Tiga: Berapa Kali Tawaran Hingga Diterima?

Sudah dua minggu lewat sejak bulan purnama terakhir, ketika aku, yang sedang senang-senangnya punya teman yang punya lisensi sailing di Sungai Charles, ikut nebeng moonlight sailing, alias sailing malam-malam disinari cahaya bulan purnama. Berarti percakapan ini terjadi sekitar satu bulan 2 minggu yang lalu, ketika aku ikut nebeng moonlight sailing pertama kalinya. Terima kasih untuk M & J yang bersedia aku tebengi di 2 sesi sailing terakhir, sebelum libur panjang sailing dimulai karena musim dingin sudah di depan mata.

M, salah satu kenalanku di sebuah sesi coffee hour asrama yang berakhir dengan kiriman PDF via surel tentang perjalanan lengkapnya ke Danau Toba dan Yogyakarta ketika menjadi mahasiswa pertukaran di Singapura, serta kisah panjang mengenai diskriminasi yang dia terima di imigrasi UEA karena salah satu stempel paspornya berbahasa Ibrani, malam itu berjalan pulang dari sailing pavilion bersamaku. Sepedaku tidak kunaiki, karena aku berjalan pulang bersamanya. Karena aku harus mengikatkan tali sepatuku yang terlanjur terurai, aku meminta tolong M untuk memegangi sepedaku sejenak.

Ketika sudah beres, aku menarik sepedaku kembali, tetapi M berkata, “Sudah, aku saja yang membawanya.”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa kok.”

“Cuacanya dingin. Kamu tidak bawa sarung tangan ‘kan? Tak apa-apa, sini kubawa sepedanya.”

“Hei, tenang saja! Aku bisa bawa sepedaku sendiri, kok,” begitu komentarku. M akhirnya menyerah dan memberikan sepedanya padaku. Dia masih bertanya apakah aku tidak apa-apa, yang kujawab dengan  tegas, “Nggak apa-apa, kok. Aku bisa bawa sepedaku sendiri.”

“Maaf, bukan apa-apa. Kadang beberapa orang Indonesia mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang sebenarnya adalah ‘ya’,” begitu komentarnya. “Kadang aku tidak tahu, harus menunggu berapa ‘tidak’ sampai aku tahu bahwa itu benar-benar sebuah ‘tidak’ dan bukan ‘ya’ yang terselubung.”

Continue reading “Tiga: Berapa Kali Tawaran Hingga Diterima?”

Advertisements

Kronologi Kruk

Halo! Perkenalkan lagi, namaku Titan, dan aku lumayan (baca: sangat) ceroboh. Inilah kumpulan 24 jam terakhir dari kejadian sprained ankle yang kualami. Pesan bijak yang kupelajari selama 24 jam terakhir adalah berikut ini:

  1. Kamu boleh mengkhawatirkan temanmu, tapi kamu juga harus mengkhawatirkan dirimu sendiri (baca: hati-hati).
  2. Jangan pernah sungkan meminta bantuan temanmu. Jangan pernah. Apalagi kalau kamu tinggal sendiri. Mereka tak akan keberatan.
  3. Dikasihani itu agak menyakitkan. Maksudku, empati itu kan hal normal soal perihal manusia. Tetapi dikasihani terus menerus juga nggak terlalu menyenangkan.
  4. Tapi jangan sampai karena takut dikasihani, kamu ‘terlalu keras’ dengan diri sendiri. Yang kembali lagi ke poin awal nomor 1: kamu harus khawatirkan dirimu sendiri. Put your-(safety)-self first before anybody else.

Berikut ini kejadian sehari terakhir. Spesial untuk bapak, ibu di rumah, serta kakak dan adik: Tolong jangan khawatir. Ini rentetan kejadiannya, jangan minta aku menceritakan lagi. Terima kasih.

photo_2018-10-23_15-14-04
Untung aircast-nya warna hitam, jadi tidak begitu kelihatan.

