Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah

Konsep soal pembalut gratis terasa asing bagiku sebelumnya.

Sampai suatu hari, aku ke kampus sebelah (alias Harvard), yang secara endowment alias duit, lebih kaya makmur gemah ripah loh jinawi dibandingkan kampusku. Setiap bulan sekali mungkin aku ke sana, apalagi kalau bukan untuk kerjaan. Sebagai perbandingan, kalau high-resolution scanning electron microscope di MIT jumlahnya hanya satu, itu pun reservasinya sudah seperti reservasi tiket lebaran di KAI Access H-90, bangun tengah malam untuk booking, dan buka 3 browser yang berbeda. Sementara itu, alat yang sama di Harvard ada 3 buah, dan kadang kalau go show pun masih bisa. Intinya resources di Harvard melimpah.

Aku kaget sendiri ketika melihat vending machine di toilet mereka menyediakan pembalut dan tampon gratis; barang yang sama di kampusku dibanderol seharga $0.25 per buah. Mahal? Sebenarnya mungkin nggak, hanya saja, zaman sekarang, siapa yang bawa receh $0.25 ke mana-mana? Meskipun pembalut gratis yang mereka berikan kualitasnya pas-pasan, bukan tipe ekstra sayap, ekstra lebar, ekstra daya serap, tetapi tetap saja, ada itikad baik untuk menyediakan pembalut.

Lalu aku mulai bertanya, memang seberapa besar konsumsi pembalut di Indonesia?

Continue reading “Pembalut: Mengapa Harus Gratis, atau Setidaknya Bebas Pajak & Tersedia di WC Sekolah”

Autumn Equinox

Hari pertama musim gugur tahun ini jatuh di tanggal 23 September, dan berlangsung hingga 21 Desember, sebelum formally berubah jadi musim dingin. Musim gugur kali ini, selain pergi ke Vermont dan Long Island untuk urusan lab, rasanya nggak akan ke mana-mana lagi. Aku sempat kecewa dan mungkin sedikit tersinggung saat temanku mengajak road trip dari East Coast ke West Coast di minggu Thanksgiving. Kutawarkan untuk melakukannya di libur musim dingin saja, tetapi dia menolak. Sudah ada rencana, katanya. Aku sudah liburan 2 minggu di Indonesia, mana bisa menghilang lagi selama seminggu penuh, begitu kataku. Dia bilang nggak ada waktu lagi, tahun depan sudah lulus. Lalu aku diam saja, tak mengungkit soal hal itu lagi.

Sejak kemarin juga, aku rasanya marah melihat yang terjadi di sana-sini berkenaan lingkungan. Kemudian aku melihat diri sendiri, yang meskipun mencoba mendaur ulang, tetapi tetap malas composting karena setiap sekian hari harus dibuang dan diganti plastiknya. Atau aku yang memilih naik pesawat untuk ke Long Island, dan bukannya naik kereta yang emisi karbonnya lebih rendah. Atau aku yang tidak mematikan saklar dan membiarkan monitorku menyala meskipun CPU-nya mati. Kalau aku marah dengan orang yang membakar lahan di sana-sini, mengapa aku tidak marah dan merubah diri sendiri?

Hari Jumat kemarin, ketika protes terjadi di berbagai belahan dunia, aku lebih memilih untuk tidak ikut dan melakukan hal lain. Lalu aku teringat satu orang anggota labku dulu, yang kini sudah lulus dan menjadi seorang doktor, yang dalam hati aku sangat salut padanya. Beberapa tahun lalu, dia ikut demo, meminta kampus kami untuk berdivestasi dari bahan bakar fosil. Satu grup mahasiswa ini, duduk, ngampar di depan kantor petinggi kampus selama berbulan-bulan. Akhirnya kampus bersedia berbicara dan mencoba untuk divestasi dari bahan bakar fosil. Meskipun hingga hari ini, ya levelnya nggak signifikan-signifikan amat. Jangan jauh-jauh. 2 tahun terakhir pun, sepertinya gajiku dibayarkan oleh perusahaan minyak. Aku nggak bisa ngomong apa-apa, sebenarnya. Toh makan malam yang barusan aku habiskan itu duit minyak. Baju yang kukenakan pun sama. Komputer ini juga. Jadi seharusnya, aku nggak perlu banyak bacot, kan?

*

Semester ini, aku nggak minta banyak, Tuhan. Aku berharap semoga saat di Vermont nanti kebagian puncak fall foliage. Semoga keputusanku ambil dua kelas semester ini tidak berujung petaka. Semoga orang-orang yang masih terkungkung asap bisa segera bebas. Semoga aku dapat data polutan udara satu dekade terakhir untuk membandingkan masalah asap ini untuk proyek kelas. Semoga paperku beres. Semoga presentasiku lancar.

Kalau banyak itu lebih dari satu, aku sebenarnya sudah minta banyak, ya? Maaf.

Teori Sisi Manusia

Mengawali tahun ke-10 berada di Amerika Serikat, aku menilik diri sendiri hati-hati. Kalau misalkan ada lingkaran pertemanan orang Indonesia yang mengerti soal Cermin Lelaki, KKN Desa Penari, dan cerita-cerita ngepop lainnya, bagaimana cara menemukan mereka? Bukan tidak suka berdiskusi terlalu serius, atau ngobrol soal hal mendalam, tetapi koneksi lebih mudah dibangun dari kesamaan minat.

