ulum (oya, saya memang merasa penting untuk meggaris bawahi sudah selesai ulum, karena itu yang membuat kejiwaan saya membaik). entah kenapa, ulum, dengan segala kuasanya, selalu membuat saya sebal setengah mati. dengan adanya ulum, seolah-olah hanya hasil akhir yang menentukan, padahal proseslah yang lebih memegang andil. inilah yang membuat banyak orang yang menghalalkan segala caranya demi hasil akhir yang luar biasa. perlu dicatat lagi, dengan teknologi yang semakin canggih, menghalalkan segala cara dibuat lebih mudah lagi. jika kamu bekerja sama lewat sms, dengan saling menanyakan dan memberikan jawaban, kamu tidak bisa menghilangkan bukti, cenderung kurang praktis, dan mahal. kini, kamu tinggal mengunduh aplikasi y!m untuk handphonemu dan taraaa! tanyakanlah jawabannya pada temanmu lewat y!m. lebih murah, praktis, dan jika pengawas mendekat, tinggal close aplikasinya dan tak akan ada bukti tersisa. mudah, bukan?

inilah yang membentuk generasi bangsa kita bermental korup.

sudah berapa orang sih yang digiring masuk bui karena tuduhan korupsi? banyak sekali. dan saya yakin masih banyak yang akan menyusul ke sana. beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 9 desember kita baru memeringati hari anti-korupsi sedunia, and guess what? semua orang menggembar-gemborkannya –yang seperti biasa, semangat itu hanya bertahan seminggu, dan minggu depannya sudah terlupakan, memang tabiat masyarakat kita seperti itu. luar biasa antusiasme masyarakat indonesia sungguh, saat saya melihatnya di televisi, koran, atau media apapun. pemerintah pun bersikap luar biasa, berbangga hati karena indeks korupsi di indonesia meningkat –padahal itu masih di peringkat-peringkat terbawah (oya, dan para pejabat pemerintah itu mengatakan, ”kemajuan yang pesat!” dengan senyum yang memuakkan), lalu mereka mencanangkan gerakan ini-itu, dan untuk para calon pejabat yang akan bertarung tahun 2009 nanti mencanangkan janji ini-itu.

lupakah mereka pada indikator utama bahwa tingkat korupsi yang berkurang adalah kesejahteraan rakyat yang meningkat?

lalu apa korelasinya dengan pendidikan kita?

saya lebih kaget lagi melihat berita di televisi, anak-anak seumur saya berdemo di sekolahnya, menuntut pihak sekolah yang mereka perkirakan melakukan tindak pidana korupsi. luar biasa! mau jadi apa negeri ini di masa depan, jika lembaga pendidikan saja sudah ternoda dengan korupsi?

