Julie & Julia Versiku

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat besar untuk Chyko, sahabat baik dari zaman putih biru yang rela langganan Netflix-nya kutebengi. Dia tahu kalau aku bisa membayar Spotify premiumku sendiri (meskipun dengan harga mahasiswa), tetapi terima kasih Tuhan atas banyaknya orang baik di sekitarku, dia tidak protes langganannya kutebengi setahunan terakhir.

Karena tebengan Netflix inilah aku berkesempatan menonton sebuah film berjudul Julie & Julia yang disutradarai oleh Nora Ephron. Film ini berasal dari memoir yang ditulis Julie Powell, penulis yang mengalami sebagian besar cerita yang diperlihatkan di film tersebut.

Di Amerika Serikat, ada sebuah buku resep yang digadang-gadang sebagai buku resep revolusioner yang banyak memiliki tips dan trik untuk orang Amerika belajar memasak kuliner Perancis, berjudul Mastering the Art of French Cooking. Pada masanya, belum ada buku serupa yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Karena itu, buku Julia Child ini menjadi semacam Alkitab untuk dunia memasak di Amerika pada tahun 1960an ini. Kemudian, ada seorang wanita bernama Julie, yang dikisahkan di fim tersebut, yang tinggal di New York di tahun 2002 dan dia terinspirasi dengan buku Julia Child tersebut. Karirnya sebagai penulis belum sempat dimulai, lalu kemudian dia memutuskan dia mencoba 500-an resep di buku Julia Child dalam setahun dan menuliskannya ke dalam blog.

Seperti yang bisa kalian tebak, formula dari film ini: buku + blog + memasak, sepertinya cukup ampuh untukku bertepuktangan, dan berpikir…

Apakah mungkin di masa depan aku bisa bertemu sosok yang menginspirasiku menulis blog ini?

Continue reading “Julie & Julia Versiku”

Advertisements

Revolusi (Buku) Resep

Suatu hari, karena kesusahan menemukan resep ayam kecap spesifik yang kutemukan di internet sebelumnya dan berakhir sukses, akhirnya aku memutuskan, sudah saatnya aku punya buku resep pribadi. Sama seperti lab notebook yang kupunya untuk mencatat tetek bengek risetku, mengapa aku tidak punya ‘lab notebook’ sendiri untuk urusan masak-memasak?

labnotebook_1
Lab notebook. Mengapa tidak membuat ‘kitchen notebook’?

Continue reading “Revolusi (Buku) Resep”

Persona Maya

Aku tidak hanya ingin memberikan update singkat bahwa semalam aku tidur dengan baik-baik saja, setelah minum kopi banyak sekali. Mungkin aku lelah. Bersinggungan dengan banyak sekali orang selama seminggu terakhir tentu saja melelahkan. Aku melihat sekilas kartu nama-kartu namaku yang masih tersusun rapi. Awal minggu ini, sebelum konferensi dimulai, aku sudah mengisi ulang kotak kartu namaku. Jumlah paling sedikit yang bisa kupesan dua tahun lalu dari FedEx adalah 1000 kartu nama. Sudah tahun ketiga, dan aku mungkin baru berbagi kurang dari 50 kartu nama. Apa aku tidak berbakat?

Continue reading “Persona Maya”

Aku Minum Kopi

Mereka yang kenal aku dengan sangat baiknya, pasti tahu satu hal yang sangat penting: aku tidak minum kopi. Sengantuk apapun aku hari itu, sesedikit apapun aku tidur malam sebelumnya. Matilah siapapun yang mengajak kencan pertama di coffee shop tanpa opsi teh di menunya. “Aku bawa air putih sendiri,” adalah penolakan halus yang sebenarnya fatal, jika seorang perempuan menjawab seperti itu setelah ditanya, “Mau minum apa?” di sebuah coffee shop.

Tidak, aku bukan ingin memberikan pelajaran etika kencan pertama hari ini.

Continue reading “Aku Minum Kopi”

Tiga: Berapa Kali Tawaran Hingga Diterima?

Sudah dua minggu lewat sejak bulan purnama terakhir, ketika aku, yang sedang senang-senangnya punya teman yang punya lisensi sailing di Sungai Charles, ikut nebeng moonlight sailing, alias sailing malam-malam disinari cahaya bulan purnama. Berarti percakapan ini terjadi sekitar satu bulan 2 minggu yang lalu, ketika aku ikut nebeng moonlight sailing pertama kalinya. Terima kasih untuk M & J yang bersedia aku tebengi di 2 sesi sailing terakhir, sebelum libur panjang sailing dimulai karena musim dingin sudah di depan mata.