Continue reading “Kronologi Kruk”

Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?

Manusia sering kali tidak tahu kapan harus memprioritaskan sesuatu. Pernyataan ini kuamini sekali lagi hari ini, karena bukannya belajar untuk ujian oral menjadi Ph.D. candidate, aku malah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sangat iseng.

Aku tiba-tiba teringat suatu percakapan, “Di Amerika Serikat, lebih banyak bayi dilahirkan di bulan November, karena 9 bulan sebelumnya, bulan Februari, adalah bulan Valentine, di mana orang-orang mengekspresikan kasih sayang mereka lebih terbuka.”

Benarkah begitu faktanya? Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Amitabh Chandra di Harvard University (datasetnya cukup jadul, dari tahun 1973-1999, so take it with a grain of salt), sepertinya kelahiran di bulan November itu tergolong standard. Faktanya, lebih banyak bayi yang lahir di bulan September (15 besar tanggal kelahiran dengan frekuensi tertinggi ada di bulan September, berdasarkan riset tersebut). Artinya, banyak bayi yang ‘dimulai’ di bulan Desember-Januari. Well, kalau dipikir-pikir, Desember-Januari adalah musim dingin dan juga musim liburan, so that makes a lot of sense!

Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah hubungan bulan baik/ kurang baik pernikahan dengan jumlah bayi yang dilahirkan dalam bulan tertentu? Spoiler, meskipun dataset-nya cukup kecil (aku hanya bisa menemukan data jumlah kelahiran penduduk DKI Jakarta tahun 2014 dan 2015), ada hal yang cukup menarik yang bisa disimak.

Enjoy my little (insignificant) exploration. Sebelumnya, disclaimerit’s just for fun. Don’t take it too seriously.

Continue reading “Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?”

Dua: Alternatif dari yang Satu

Siang ini, tiba-tiba aku teringat sebuah percakapan singkat soal prinsip salah satu temanku di sini yang boleh dibilang, anti-monopoli (ini adalah istilah yang tergolong eufemisme, mungkin, buat beberapa orang dari kalian). Setelah percakapan tersebut, kata-katanya masih terngiang-ngiang hingga saat ini. Sebagai seorang minoritas (secara agama), dia memang tumbuh berpikir kritis soal sekitarnya.

“Aku nggak setuju dengan monopoli,” begitu dia berkata sekonyong-konyong. Kami baru saja beres ikut potluck anak Indonesia. Dia membantu membawakan piring-piring dan sendok-garpu ke apartemenku.

“Monopoli? Di Amerika Serikat? Bukannya negara ini sangat kapitalis dan pasarnya bebas?” tanyaku sambil mencuci panci.

Dia tertawa kecil.

Continue reading “Dua: Alternatif dari yang Satu”

Kembali dari Rumah

Untuk ke-8 kalinya, aku pulang ke Indonesia. Ke rumah, dari Amerika Serikat. Kali ini, untuk pertama kalinya aku naik Emirates, setelah 2 kali sebelumnya naik Cathay Pacific, satu kali naik Air India + Silk Air, 2 kali naik Japan Airlines, 1 kali naik All Nippon Airways, dan 1 kali naik Qatar Airways. Sebuah kejutan, karena aku bahkan ingat naik apa saja selama 8 tahun terakhir (atau sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, jika memikirkan bagaimana di beberapa postingan sebelumnya, aku benar-benar terhipnotis oleh burung besi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya).

Meskipun aku sempat flu dan juga diare ketika pulang ke rumah selama beberapa minggu yang terasa sangat singkat itu, ketika aku berangkat, aku sangat bersyukur karena tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya yang disertai tangisan mengharu-biru dan rasa ditusuk-tusuk yang amat sangat ketika aku untuk terakhir kalinya melihat keluargaku di seberang jendela dari ruang check-in di Soekarno-Hatta.

