Sendiri

Aku sudah makin mahir bekerja sendirian di laboratorium di kampus. Tinggal dua orang yang mengerjakan eksperimen basah di grup riset aku bernaung saat ini, sementara sisanya sibuk mengotak-atik data, dan algoritma rumit komputer yang mencari pola. Dua orang ini juga yang terpisah menjadi Tim A dan Tim B. Satu minggu aku masuk. Minggu depan giliran dia masuk. Begitu terus bergantian. Setidaknya aku tidak malu kalau aku memutar lagu alay di pengeras suara di laboratorium. Aku tidak perlu merasa harus memutar lagu Bahasa Inggris yang bisa dimengerti orang-orang.

Kemarin aku mendapat pesan pengingat dari orang di grup risetku, bahwa tidak seharusnya aku mencuri-curi waktu bertemu dengan orang lain dari tim yang berbeda. Minggu lalu aku sempat makan siang dengan temanku di grup riset yang sama. Harusnya kami tidak melakukan hal ini, iya aku tahu.

Aku sudah makin mahir di apartemen hidup sendirian. Alhasil barangku berantakan di mana-mana. Aku taruh panci sekenanya di dapur. Aku iseng cuci baju manual tanpa mesin, kujemur sekenanya di apartemen. Aku iseng tiduran di atas karpet yang harusnya ku-vacuum dulu.

Saat yang bersamaan, aku tak ingin terlihat seperti haus sekali dengan interaksi tatap muka. Bos di grup riset menawarkan alternatif untuk pindah ke apartemen lain dan berbagi dengan rekan satu grup riset. Aku menolaknya dengan halus. Aku malas pindah, dan aku tidak ingin melihat wajah-wajah yang setiap saat mengingatkanku bahwa harusnya aku kerja lebih produktif.

Aku jadi melakukan hal yang aneh belakangan ini. Ada beberapa hal, sebenarnya.

  1. Aku tidak pernah menyukai soda. Rasanya menggigit dan membuatku tidak bisa menenggak minuman cepat-cepat. Tetapi kemarin aku memutuskan membeli satu krat air soda rasa semangka. Kudinginkan di lemari es. Ketika aku mengambil satu kaleng, aku memasukkan satu kaleng lain ke dalam lemari es untuk didinginkan.
  2. Petualanganku mencoba keripik belum usai. Semakin intens, malah. Ada 4 jenis keripik yang bungkusnya terbuka saat ini: Cheetos rasa jalapeno, Cape Cod rasa jalapeno, Chicago-style popccorn, dan snap peas kering.
  3. Aku punya rasa iri dan dengki yang berlebihan setiap melihat temanku yang bisa bebas bertemu satu sama lain, di tempat lain yang kondisi penanganan pandeminya lebih baik/ jauh lebih buruk. Aku bahkan tidak berani mengusulkan untuk bertemu beberapa temanku di sini karena… mereka pasti tidak mau. Dan aku tidak suka merencanakan pertemuan.
  4. Aku jadi mudah kesal… dengan antrean test PCR kampus. Padahal sebenarnya menunggu selama 1-2 jam tidak masalah. Toh ini bisa dijadikan alasan kalau kerjaan tidak beres, “Salah sendiri antreannya panjang seperti itu…”

Mungkin kondisi psikologisku tanpa kusadari jadi berbeda, karena kondisinya seperti ini.

Berikut ini daftar 20 interaksi terakhir yang kulakukan dengan orang lain.

  1. Telepon WhatsApp dengan teman (1)
  2. Telepon WhatsApp dengan teman (2)
  3. Zoom meeting dengan grup riset
  4. Zoom meeting dengan bos
  5. Telepon WhatsApp dengan keluarga
  6. Telepon WhatsApp dengan teman (1)
  7. Basa-basi dengan petugas yang mengambil sampel tes PCR
  8. Zoom webinar
  9. Telepon WhatsApp dengan teman (1)
  10. Telepon ponsel dengan teman selama 3 jam (3)
  11. Zoom meeting dengan grup riset
  12. Berpapasan dengan kolega di kampus, katanya, “Terima kasih sudah berbagi kue yang kamu buat sendiri!”
  13. Telepon WhatsApp dengan teman (1)
  14. Basa-basi dengan petugas yang mengambil sampel tes PCR (lagi)
  15. Zoom meeting dengan calon kolaborator
  16. Telepon WhatsApp dengan keluarga
  17. Telepon WhatsApp dengan teman (1)
  18. Zoom meeting untuk proyek sampingan
  19. Berbicara dengan Google Assistant soal peruntungan astrologi
  20. Telepon WhatsApp dengan beberapa teman (4, 5, 6)
Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Di hari biasa, setahun yang lalu, polanya lebih mirip seperti ini:

  1. Telepon WhatsApp dengan teman
  2. Telepon WhatsApp dengan keluarga
  3. Meeting dengan grup riset (terima kasih kolega yang membawa roti buatan mereka sendiri, dan oleh-oleh dari Singapura)
  4. Meeting dengan kolega di grup riset
  5. Meeting dengan kolega (lain) di grup riset sambil makan siang
  6. Menyapa teman di koridor
  7. Telepon WhatsApp dengan teman
  8. Telepon WhatsApp dengan keluarga
  9. Google Hangout dengan teman
  10. Makan malam bersama teman di apartemen mereka
  11. Basa-basi dengan teman satu apartemen
  12. Telepon WhatsApp dengan teman
  13. Telepon WhatsApp dengan teman (lainnya)
  14. Basa-basi dengan kasir di toko favorit
  15. Telepon WhatsApp dengan keluarga
  16. WebEx dengan calon pemberi dana
  17. Meeting dengan kolega di grup riset (lagi)
  18. Mengobrol di pantry dengan mahasiswa dari grup riset lain
  19. Mampir ke kantor admin grup riset, mengobrol dan minta tolong soal paket yang belum juga sampai
  20. Minta tolong ke kolega di kubikel sebelah untuk debugging

Dipikir-pikir, kalau begini ceritanya, tentu saja wajar kenapa aku sampai membeli satu krat soda.

The Pandemic

No one is prepared to face the situation that we are facing right now. The last pandemic with similar size and impact was a century ago, the 1918 flu, and almost all the living generations right now have not faced anything like this before. That does not mean that the government will fail in navigating this pandemic, they just need to trust the science. The virus, unlike human, has no negotiation power. If the government does A, it will certainly lead to B. If the government does X, it will certainly lead to Y. The playbook is clear, yet I still see the signs that our government is failing.

I understand, just like any other policies, implementation is the hardest. Controlling human behavior is tough. Expecting people to understand the reason why the government does a certain thing is a stretch. But, what if the government itself fails to execute the policy needed during such a difficult time?

Continue reading “The Pandemic”

Cerpen: Tak Pernah Puas

Alkisah, ada seorang laki-laki yang pernikahannya tak kekurangan suatu apapun, karirnya berjalan dengan baik, dengan istri yang juga bekerja, sehingga mereka bisa membangun rumah tanpa kredit sebelum krisis moneter dari uang yang ditabung. Perempuan yang dia nikahi sekitar belasan tahun sebelumnya adalah kembang desa yang sudah dia lihat sejak lama, karena perempuan itu tinggal di dusun sebelah yang tak jauh dari dusunnya. Sawah keluarga laki-laki ini bertempat di jalan menuju dusun sebelah, dan saat dia membantu ini-itu di sawah, sesekali dia bisa melihat perempuan itu bersepeda, dengan rambut keriting besar-besar yang ditiup angin. Ayah perempuan itu carik desa, rumahnya memiliki pagar beton tinggi, tidak seperti rumah kebanyakan di desanya yang tanpa pagar. Pekarangan rumah keluarga perempuan itu pun luas, dengan pendopo beratapkan joglo.

Continue reading “Cerpen: Tak Pernah Puas”

“Perempuan Kok Ngomongnya Tabu, Saru.”

Teman-temanku melabeliku dengan sebutan “mesum”, “ngeres”, meskipun yang sebenarnya kulakukan adalah menormalkan hal yang tabu, banyak di antaranya adalah hal yang seharusnya didiskusikan secara luas, misalnya mengapa aku percaya pembalut harusnya digratiskan, atau minimal tidak ditarik pajak. Pengetahuan awalku soal hal-hal saru datang dari rubrik dr Naek L Tobing, SpKJ di majalah wanita langganan ibuku. Kemarin aku membaca berita soal beliau yang meninggal karena COVID-19, yang bagiku adalah a big loss untuk dunia keharmonisan rumah tangga Indonesia. Mungkin sebelum akun Instagram Cermin Lelaki/ Cermin Dramatis muncul, di rubrik itulah pasutri Indonesia bisa berkonsultasi dan bertanya soal hal remeh-temeh (yang sebenarnya tidak remeh-temeh) mengenai kehidupan rumah tangga. Aku sempat heran karena di kelas 4 SD itu, aku dibiarkan membaca rubrik yang dikategorikan untuk orang dewasa, dan ibu mengetahuinya tapi mendiamkan aku. Tidak berkomentar sama sekali. Hal tersebut sekarang aku syukuri, karena konsep bahwa pernikahan bukan sesuatu yang happy ending dan living happily ever after, namun sesuatu yang requires continuous effort itu sudah tertanam sejak aku kecil, misalnya.

Surreal

Semalam aku mendapat pesan emergency dari kampus, yang mana isinya adalah himbauan untuk anak S1 segera pindah, keluar dari asrama kampus selambat-lambatnya hari Minggu ini, setelah sebelumnya mereka diharuskan pindah selambat-lambatnya hari Selasa minggu depan. Tidak tanggung-tanggung, kampus menawarkan penggantian biaya hingga $500 untuk mengganti tiket agar lebih cepat pergi.

Continue reading “Surreal”

Virtual(ly Everything)

Ada yang berubah sejak kemarin. Karena seharian kemarin karena tidak enak badan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur di rumah, dan hanya datang ke meeting secara virtual, alias online, atau daring.

Sebelumnya aku sudah terbiasa ikut rapat daring seperti ini, karena kebetulan advisorku seringkali berada di Singapura. Hanya saja rasanya aneh, ketika kemarin, secara tiba-tiba, kampusku memutuskan agar anak S1-nya tidak diperbolehkan kembali lagi setelah spring break yang harusnya berlangsung tanggal 23-27 Maret nanti. Semua mahasiswa S1 diharuskan untuk mengepak barang mereka, dan pulang ke tempat masing-masing.

Continue reading “Virtual(ly Everything)”

“The Dreaded Fourth-Year Slump”

“I waited until my Ph.D. committee had left the room to break down. I sank into a chair, head in hands, as my committee meeting form sat unsigned on the lectern. I had just failed my dissertation proposal defense—a poor start to my fourth year of grad school. My committee members had told me that my experiments were too small-scale, my ideas not deep enough. I realize now that they were pushing me because they believed in me. They told me as much. But in that moment, I could not hear anything positive. All I could hear was the voice in my head telling me that I’d failed.” -Katherine Still, taken from here.

Ada sesuatu yang dinamakan “fourth-year slump“, yang biasa terjadi pada mahasiswa S3 yang berada di tahun ke-4 mereka. Pada tahun ke-4 ini, mahasiswa S3 biasanya merasa, “The exit door is there, but why is it so hard to get there?

Suatu hari, aku membaca tulisan dari Katherine Still di atas. Lalu aku ketakutan sendiri.

Aku sendiri mengalaminya saat ini. Sekarang.

Continue reading ““The Dreaded Fourth-Year Slump””

The Urge of Following a Trend

It is undeniable, that there’s a pressure to follow what other people are currently doing, or following the trend. TikTok, for instance, is currently considered as trendy, and so many people are downloading the app and trying to dance a little bit, even though they claim, “I am not good at dancing.” Is it for the sake of being complimented and hearing people say, “No, you are pretty good! Look at how many people view your videos!”

No, I am currently not on the verge of downloading TikTok to my phone, and that doesn’t mean that I will not download it in the future.

Something that I’ve been tempted to try out is actually, the podcast trend.

Continue reading “The Urge of Following a Trend”