masih segar di ingatan saya, awal tahun 2005, saat saya kelas 6 sd seseorang menunggu saya di ruang kepala sekolah. tahun sebelumnya, saya pernah mengikuti suatu lomba akademis hingga ke tingkat nasional sebagai wakil provinsi. waktu itu saya masih kecil, dan belum bisa berpkir dewasa. jadi, saat melihat orang yang menunggu saya di ruang kepala sekolah, saya bingung. dan yang membuat saya lebih bingung lagi, saat saya disodori beberapa kertas oleh orang tersebut, dan mulai ditanya-tanya. saya melihat judul kertas tersebut, kurang lebih ”daftar penerima sepatu”, dengan kop surat disdik. lalu di halaman berikutnya ”daftar penerima baju”, ”daftar penerima tas”, ”daftar penerima uang”, dll. di setiap halaman tersebut ada tabel, dengan nama saya dan teman-teman saya yang mewakili provinsi tersebut ke tingkat nasional, dan kolom tanda tangan penerima. seperti yang seharusnya dan sewajarnya (dan saat itu pun saya mulai sadar dan mengerti), jika kita menerima barang/uang dari suatu instansi, hampir dipastikan kita harus menandatangani kertas bukti bahwa kita menerima barang/uang tersebut. yang sangat mengagetkan, saya tak pernah mendapatkan sepatu, baju, tas, uang, atau apapun seperti yang telah disebutkan di kertas-kertas tersebut. dan yang lebih mengagetkan lagi, saya melihat, tanda tangan saya dipalsukan di situ. orang itu pun bertanya-tanya.
o: dik, apa adik mendapatkan barang-barang yang disebutkan di kertas ini?
s: tidak, sama sekali.
o: dik, apa adik yang menandatangani kolom ini? (sambil menunjuk kertas tersebut)
s: tidak. (sambil melihat kertas tersebut, dan kaget, tanda tangan saya dipalsukan. dan si pemalsu pasti amatir. dia hanya membuat versi huruf sambung dari nama saya sebagai tanda tangan di kolom tersebut. apa dia kira semua anak sd punya tanda tangan versi huruf sambung dari nama anak tersebut? tidak! dan saya salah satunya, sampai sekarang tanda tangan saya tidak berubah)
dan segera saya mengerti, saya baru saja menjadi korban manipulasi, korupsi, penggelembungan anggaran, atau apapun itu namanya. bagaimana tidak? nama saya di kertas itu disebutkan telah menerima barang-barang yang memang seharusnya saya terima sebagai wakil provinsi, tapi pada kenyataannya saya tidak menerima barang-barang tersebut, dan tanda tangan saya dipalsukan. sungguh, ini membuat saya cukup shock pada umur itu.
o: terima kasih banyak atas informasinya dik. sesegera mungkin saya akan kembali menyampaikan perkembangan dari penyelidikan ini. sudah sepantasnya adik menerima barang-barang ini. saya harap secepatnya selesai. sekali lagi terima kasih.
dan orang itu pergi, keluar dari ruang kepala sekolah setelah sempat bercakap-cakap sebentar dengan kepala sekolahku. luar biasa rasanya membayangkan sebuah kasus korupsi –atau apapun itu namanya- berada di dekatmu, dan bersangkutan langsung dengan dirimu langsung. tapi sayang, orang itu, ataupun penggantinya, tak pernah kembali untuk memberikan kabar, hingga saya lulus sd, dan melanjutkan pendidikan di tingkat smp.

luar biasa!

saat smp, sekali lagi saya dengan beruntungnya dapat menjadi wakil sekolah dan menjadi juara di tingkat kota. dan di pidato penutupannya, seorang pejabat pemerintah berkata, ”terimalah hadiah yang tak seberapa ini”. dan kamu tahu? yang pejabat pemerintah katakan itu benar. hadiahnya benar-benar ’tak seberapa’! jam weker, tanpa trophy, bahkan tanpa piagam penghargaan. padahal piagam penghargaan dapat membantu para siswa pemenang lomba untuk mempermudah mereka masuk ke jenjang pendidikan berikutnya melalui jalur prestasi. jam weker? lumayan lah. saya harus bersyukur. padahal yang menjadi pedoman pemerintah setiap mereka punya kesempatan berpidato di tempat umum adalah: ”berikan hadiah yang terbaik agar setiap orang yang mengikuti lomba dapat terpacu lebih baik lagi.” benar-benar luar biasa.

saya, yang mendapat pendidikan cukup baik, di daerah perkotaan, tidak dapat membayangkan bagaimana pendidikan teman-teman saya di pelosok penjuru negeri. saya, mungkin termasuk beruntung, tapi saya sendiri masih sering mengeluh terhadap kinerja pemerintah di bidang pendidikan terutama. saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan teman-teman lain, yang sekolahnya roboh, yang atapnya tak ada, yang bukunya rusak diterjang banjir, and so on.

belum lagi soal bhp. saya belum begitu ngeh soal ini sih. soalnya bhp ini terutama ditujukan untuk universitas. tapi saya dengar, bhp ini membuat terjadinya komersialisasi pendidikan. yang buat saya shock, hampir seluruh mahasiswa di indonesia, dari berbagai universitas, memprotesnya. melihat tayangan di televisi, sungguh, pasti bapak pendidikan kita, ki hajar dewantara, menangis di liang kuburnya. betapa pendidikan yang dia perjuangkan, kini hanya digunakan sebagai alat pengeruk uang.

pak, jangan menangis pak– saya janji akan melakukan yang terbaik untuk bapak–

dan saya tak tau bagaimana jadinya masa depanku nanti.

*sumber gambar: sdnbaktijaya01.wordpress.com/pahlawan-pendidikan, bayuadhitya.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s