Satu: Bukan yang Pertama

Saya menformulasikan sebuah teori asal-asalan soal nama manusia. Tentu saja, saya bukan orang pertama yang mulai menyadari soal inti dari teori ini. Beberapa orang memberikan inspirasi soal kelahiran teori ini.

Continue reading “Satu: Bukan yang Pertama”

Advertisements

Kembali dari Rumah

Untuk ke-8 kalinya, aku pulang ke Indonesia. Ke rumah, dari Amerika Serikat. Kali ini, untuk pertama kalinya aku naik Emirates, setelah 2 kali sebelumnya naik Cathay Pacific, satu kali naik Air India + Silk Air, 2 kali naik Japan Airlines, 1 kali naik All Nippon Airways, dan 1 kali naik Qatar Airways. Sebuah kejutan, karena aku bahkan ingat naik apa saja selama 8 tahun terakhir (atau sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, jika memikirkan bagaimana di beberapa postingan sebelumnya, aku benar-benar terhipnotis oleh burung besi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya).

Meskipun aku sempat flu dan juga diare ketika pulang ke rumah selama beberapa minggu yang terasa sangat singkat itu, ketika aku berangkat, aku sangat bersyukur karena tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya yang disertai tangisan mengharu-biru dan rasa ditusuk-tusuk yang amat sangat ketika aku untuk terakhir kalinya melihat keluargaku di seberang jendela dari ruang check-in di Soekarno-Hatta.

Jika ada satu hal, yang membuatku lebih tenang dan tidak terlalu cengeng saat berangkat ke Amerika Serikat lagi, hal tersebut mungkin adalah bagaimana aku mulai sedikit berdamai dengan diriku sendiri.

Continue reading “Kembali dari Rumah”

Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat

Sebagai anak kemarin sore yang tiba-tiba diberi kartu kredit korporat untuk memudahkan perjalanan bisnis, aku kadang kegirangan sendiri. Sama dengan satu kredit lainnya yang kuterima untuk memudahkan pembelian barang-barang kebutuhan lab. Akuilah, membeli sesuatu, apalagi bukan dari kocekmu sendiri, meskipun itu hanya disposable pipette tips atau empat pak microscope glass slides, yang nggak bisa dimakan apalagi dikunyah, itu tetap menyenangkan. Sama dengan perjalanan bisnis. Mungkin karena aku belum sering-sering pergi, satu semester paling hanya dua-tiga kali. Kalau nanti sudah jadi konsultan yang kerjaannya terbang ke sana kemari tiap tiga hari sekali, setidaknya begitu kata temanku yang kerja sebagai konsultan di Washington, D.C., berada di tempat tinggal selama lebih dari 4 hari adalah sebuah kemewahan.

Anyway, perihal soal terbang wara-wiri ke sana kemari, sebagai manusia yang nggak mau rugi, aku sudah daftar sekian banyak Frequent Flyer program, berharap pada satu waktu aku akan terbang cukup sering/ cukup jauh untuk mendapat poin yang signifikan dan bisa ditukarkan dengan berbagai benefit, Wi-Fi gratis di atas awan, misalnya. Sedikit cerita soal Wi-Fi gratis: suatu waktu aku sangat girang karena sudah dapat poin yang cukup untuk menukarkan Wi-Fi gratis untuk perjalanan 15 jam dari Boston Logan ke Tokyo Narita. Hanya saja, entah mengapa, maskapai tersebut tidak memberikan kode penukaran atau apapun itu hingga hari ini. Musnah sudah impian menukarkan poin Frequent Flyer untuk suatu hal, apapun, yang konkret.

(Ketahuan sekali aku sudah lama tidak nulis. Topiknya ke mana-mana.)

Kembali ke topik awal: terbang. Bersama dengan kolega lain dari lab, aku biasanya mencoba mereservasi tiket dengan maskapai dan jam penerbangan yang sama dengan mereka, semata-mata untuk alasan convenience. Supaya di bandara tujuan, tidak saling tunggu-menunggu, dan bisa langsung ke tempat rental mobil dan setelahnya, ke tempat tujuan. Hanya saja, waktu reservasinya tak pernah pas, sehingga seringnya aku tak kebagian. Kemarin, akhirnya aku terbang di penerbangan yang sama dengan mereka. American Airlines, lebih tepatnya. Kolegaku yang satu ini punya strong belief, yang entah muncul dari mana, bahwa pelayanan American Airlines lebih baik dibandingkan Delta, apalagi United. Aku sendiri lebih senang JetBlue, lagi-lagi, karena alasan Wi-Fi gratis. Hehe.

Dia bilang, “Iya, entah kenapa aku selalu dapat boarding group 6. Nggak pernah lebih awal.”

Aku menilik boarding pass-ku. Sama-sama grup 6 juga. Meskipun aku tahu persis, aku baru booking tiketku seminggu yang lalu, dengan harga yang sudah agak mahal.

Lalu aku penasaran, atas dasar apakah maskapai penerbangan membagi grup-grup boarding ini? Seberapa efektif mereka? Seperti yang kita ketahui, sebagai orang yang selalu merutuk sendiri dalam hati karena orang yang duduk di depan butuh waktu lama menaruh barang-barang mereka di overhead compartment dan menahan antrean passenger yang duduk di belakang, kita tahu persis bahwa proses boarding ini jauh dari kata efektif.

Continue reading “Tidak Efektifnya Proses Boarding di Pesawat”

Truth and Fanaticism

Ada sebuah pertanyaan yang muncul di sebuah interfaith retreat yang aku ikuti akhir minggu lalu. Pertanyaan yang sama sebelumnya pernah muncul dalam berbagai kesempatan; aku pun sering ditanya pertanyaan ini oleh teman-temanku dari berbagai kepercayaan (atau ke-tidak-percayaan).

“Apa itu kebenaran? Bagaimana kita tahu hal yang kita percayai benar?”

Aku diam. Lalu temanku bertanya lagi, “Apa itu kebenaran? Tak perlu dijawab secara universal, karena tak ada orang yang tahu. Jawab saja berdasarkan pendapatmu, dan juga latar belakangmu.”

Aku masih terdiam. Doktrin dan pelajaran soal agama bertahun-tahun yang kudapatkan rasanya tak cukup untuk menjawab soal kebenaran.

Continue reading “Truth and Fanaticism”

Yang Lebih Mahal dari Ongkos Pertemanan: Waktu

Warganet heboh. Sebuah artikel yang dipublish di Vice, tentang betapa mahalnya ongkos menjaga pertemanan di Indonesia, ternyata benar-benar relatable untuk banyak orang. Banyak yang merasa, tapi tak banyak yang berinisiatif untuk hengkang dari status quo ini.

Hal ini, mengingatkanku pada lingkar pertemananku yang sudah berumur… 13 tahun. Lumayan lama, bukan? Posisi tiap orang berbeda-beda di lingkar pertemananku ini. Ada yang masih sekolah dan belum kerja, macam aku, yang masih jadi benalu untuk masyarakat, haha. Ada juga yang sudah mapan dan bergaji besar. Masalah yang dideskripsikan di artikel ini benar adanya, dan juga kami hadapi.

Continue reading “Yang Lebih Mahal dari Ongkos Pertemanan: Waktu”