M, salah satu kenalanku di sebuah sesi coffee hour asrama yang berakhir dengan kiriman PDF via surel tentang perjalanan lengkapnya ke Danau Toba dan Yogyakarta ketika menjadi mahasiswa pertukaran di Singapura, serta kisah panjang mengenai diskriminasi yang dia terima di imigrasi UEA karena salah satu stempel paspornya berbahasa Ibrani, malam itu berjalan pulang dari sailing pavilion bersamaku. Sepedaku tidak kunaiki, karena aku berjalan pulang bersamanya. Karena aku harus mengikatkan tali sepatuku yang terlanjur terurai, aku meminta tolong M untuk memegangi sepedaku sejenak.

Ketika sudah beres, aku menarik sepedaku kembali, tetapi M berkata, “Sudah, aku saja yang membawanya.”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa kok.”

“Cuacanya dingin. Kamu tidak bawa sarung tangan ‘kan? Tak apa-apa, sini kubawa sepedanya.”

“Hei, tenang saja! Aku bisa bawa sepedaku sendiri, kok,” begitu komentarku. M akhirnya menyerah dan memberikan sepedanya padaku. Dia masih bertanya apakah aku tidak apa-apa, yang kujawab dengan  tegas, “Nggak apa-apa, kok. Aku bisa bawa sepedaku sendiri.”

“Maaf, bukan apa-apa. Kadang beberapa orang Indonesia mengatakan ‘tidak’ untuk sesuatu yang sebenarnya adalah ‘ya’,” begitu komentarnya. “Kadang aku tidak tahu, harus menunggu berapa ‘tidak’ sampai aku tahu bahwa itu benar-benar sebuah ‘tidak’ dan bukan ‘ya’ yang terselubung.”

Continue reading “Tiga: Berapa Kali Tawaran Hingga Diterima?”

Kronologi Kruk

Halo! Perkenalkan lagi, namaku Titan, dan aku lumayan (baca: sangat) ceroboh. Inilah kumpulan 24 jam terakhir dari kejadian sprained ankle yang kualami. Pesan bijak yang kupelajari selama 24 jam terakhir adalah berikut ini:

  1. Kamu boleh mengkhawatirkan temanmu, tapi kamu juga harus mengkhawatirkan dirimu sendiri (baca: hati-hati).
  2. Jangan pernah sungkan meminta bantuan temanmu. Jangan pernah. Apalagi kalau kamu tinggal sendiri. Mereka tak akan keberatan.
  3. Dikasihani itu agak menyakitkan. Maksudku, empati itu kan hal normal soal perihal manusia. Tetapi dikasihani terus menerus juga nggak terlalu menyenangkan.
  4. Tapi jangan sampai karena takut dikasihani, kamu ‘terlalu keras’ dengan diri sendiri. Yang kembali lagi ke poin awal nomor 1: kamu harus khawatirkan dirimu sendiri. Put your-(safety)-self first before anybody else.

Berikut ini kejadian sehari terakhir. Spesial untuk bapak, ibu di rumah, serta kakak dan adik: Tolong jangan khawatir. Ini rentetan kejadiannya, jangan minta aku menceritakan lagi. Terima kasih.

photo_2018-10-23_15-14-04
Untung aircast-nya warna hitam, jadi tidak begitu kelihatan.

Continue reading “Kronologi Kruk”

Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?

Manusia sering kali tidak tahu kapan harus memprioritaskan sesuatu. Pernyataan ini kuamini sekali lagi hari ini, karena bukannya belajar untuk ujian oral menjadi Ph.D. candidate, aku malah tiba-tiba kepikiran satu hal yang sangat iseng.

Aku tiba-tiba teringat suatu percakapan, “Di Amerika Serikat, lebih banyak bayi dilahirkan di bulan November, karena 9 bulan sebelumnya, bulan Februari, adalah bulan Valentine, di mana orang-orang mengekspresikan kasih sayang mereka lebih terbuka.”

Benarkah begitu faktanya? Berdasarkan sebuah riset yang dilakukan oleh Amitabh Chandra di Harvard University (datasetnya cukup jadul, dari tahun 1973-1999, so take it with a grain of salt), sepertinya kelahiran di bulan November itu tergolong standard. Faktanya, lebih banyak bayi yang lahir di bulan September (15 besar tanggal kelahiran dengan frekuensi tertinggi ada di bulan September, berdasarkan riset tersebut). Artinya, banyak bayi yang ‘dimulai’ di bulan Desember-Januari. Well, kalau dipikir-pikir, Desember-Januari adalah musim dingin dan juga musim liburan, so that makes a lot of sense!

Bagaimana dengan di Indonesia? Adakah hubungan bulan baik/ kurang baik pernikahan dengan jumlah bayi yang dilahirkan dalam bulan tertentu? Spoiler, meskipun dataset-nya cukup kecil (aku hanya bisa menemukan data jumlah kelahiran penduduk DKI Jakarta tahun 2014 dan 2015), ada hal yang cukup menarik yang bisa disimak.

Enjoy my little (insignificant) exploration. Sebelumnya, disclaimerit’s just for fun. Don’t take it too seriously.

Continue reading “Adakah Hubungan Bulan Baik/Buruk Pernikahan dengan Jumlah Kelahiran Bayi di Jakarta?”