Jika ada satu hal, yang membuatku lebih tenang dan tidak terlalu cengeng saat berangkat ke Amerika Serikat lagi, hal tersebut mungkin adalah bagaimana aku mulai sedikit berdamai dengan diriku sendiri.

Continue reading “Kembali dari Rumah”

Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat

Sebagai anak kemarin sore yang tiba-tiba diberi kartu kredit korporat untuk memudahkan perjalanan bisnis, aku kadang kegirangan sendiri. Sama dengan satu kredit lainnya yang kuterima untuk memudahkan pembelian barang-barang kebutuhan lab. Akuilah, membeli sesuatu, apalagi bukan dari kocekmu sendiri, meskipun itu hanya disposable pipette tips atau empat pak microscope glass slides, yang nggak bisa dimakan apalagi dikunyah, itu tetap menyenangkan. Sama dengan perjalanan bisnis. Mungkin karena aku belum sering-sering pergi, satu semester paling hanya dua-tiga kali. Kalau nanti sudah jadi konsultan yang kerjaannya terbang ke sana kemari tiap tiga hari sekali, setidaknya begitu kata temanku yang kerja sebagai konsultan di Washington, D.C., berada di tempat tinggal selama lebih dari 4 hari adalah sebuah kemewahan.

Anyway, perihal soal terbang wara-wiri ke sana kemari, sebagai manusia yang nggak mau rugi, aku sudah daftar sekian banyak Frequent Flyer program, berharap pada satu waktu aku akan terbang cukup sering/ cukup jauh untuk mendapat poin yang signifikan dan bisa ditukarkan dengan berbagai benefit, Wi-Fi gratis di atas awan, misalnya. Sedikit cerita soal Wi-Fi gratis: suatu waktu aku sangat girang karena sudah dapat poin yang cukup untuk menukarkan Wi-Fi gratis untuk perjalanan 15 jam dari Boston Logan ke Tokyo Narita. Hanya saja, entah mengapa, maskapai tersebut tidak memberikan kode penukaran atau apapun itu hingga hari ini. Musnah sudah impian menukarkan poin Frequent Flyer untuk suatu hal, apapun, yang konkret.

(Ketahuan sekali aku sudah lama tidak nulis. Topiknya ke mana-mana.)

Kembali ke topik awal: terbang. Bersama dengan kolega lain dari lab, aku biasanya mencoba mereservasi tiket dengan maskapai dan jam penerbangan yang sama dengan mereka, semata-mata untuk alasan convenience. Supaya di bandara tujuan, tidak saling tunggu-menunggu, dan bisa langsung ke tempat rental mobil dan setelahnya, ke tempat tujuan. Hanya saja, waktu reservasinya tak pernah pas, sehingga seringnya aku tak kebagian. Kemarin, akhirnya aku terbang di penerbangan yang sama dengan mereka. American Airlines, lebih tepatnya. Kolegaku yang satu ini punya strong belief, yang entah muncul dari mana, bahwa pelayanan American Airlines lebih baik dibandingkan Delta, apalagi United. Aku sendiri lebih senang JetBlue, lagi-lagi, karena alasan Wi-Fi gratis. Hehe.

Dia bilang, “Iya, entah kenapa aku selalu dapat boarding group 6. Nggak pernah lebih awal.”

Aku menilik boarding pass-ku. Sama-sama grup 6 juga. Meskipun aku tahu persis, aku baru booking tiketku seminggu yang lalu, dengan harga yang sudah agak mahal.

Lalu aku penasaran, atas dasar apakah maskapai penerbangan membagi grup-grup boarding ini? Seberapa efektif mereka? Seperti yang kita ketahui, sebagai orang yang selalu merutuk sendiri dalam hati karena orang yang duduk di depan butuh waktu lama menaruh barang-barang mereka di overhead compartment dan menahan antrean passenger yang duduk di belakang, kita tahu persis bahwa proses boarding ini jauh dari kata efektif.

Continue reading “Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat”