Filial Imprinting

Mobil Bapak adalah Kijang LGX yang dibeli awal 2000-an. Beliau sebelumnya juga memiliki Kijang yang dibeli bekas 2-3 tahun sebelumnya. Bapak adalah seorang firm believer bahwa mobil tidak perlu mahal-mahal, asal bisa jalan dengan baik sudah cukup. Sampai beliau pensiun sekarang pun, belasan tahun kemudian, Bapak masih setia dengan Kijang LGX-nya yang mudah sekali dibedakan di tempat parkir, karena warna spion kirinya berbeda dengan yang kanan. Mobil bukan investasi, tetapi sebaliknya. Persentase penyusutan tiap tahunnya tidak menjustifikasi kegiatan gonta-ganti mobil, katanya.

Konsekuensi dari mobil Kijang tua itu ya music player di mobil yang jauh dari CD, apalagi generasi terbaru dengan bluetooth atau yang bisa dicolok langsung ke audio jack ponsel pintar. Masih kaset. Hari ini mau cari kaset di mana, coba? Dulu masih sering, tapi itu pun tidak efektif. Suka 2-3 lagu pun harus beli seluruh albumnya, side A dan B dari kaset tersebut. Kecuali beli kaset kompilasi.

Continue reading “Filial Imprinting”

Advertisements

Menerima 80%

Tidak terasa sudah beres tahun ketiga S3 (berima, kan?). Ada satu hal penting yang aku pelajari sekitar dua bulan terakhir, berbekal pengalaman ditolak jurnal sana-sini, dan juga waktu yang tidak terasa cukup karena aku bukan amoeba yang bisa membelah diri dan mengerjakan beberapa hal secara paralel: menerima 80%, mencukupkannya, dan move on.

Manusia yang hobinya ingin serba sempurna pada suatu saat akan tiba di titik di mana dia tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri, secara sempurna. Ada yang namanya mendelegasikan pekerjaan, ada yang namanya menerima ketidaksempurnaan.

Continue reading “Menerima 80%”

Farewell

I always get a little nostalgic when it comes to the end of (academic) year. It is definitely really exciting to finish up classes and projects, as the day gets longer and warmer.

The past year has been hard, and I managed to pull it through. I know you don’t care about the little details of what I have gone through.

Thesis defenses, final project presentations, final exams, and graduations.

This year, I need to say goodbye to a very good friend of mine, who put up with me throughout the year, and comforted me whenever I needed it. The one who would save me a free boba from study break, put it in the fridge, and texted me, “I got you a free boba. Whenever you’re done on campus, feel free to drop by my room.” The one who would go to WholeFoods and buy me an extract black elderberry to improve my immunity system and make sure I take acetaminophen every 6 hours so my fever went down. The one who would accompany me when I was on bed rest, order a porridge delivery, buy me bananas (because that’s the only thing I could eat). The one who would spend at least 6 hours every week to go through machine learning problem sets with me and still say, “If you need help with your final project, let me know. I am sure you understand the math behind the algorithms, but I could lend you a hand on Python. It must be hard to take this class while relearning how to use Python.”

The one who would never think twice to say yes whenever I asked, “Do you wanna get dinner together outside? Or should we get a takeout and eat in my room?” although, the only thing I wanted was a company.

Congratulations on your graduation. It has been 7 years since I started MIT, and I always see people come and go. I have gone through farewell dinners countless times, and I never felt this bittersweet.

Continue reading “Farewell”

Kamar Kecil yang Sakral

Pernahkah kamu mengalami beberapa hal berturut-turut, yang membuatmu grogi dan nervous, dan saking nervous-nya, kamu lupa untuk ‘bernapas’? Ya, aku tahu, kamu pasti akan bilang, “Manusia mana mungkin lupa bernapas? Itu kan refleks. Ketika tenggelam saja, manusia mencari udara secara otomatis dan megap-megap. Ya kali manusia bisa lupa bernapas.”

Yang kumaksudkan dengan bernapas, bukan secara literal. ‘Lupa bernapas’ yang kumaksud adalah bagaimana seseorang dipenuhi dengan pikiran-pikiran soal, “Apa hal berikutnya? Setelah rapat satu ini, ada rapat apa lagi? Setelah tugas ini, ada tugas apa lagi? Ada presentasi apa lagi?” Sometimes, we are so overwhelmed by all the things around us, and ‘forget to breathe’. Karena kita begitu banyak pikiran, kita lupa, ada titik koma dalam hidup juga.

Bagi beberapa orang, meditasi dan ibadah adalah titik koma mereka. Bagiku, kamar kecil belakangan ini jadi titik komaku juga.

Continue reading “Kamar Kecil yang Sakral”

Rosa Parks

International woman’s day baru saja lewat, tepatnya hari Jumat tanggal 8 Maret 2019 kemarin. Di perjalanan bus ke Center for Nanoscale System yang penuh sesak pagi itu, dinding pembatas antara supir bus dan penumpang ditempeli sebuah stiker.

02/02/2019 Boston MA. -MBTA buses have stickers on them honoring Rosa Parks. Jonathan Wiggs/Globe StaffReporter:Topic:
Foto stiker diambil dari situs Boston Globe.

Rosa Parks, seorang wanita pejuang hak-hak sipil, sangat terkenal di Amerika Serikat. Jika teman-teman di Indonesia tidak familiar dengan beliau, Rosa Parks-lah wanita yang menolak memberikan tempat duduknya di “bagian kulit berwarna” untuk seorang penumpang kulit putih pada tanggal 1 Desember 1955 di Montgomery, Alabama. Segregasi rasial pada kala itu memang mengharuskan orang kulit berwarna pergi ke toilet, bus, ruangan yang berbeda dari orang kulit putih. Karena aksi dari Rosa Parks tersebut, masyarakat African-American terinspirasi untuk memboikot bus Montgomery selama lebih dari satu tahun dan membawa kasus tersebut ke pengadilan.

Rosa Parks sat in the front of a city bus in Montgomery, Ala., in 1956.

Rosa Parks, kemudian bekerja sama dengan Edgar Nixon dan juga Martin Luther King, Jr., untuk mengorganisir komunitas pejuang hak-hak sipil, hingga akhirnya Martin Luther King memenangkan Nobel Prize dan juga hingga saat ini, diperingati di Amerika Serikat pada bulan Januari.

Continue reading “Rosa Parks”

Julie & Julia Versiku

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat besar untuk Chyko, sahabat baik dari zaman putih biru yang rela langganan Netflix-nya kutebengi. Dia tahu kalau aku bisa membayar Spotify premiumku sendiri (meskipun dengan harga mahasiswa), tetapi terima kasih Tuhan atas banyaknya orang baik di sekitarku, dia tidak protes langganannya kutebengi setahunan terakhir.

Karena tebengan Netflix inilah aku berkesempatan menonton sebuah film berjudul Julie & Julia yang disutradarai oleh Nora Ephron. Film ini berasal dari memoir yang ditulis Julie Powell, penulis yang mengalami sebagian besar cerita yang diperlihatkan di film tersebut.

Di Amerika Serikat, ada sebuah buku resep yang digadang-gadang sebagai buku resep revolusioner yang banyak memiliki tips dan trik untuk orang Amerika belajar memasak kuliner Perancis, berjudul Mastering the Art of French Cooking. Pada masanya, belum ada buku serupa yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Karena itu, buku Julia Child ini menjadi semacam Alkitab untuk dunia memasak di Amerika pada tahun 1960an ini. Kemudian, ada seorang wanita bernama Julie, yang dikisahkan di fim tersebut, yang tinggal di New York di tahun 2002 dan dia terinspirasi dengan buku Julia Child tersebut. Karirnya sebagai penulis belum sempat dimulai, lalu kemudian dia memutuskan dia mencoba 500-an resep di buku Julia Child dalam setahun dan menuliskannya ke dalam blog.

Seperti yang bisa kalian tebak, formula dari film ini: buku + blog + memasak, sepertinya cukup ampuh untukku bertepuktangan, dan berpikir…

Apakah mungkin di masa depan aku bisa bertemu sosok yang menginspirasiku menulis blog ini?

Continue reading “Julie & Julia Versiku”