Setelah tahun kemarin, aku merasa bahwa aku membutuhkan lingkaran pertemanan orang Indonesia ini. Orang-orang yang tidak berkaitan dengan pekerjaanku, tetapi masih mengerti konteks pekerjaanku. Tak hanya itu, aku harus mencari cara cepat untuk mengakrabkan diri supaya kami bisa saling mendukung satu sama lain. Kebanyakan dari mereka hanya berada di sini 1-2 tahun, waktu yang cukup singkat.

Continue reading “Teori Sisi Manusia”

Filial Imprinting

Mobil Bapak adalah Kijang LGX yang dibeli awal 2000-an. Beliau sebelumnya juga memiliki Kijang yang dibeli bekas 2-3 tahun sebelumnya. Bapak adalah seorang firm believer bahwa mobil tidak perlu mahal-mahal, asal bisa jalan dengan baik sudah cukup. Sampai beliau pensiun sekarang pun, belasan tahun kemudian, Bapak masih setia dengan Kijang LGX-nya yang mudah sekali dibedakan di tempat parkir, karena warna spion kirinya berbeda dengan yang kanan. Mobil bukan investasi, tetapi sebaliknya. Persentase penyusutan tiap tahunnya tidak menjustifikasi kegiatan gonta-ganti mobil, katanya.

Konsekuensi dari mobil Kijang tua itu ya music player di mobil yang jauh dari CD, apalagi generasi terbaru dengan bluetooth atau yang bisa dicolok langsung ke audio jack ponsel pintar. Masih kaset. Hari ini mau cari kaset di mana, coba? Dulu masih sering, tapi itu pun tidak efektif. Suka 2-3 lagu pun harus beli seluruh albumnya, side A dan B dari kaset tersebut. Kecuali beli kaset kompilasi.

Continue reading “Filial Imprinting”

Menerima 80%

Tidak terasa sudah beres tahun ketiga S3 (berima, kan?). Ada satu hal penting yang aku pelajari sekitar dua bulan terakhir, berbekal pengalaman ditolak jurnal sana-sini, dan juga waktu yang tidak terasa cukup karena aku bukan amoeba yang bisa membelah diri dan mengerjakan beberapa hal secara paralel: menerima 80%, mencukupkannya, dan move on.

Manusia yang hobinya ingin serba sempurna pada suatu saat akan tiba di titik di mana dia tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri, secara sempurna. Ada yang namanya mendelegasikan pekerjaan, ada yang namanya menerima ketidaksempurnaan.

Continue reading “Menerima 80%”

Farewell

I always get a little nostalgic when it comes to the end of (academic) year. It is definitely really exciting to finish up classes and projects, as the day gets longer and warmer.

The past year has been hard, and I managed to pull it through. I know you don’t care about the little details of what I have gone through.

Thesis defenses, final project presentations, final exams, and graduations.

This year, I need to say goodbye to a very good friend of mine, who put up with me throughout the year, and comforted me whenever I needed it. The one who would save me a free boba from study break, put it in the fridge, and texted me, “I got you a free boba. Whenever you’re done on campus, feel free to drop by my room.” The one who would go to WholeFoods and buy me an extract black elderberry to improve my immunity system and make sure I take acetaminophen every 6 hours so my fever went down. The one who would accompany me when I was on bed rest, order a porridge delivery, buy me bananas (because that’s the only thing I could eat). The one who would spend at least 6 hours every week to go through machine learning problem sets with me and still say, “If you need help with your final project, let me know. I am sure you understand the math behind the algorithms, but I could lend you a hand on Python. It must be hard to take this class while relearning how to use Python.”

The one who would never think twice to say yes whenever I asked, “Do you wanna get dinner together outside? Or should we get a takeout and eat in my room?” although, the only thing I wanted was a company.

Congratulations on your graduation. It has been 7 years since I started MIT, and I always see people come and go. I have gone through farewell dinners countless times, and I never felt this bittersweet.

Continue reading “Farewell”

Kamar Kecil yang Sakral

Pernahkah kamu mengalami beberapa hal berturut-turut, yang membuatmu grogi dan nervous, dan saking nervous-nya, kamu lupa untuk ‘bernapas’? Ya, aku tahu, kamu pasti akan bilang, “Manusia mana mungkin lupa bernapas? Itu kan refleks. Ketika tenggelam saja, manusia mencari udara secara otomatis dan megap-megap. Ya kali manusia bisa lupa bernapas.”

Yang kumaksudkan dengan bernapas, bukan secara literal. ‘Lupa bernapas’ yang kumaksud adalah bagaimana seseorang dipenuhi dengan pikiran-pikiran soal, “Apa hal berikutnya? Setelah rapat satu ini, ada rapat apa lagi? Setelah tugas ini, ada tugas apa lagi? Ada presentasi apa lagi?” Sometimes, we are so overwhelmed by all the things around us, and ‘forget to breathe’. Karena kita begitu banyak pikiran, kita lupa, ada titik koma dalam hidup juga.

Bagi beberapa orang, meditasi dan ibadah adalah titik koma mereka. Bagiku, kamar kecil belakangan ini jadi titik komaku juga.

Continue reading “Kamar Kecil yang Sakral”